Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Pekerjaan baru Kiran


__ADS_3

Sementara itu, di kota lain. tepatnya di kota yang saat ini Kiran tempati. Hari sudah beranjak siang, tetapi Kiran masih berjalan untuk mencari pekerjaan. Sudah berapa kali toko dan rumah makan yang ia kunjungi. Namun tidak ada yang mau menerimanya bekerja.


"Kemana lagi aku harus mencari pekerjaan?" gumam Kiran sambil menyeka keringat di dahinya.


Saat Kiran hendak melanjutkan perjalanan. Tidak di sangka - sangka dari arah belakang seorang pria berpakaian hitam berlari kencang dan menarik tas selempang Kiran. Kiran begitu terkejut dan hampir saja tersungkur jika tidak berpegangan pada tiang lampu jalan.


Tolong! Tolong! Tolong!


Kiran berteriak sekuat tenaga. seketika puluhan orang langsung mendekatinya. dan sebagian lagi ada yang mengejar sang pencopet. Kiran menangis tersedu - sedu. Semua benda yang ia miliki berada di dalam tas tersebut. bahkan sebagian uang yang ia ambil dari kartu Arya pun berada di dalamnya.


Kiran tertunduk lemas di pinggir jalanan. matanya menatap kosong ke arah depan. jantungnya berdetak kencang karena rasa terkejut dan juga panik.


"Mbak baik - baik saja?" tanya seorang gadis yang berusia sekitar dua puluh tahun itu.


Kiran tidak menjawab ia hanya menggeleng.


"Mbak perlu ke rumah sakit?" tanya gadis itu lagi.


" Ti..Tidak perlu, A..Aku baik - baik saja. A..Aku..." ucapan Kiran terhenti dan terganti dengan isak tangisnya, Kiran merasa benar - benar merasa begitu nelangsa dalam menghadapi ujian demi ujian yang ia dapatkan.


"Kalau begitu minum ini dulu mbak. sepertinya mbak kelelahan, wajahnya sampai pucat begitu."


" Ya terima kasih banyak." balas Kiran. Setelah itu diapun meminumnya dengan rakus. setelah beberapa tenggakan, perasaan Kiran mulai membaik.


" Terima kasih banyak, Siapa nama mu?" tanya Kiran sambil menatap ramah ke arah gadis muda di sebelahnya.



" Namaku Citra, kalau Mbak?"


"Kiran." jawab Kiran singkat


Citra mengangguk pelan. ia duduk di dekat Kiran Sambil menunggu orang - orang yang mengejar pencopet datang. Namun sayangnya mereka datang dengan tangan kosong. Si pencopet berhasil kabur.


" Sebenarnya kamu mau kemana mbak?"


"Aku mau cari kerja tapi sedari tadi tidak ada yang buka lowongan" jawab Kiran

__ADS_1


"Wah kalau begitu kebetulan sekali. Di tempatku bekerja buka lowongan, mbak. Tapi Ya, hanya sebagai pelayan restoran saja. mbak bersedia?"


" Ya, aku bersedia terima kasih banyak ya Citra." ucap Kiran dengan tulus.


" Sama - sama Mbak, ayo sekarang aku antarkan ke tempatnya."


Kiran menganggukan kepalanya setelahnya mereka berdua pun berjalan menuju ke sebuah restoran besar di pusat kota.


Saat ini Kiran sudah berada di testoran yang cukup besar. dan suasanya terlihat begitu ramai, Sehingga Kiran bisa melupakan masalahnya sejenak.


" Dia siapa Cit?" tanya seorang pria yang berpakaian rapi. wajahnya tampak manis dan terlihat kalem.



"Dia Kiran pak. katanya sedang mencari pekerjaan jadi saya membawanya kesini. tidak apa - apa kan pak?" tanya Citra sambil menatap atasannya tersebut.


" Tidak apa - apa ya sudah kamu lanjutkan kerja sana!."


"Baik pak," jawab Citra singkat.


"Jadi siapa nama lengkapmu?" tanya Angga sambil menyerahkan selembar formulir untuk di isi Kiran.


"Nama saya Zivanna Kirannia. Apa saya boleh bekerja di sini pak? tapi maaf saya tidak punya dokumen - dokumen untuk mendaftar kerja" ucap Kiran jujur.


"Tidak masalah. lagi pula restoran ini memang sengaja di bangun untuk membantu pengangguran." balas Angga sambil terkekeh pelan.


"T..Tapi saya sedang Hamil. apakah saya tetap bisa bekerja disini?"


"H..Hamil? memangnya kamu sudah menikah? lalu dimana suamimu? dan kenapa kamu nemilih bekerja disini" tanya Angga penasaran.


Kiran menunduk dalam. lagi - lagi pertanyaan tentang suami membuatnya meradang rasa rindu yang terpendam untuk Darren semakin membuncah. Hingga tanpa sadar setetes air mata mulai turun membasahi pipinya. Kiran merasa lelah, rasanya ingin kembali dan memeluk Darren. Namun, di sisi lain hatinya begitu ragu Kiran juga takut kalau suaminya sudah menemukan pengganti atau bahkan telah menjalin hubungan dengan Shelvi.


"Tuan Suami,Apakah sekarang kau merindukanku juga" batin Kiran.


Melihat Kiran yang diam dan menunduk. mendadak Angga merasa bersalah. ia lekas beranjak dari tempat duduknya lalu menepuk pelan pundak Kiran.


"Maaf, saya tidak bermaksud membuatmu bersedih. jangan menangis!" kata Angga. ketika mendengar isak tangis Kiran.

__ADS_1


Angga panik, pria berwajah manis tersebut lantas meraih sebotol air mineral dan menyerahkannya pada Kiran. Namun, kiran menggelengkan kepalanya.


"Saya benar - benar minta maaf jangan menangis lagi! baiklah mulai besok kamu bisa mulai bekerja di sini," ucap Angga. ia benar - benar panik, sebab baru kali ini ia menangani calon pegawai yang menangis di hadapannya.


mendengar ucapan Angga, Kiran mendongak. matanya sedikit berbinar meski air matanya tampak menggenang di pelupuk matanya. "B..Benarkah? saya di terima kerja di tempat ini pak?" tanya Kiran yang mulai antusias.


"Tentu saja, kamu boleh bekerja di sini tapi aku harap kau jangan menangis! setelah ini saya janji tidak akan bertanya lagi tentang hal pribadi kepadamu." ucap Angga


Kiran mengangguk rasa bahagianya membuncah hingga tanpa sadar ia berangsur memeluk Angga. tangis Kiran semakin terdengar.Hingga membuat Angga akhirnya menyerah dan membalas pelukkan Kiran.


"saya tidak mengerti kenapa saya tidak bisa marah denganmu. selama ini saya tidak percaya dengan cinta pada pandangan pertama. tapi mungkin...." ucapan Angga sontak terhenti ketika tiba - tiba Kiran melepaskan pelukkanya.


"E..Eh maaf pak, saya tidak bermaksud untuk bertindak yang tidak sopan, Saya...." ucap Kiran gugup.


"Tidak masalah.sekarang kamu bisa pulang. dan besok bisa kembali kesini." kata Angga sambil mengacak rambut Kiran.


Kiran menganggukan kepalanya pelan. setelah itu ia pun buru - buru cepat keluar sambil menepuk keningnya " Meski sama laki - laki tapi rasanya berbeda Tuan suami. aku merindukanmu." gumam Kiran sedih.


****


Sementara itu, Saat ini Darren sedang berada di dalam mobil dan menuju perjalanan untuk pulang kerumahnya karena sudah hampir tiga minggu lebih rumahnya terbengkalai. oleh karena itu, pulang dari kantor Darren langsung menuju kerumah pribadiya. selama perjalanan Darren banyak memikirkan sesuatu.


"Aku sangat merindukanmu wanita bodoh. sebenarnya kamu pergi kemana?" lirih Darren sambil menatap pemandangan jalan raya dari balik kaca mobil.



Sesampainya dirumah, Darren menghela napas panjang. tatapan matanya menatap pada seluruh ruangan. Hampa itulah yang dirasakan Darren ketika memasuki kamar.


Darren tertunduk lemas di tepi ranjang. rasa kehilangan semakin terasa ketika melihat barang - barang milik Kiran. Darren menunduk dalam tangannya saling bertaut.


"Kiran apa kamu tahu? kalau aku benar - benar tersiksa. Aku lebih memilih kamu diam mengabaikanku dari pada seperti ini. Aku tahu aku salah, tapi ini benar - benar menyiksaku Ran" lirih Darren sambil menggengam cincin pernikahan Kiran.



**Berhasilkah kedua insan yang terpisah itu bertahan?


Jangan lupa tinggalkan Komentar, Like dan Vote**.

__ADS_1


__ADS_2