Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Gara - gara Datang Bulan


__ADS_3

Darren berkacak pinggang lalu menatap sekeliling. Hingga tanpa sengaja ia melihat ke arah kalender yang terpasang di dinding. Darren menghela napas pelan, kini ia tahu apa yang membuat Kiran berubah menjadi mejengkelkan.


'Pantas saja ini jadwal tamu bulanannya datang,' batin Darren.


"Sayang..." panggil Darren sambil berjongkok di depan Kiran.


"Jangan panggil aku sayang - sayang! Aku benci sama kamu, Mas!" Ucap Kiran yang masih kesal dengan ucapan Darren.


Darren menghela napas pelan. Setelah itu, ia menggenggam tangan Kiran. Kali ini Darren mencoba membujuk Kiran.


"Oke, sekarang kamu katakan mau apa, hm? Aku janji akan menuruti semua permintaan kamu," ucap Darren akhirnya mengalah.


Kiran tidak langsung menjawab. Ia justru menunduk lalu tersenyum malu - malu. Tentu saja karena hal itu, Darren mendadak merinding.


"K..kamu mau apa, Ran?" tanya Darren curiga.


"M.... mas aku mau kamu!" jawab Kiran sambil tersenyum malu.


"What?!" Ucap Darren kaget.

__ADS_1


"Kamu nggak usah aneh - aneh, Ran! Ini udah pagi. Semalam aku ajakin kamu, kamu kan, nggak mau. Jadi pagi ini aku udah nggak selera." kata Darren sambil menatap datar ke arah Kiran.


"Loh, memang kamu pikir aku mau kamu karena apa, Mas? Bukan karena mau itu, tapi...." Kiran sengaja menggantungkan ucapannya. Ia tersenyum miring sehingga membuat Darren pun menjadi lebih waspada.


Darren menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia mendadak takut dengan perubahan mood Kiran. Apalagi justru saat ini Kiran justru sedang tersenyum aneh setelah ia marah dan menangis tadi.


"Jadi kamu apa?" tanya Darren sekali lagi. Kali ini ia berdiri dan berkacak pinggang sembari berdiri di depan Kiran.


"Aku mau kamu di rumah aja jagain Arka. Hari ini aku mau pergi bersama Luna, katanya dia mau main ke rumah, Mas Arya." ujar Kiran panjang lebar.


"Apa?! Tidak - tidak, aku tidak akan membiarkan kalian berdua pergi. Enak saja kalian berdua enak - enakkan pergi dan aku yang harus menjaga Arka?" ucap Darren tidak setuju.


"Mas, aku hanya menemani Venus, saja, kok" setelah itu aku janji akan pulang," kata Kiran. Ia justru mengenggam tangan Darren dan menatap penuh harap.


"Kalau kamu izinin aku sama Arka ikut nggak apa - apa. Tapi kalau hanya kamu dan Luna. Wahhh..., jangan harap kamu bisa pergi dari kamar ini, Sayang!" ucap Darren.


"Sayang? Kok kamu jahat? Padahal kamu kalau mau pergi - pergi juga sendiri. Aku juga tidak pernah di ajak." jawab Kiran yang tak mau kalah.


"Loh, aku kan kerja. Memangnya kamu mau ikut kerja sama aku,hm?" balas Darren menjelaskan.

__ADS_1


"Ah, terserah deh. Kamu memang mejengkelkan. Aku kesal sama kamu, Mas," kata Kiran. Ia bersedekap kemudian berbalik


dan membelakangi Darren.


Melihat Kiran yang kembali marah, Darren pun memghembuskan napas panjang. Ia mendekati Kiran kemudian memeluknya dari belakang. Darren menumpukkan dagunya pada bahu Kiran.


"Aku hanya tidak ingin kamu berdekatan dengan pria mana pun. Selain aku, Ran. Aku cemburu kalau kamu dekat - dekat dengan Arya.," bisik Darren di telinga Kiran.


"Cemburu kenapa sih, Mas? Mas Darren, kan. Kakak aku? Lagi pula dia juga sedang dekat dengan Sepupumu Luna, kan?" jawab Kiran.


Darren berdecak, lalu membalikkan tubuh Kiran. Darren memegang kedua pundak Kiran dan menatapnya tajam.


"Justru karena itu sayang, selain aku tidak suka kalau Kamu dekat - dekat dengan Arya, aku juga tidak mau kalau sepuluku Luna sampai jatuh cinta sama dia. Astaga, bisa gila aku kalau punya adik ipar modelnya seperti dia," ujar Darren.


"Loh, bukannya kamu memang sudah gi...."


Kiran memutar bola matanya. Ia kesal karena lagi - lagi, Darren mengecupnya tanpa permisi. Namun, meski begitu, diam - diam ia menyukai tindakan Darren.Bahkan kini ia pun mulai membalas ******* di bibir Darren


Bersambung..

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan juga hadiahnya


__ADS_2