
Kiran mengalungkan kedua lengannya pada leher Darren. Ia memejamkan mata untuk menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh Darren.
"Di rumah aja ya! Kalau kamu memang ingin pergi, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Tapi jangan sekali - kali kamu pergi untuk menemui Arya!" Perintah Darren.
Kiran menghela napas pelan. Di tatapnya kedua mata Darren yang begitu meneduhkan baginya. Kiran mengulas senyum tipis kemudian menganggukan kepalanya.
"Iya, tapi temani aku ya, Mas." ucap Kiran.
"Tentu saja, Sayang. Mari kita buat momen indah bertiga," balas Darren sambil memeluk pinggang Kiran.
Keduanya saling berpandangan dan tersenyum, Darren merasa lega karena Kiran kini sudah tidak marah - marah padanya. Selain itu, ia juga senang karena mendapatkan bonus berupa bibir Kiran - eh...
"Ngomong - ngomong, kamu sedang datang bulan, Ran." tanya Darren setelah keduanya sama - sama duduk di tepi ranjang.
"Tidak, Mas. Harusnya hari ini jadwalnya aku datang bulan. Tapi, entah kenapa sekarang aku telat. Tapi mungkin sebentar lagi, aku akan mengalami itu, soalnya aku sudah ngerasain badanku pegel - pegel dan tidak nyaman.
Mendengar ucapan Kiran, mata Darren berbinar - binar. Senyum cerah pun seketika terukir di bibirnya
"Serius, kamu belum datang bulan, hm?" tanya Darren lagi memastikan.
"Iya serius, Mas? Memangnya kenapa sih?" jawab Kiran bingung.
"Ya, tidak apa - apa sih, aku pikir kamu datang bulan soalnya kamu tiba - tiba berubah." balas Darren
"Hm, kalau itu sih, aku tidak tahu kenapa. Rasanya sedikit aneh, aku merasa ingin menangis tetapi tidak tahu karena apa?" jawab Kiran
"Aishh, aneh sekali. Tapi tidak apa - apa aku senang sekali, karena kali ini kamu tidak datang bulan," ujar Darren sembari tersenyum miring menghadap Kiran.
"Loh kenapa?" tanya Kiran bingung.
Darren tidak langsung menjawab ia justru mendekati Kiran kemudian mengecup tangannya. Kiran mengernyitkan dahi lalu menatap heran ke arah Darren. Namun, tidak lama kemudian ia mulai paham dengan apa yang di inginkan oleh Darren.
"Ini masih pagi, dan bahkan Arka belum tidur, Mas? Nanti malam saja ya." bujuk Kiran sembari mencoba menjauhi Darren.
__ADS_1
Namun, tentu saja, Darren tidak akan tinggal diam. Ia menarik tangan Kiran kemudian mendudukkannya di atas pangkuan. Darren memeluk erat pinggang Kiran.
"Tapi aku maunya sekarang, Sayang?" ucap Darren manja.
"Mas...."
Tok! Tok! Tok!
Kiran buru - buru beranjak dari pangkuan Darren. Ia merapikan bajunya yang berantakan, kemudian berjalan menuju pintu. Kiran menghembuskan napas pelan, kemudian membukakan pintu.
"Eh... Mama, ada apa, Ma?" tanya Kiran sembari tersenyum ramah saat melihat Helena berdiri di depan pintu.
"Mama mau bawa Arka jalan - jalan. Tadi Ayah ngajak Mama pergi. Jadi sekalian saja Mama bawa Arka. Biar, kamu sama Darren bisa jalan berdua.
"Tapi memangnya tidak apa - apa, Ma. Aku takut nantinya Arka rewel." jawab Kiran takut merepotkan ibu mertuanya itu.
"Arka kan anak baik dia nggak mungkin rewel. Nanti kamu siapin Asi aja buat Arka kalau dia haus." balas Helena.
Kiran menganggukan kepala. Kemudian mengajak Helena untuk memasuki kamar.
"Pergi kemana, Ma? Jangan terlalu jauh. Dan jangan bawa Arka ke tempat ramai dulu." jawab Darren.
"Mama tahu, lagian Mama cuma ke taman kota aja, kok," balas Helena sambil tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu," balas Darren kemudian ia tersenyum dan merasa peluang untuk 'Memakan' Kiran semakin besar.
Setelah kepergian Helena dan Kenzo, kini Darren mengajak Kiran menuju kamar. Sedari tadi senyum manjanya tidak pernah pudar dari bibir sehingga membuat Kiran mati - matian menahan diri untuk tidak kabur.
"Ran, Arka sudah Mama. Sekarang waktunya kita untuk melepas rindu," ujar Darren sembari menaik turunkan alisnya.
"Nggak usah macem - macem deh, Mas! Aku lg nggak enak badan ini. Badanku pegel - pegel," ujar Kiran sembari duduk di tepi ranjang. Ia merapikan barang - barang milik Arka. lalu mengembalikkan ke tempat semula.
"Justru kalau kita melakukan itu, pegal - pegalnya bisa hilang, Ran." jawab Darren
__ADS_1
Kiran memuar bola matanya malas dan berkata, " Teori dari mana itu, Mas?"
"Teori dari akulah. Ayolah sayang, memangnya kamu tidak kasian sama aku, hm? Dari semalaman loh aku menahannya" ujar Darren. Ia menatap sayu ke arah Kiran.
Kiran menatap Darren. Ekspresinya begitu datar, tetapi detik selanjutnya ia mengangguk malu - malu sembari tersenyum dan merentangkan tangannya.
"Aku juga menginginkan kamu, Mas" bisik Kiran. Ia memeluk Darren erat.
Darren tersenyum lembut. Ia menyingkap rambut Kiran yang terurai menutupi leher. Setelah itu, ia pun mulai mengecupi seluruh permukaan leher Kiran hingga menimbulkan bercak kemerahan.
Kiran memejamkan mata, kakinya mendadak lemas karena sentuhan Darren yang benar - benar memanjakkan titik sensitifnya. Kiran mengerang tertahan sembari meremas rambut Darren.
Darren semakin membara setelah mendengar ******* dari bibir Kiran. Tangannya yang sedari tadi memeluk pinggang Kiran, kini mulai berpindah.
Darren tersenyum manis, sebelum akhirnya dia membaringkan Kiran di atas ranjang. Tepat saat Darren ingin naik ke atas ranjang, dering ponselnya terdengar.
Darren berdecak kesal, ia berusaha mencoba mengabaikannya.
"Di jawab dulu, Mas! Siapa tahu aja itu dari orang yang penting," ucap Kiran
Darren menghela napas pelan, setelah itu ia pun mengambil ponselnya dari atas nakas.
Darren mengernyitkan dahi, saat melihat nama Bastian tertera di layar ponselnya.
"Halo, Om. Ada a...."
"Cindy melarikan diri, Darren!" Ucap Bastian langsung
"Apa?!" Darren sangat terkejut mendengar ucapan Bastian. Kakinya mendadak lemas setelah mengetahui Cindy telah melarikan diri.
Bersambung..
Kira - kira bagaiman Cindy bisa melarikan diri? Adakah ada orang yang membantunya? Atau mungkin itu rencana diam - diam yang ia susun?
__ADS_1
Woahh..., nantikan terus kisah mereka ya..!
Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan hadiahnya. Kalau berkenan tekan tombol like.... like.. like yang banyak yah.