Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Kondisi Kiran


__ADS_3

Suasana pagi di rumah sakit cukup mencekam. Karena sudah tiga hari ini Kiran tak kunjung sadar dan gerimis, semakin membuat suasana tidak nyaman. Terlebih lagi bagi Darren yang sedari tadi tampak gelisah.


Darren berjalan mondar - mandir di brankar Kiran. Entah mengapa, hari ini ia begitu gelisah saat teringat dengan putranya. Darren merasa ada sesuatu yang buruk telah terjadi.


" Tapi, setiap hari aku selalu melihatnya masih baik - baik saja. Jadi dia tidak mungkin kenapa - kenapa, Kan." gumam Darren. Ia berkacak pinggang sambil memegangi kepalanya yang mendadak pusing.


Darren menghembuskan napas panjang ia mencoba menatap ke arah Kiran dan mencoba untuk bersikap tenang. Ia kembali duduk di brankar dan menggengam lembut tangan Kiran. Darren menunduk. Ia mengecup lembut tangan Kiran yang terasa begitu lemah.


"Aku sangat membutuhkanmu, Ran. Aku tidak bisa menahan semua ini sendirian." lirih Darren. Ia merasa hatinya begitu hampa, seolah - olah tidak ada kebahagiaan lagi di dalamnya.


Darren termenung sembari menatap sendu ke arah Kiran. Menurut dokter, kondisi Kiran sudah mulai membaik. Namun, sayangnya Kiran tidak kunjung sadar. Kiran terlihat begitu lelap dan enggan membuka matanya.


"Kamu tidak ingin melihat anak kita, Ran? Dia pasti sangat membutuhkan kamu, Sayang. Ayo bangunlah! Jangan seperti ini!" ujar Darren lagi. Air matanya merebak membasahi pipi.


Napas Darren tercekat dan dadanya sesak, seolah - olah ada batu yang menghimpitnya.


"Apa mimpimu jauh lebih menyenangkan, Ran? Apa kamu lebih bahagia dengan mimpimu itu?" tanya Darren, yang tentunya tidak akan mendapatkan jawaban apapun.


Darren tersenyum sambil menghela napas pelan. Ia memejamkan mata sejenak sembari membawa tangan Kiran untuk di dekatkan pada dadanya.


"Aku tahu kamu tidak akan meninggalkan aku, kan? kamu pasti sedang berjuang untuk kembali bersamaku dan juga anak kita, kan?" gumam Darren. Senyumnya semakin lebar meski air mata juga semakin membasahi pipinya.


" Darren, bagaimana dengan keadaan Kiran?"


Darren tersentak lalu menoleh ke arah sumber suara. Ia tersenyum lega saat melihat Helena berdiri di ambang pintu. Darren melepaskan genggaman tangannya dengan lembut.


Setelah itu, tanpa banyak bicara lagi. Darren beranjak dari duduknya. Ia berjalan cepat menghampiri Helena dan memeluknya. Tangis Darren pecah seketika. Bahunya bergetar hebat saat merasakan pelukkan hangat sang mama.


"Ma, Aku sangat takut," bisik Darren. Ia menangis seperti anak kecil yang sedang kehilangan sesuatu. Namun, Darren sama sekali tidak peduli. Saat ini dia hanya ingin nengungkapkan seluruh keresahannya pada Helena.


"Apa yang sangat kamu takutkan, Nak? Semuanya baik - baik saja, kan?" tanya Helena. Ia mengusap lembut punggung Darren untuk memberikan sedikit ketenangan.


Darren menggelengkan kepala. Dan berkata, "Semuanya tidak baik - baik saja, Ma. Kiran belum juga sadar dan Anakku kondisinya lemah. Sekarang aku tidak berdaya, Ma. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Darren sambil melepaskan pelukan Helena.

__ADS_1


Helena menghembuskan napas pelan. Matanya memanas saat melihat keadaan Darren. Helena tahu, meski Darren selalu bersikap dingin dan kuat terhadap orang lain, tetapi hatinya begitu lemah dan rapuh jika berada di dekatnya.


"Kamu tidak perlu melakukan apapun. Jangan bertindak bodoh seperti Waktu itu! Kamu cukup berdoa untuk kesembuhan Kiran." ia menatap lekat wajah Darren yang lebih tinggi darinya.


Darren mengernyitkan dahinya. "Dari mana mama tahu kalau waktu itu, Aku....."


Darren menghembuskan napas panjang. Ia bersedekap.


"Tentu saja dari Om kamu? Memang kamu pikir dari siapa lagi, hm?"


Darren tersenyum tipis. Suasana hatinya jauh lebih tenang sekarang setelah berbicara dengan Helena.


"Rasanya aku marah sekali, Ma. Aku tidak terima karena Kevin dengan mudahnya memanipulasi semua hingga akhirnya Vanesha jadi tidak bersalah."


"Tapi bukan berarti kamu boleh melakukan hal itu, Darren. Jangan bertindak hanya untuk mengalahkan sebutir debu sepertinya." Bersikaplah layaknya seorang yang berkelas!" ucap Helena. Suaranya begitu tegas sehingga membuat Darren pun sedikit terkejut. Pasalnya, selama ini Helena selalu bersikap baik hati dan juga lembut. Namun, kenapa sekarang berubah?


Entah hanya perasaan Darren saja atau memang benar, tetapi yang jelas Darren melihat pancaran kemarahan dari kedua manik mata Helena.


"Benar kamu tidak perlu mengurusi orang seperti mereka. Ngomong - ngomong, cucu mama perempuan atau laki - laki?" tanya Helena ia mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas hal yang membuatnya marah.


"Dia laki - laki, tapi tubuhnya masih sangat lemah, Ma. Aku juga takut sesuatu yang buruk terjadi padanya." ujar Darren.


"Jangan bicara seperti itu, Menantu dan juga cucu Mama pasti akan baik - baik saja," kata Helena sembari menepuk pundak Darren pelan.


Darren mengangguk sambil mengaminkan ucapan Helena. Ia duduk di sofa sambil menatap Helena yang sedang duduk di samping Kiran.


Darren meringis sambil memijit pangkal hidungnya. Kepalanya tiba - tiba berdenyut dan terasa sedikit pusing. Karena sejak semalam ia tidak tidur.


"Kenapa Mama baru datang sekarang?" tanya Darren setelah beberapa saat hanya terdiam.


"Sebenarnya dari kemarin sudah sampai, Darren. Tapi Papa kelelahan jadi kami memutuskan datang sekarang," jawab Helena.


Darren menganggukan kepalanya. Dan berkata " Lalu Papa dimana sekarang?"

__ADS_1


"Ada di luar sepertinya sedang berbicara dengan adikmu, Daniel."


"Kalau begitu aku mau keluar dulu ya, Ma. Tolong jaga Kiran"


"Ya, kamu tenang saja. Mama pasti akan menjaga Kiran dengan baik."


Darren tersenyum tipis kemudian beranjak dari duduknya. Setelah itu, ia berlalu pergi meninggalkan Helena dan juga Kiran.


"Bagaimana keadaan Kiran, Darren. Sudah ada kemajuan?" tanya Kenzo. Ketika melihat Darren keluar dari kamar rawat inap Kiran.


"Belum ada perubahan apa - apa, Yah. Karena Kiran masih memejamkan mata.". jawab Darren sambil duduk di samping Kenzo.


"Kamu yang sabar, Mungkin Kiran sedang beristirahat dari penatnya hidup setelah menikah denganmu," gurau Kenzo, ia terkekeh sambil menepuk pundak Darren.


Darren memutar bola matanya malas, Meski terkenal dingin, tetapi Kenzo sering memberikan lelucon kepadanya atau pun Daniel. Yah, meskipun leluconnya sama sekali tidak lucu.


"Dimana Daniel, Yah?" tanya Darren


"Dia sudah pulang katanya ada urusan penting."


Hening. Keduanya memilih diam dan sibuk dengan pikirannya masing - masing. Hingga Kenzo pun berinisiatif membuka percakapan dengan Darren.


"Bagaimana keadaan anakmu?"


"Sampai saat ini, Kondisinya masih lemah, Yah. Kata dokter butuh beberapa minggu lagi untuk benar - benar memulihkan keadaannya.


"Kalau begitu syukurlah. Jangan lupa selalu berdoa! Dan Ya....., bagaimana Kemarin? Kamu kalah atau menang saat berkelahi dengan Kevin?"


"Menurut Ayah?" Darren bersedekap. Berbeda dari Helena yang sering kali melarangnya berbuat kasar. Kenzo justru sebaliknya. Pria tua itu sering kali mendukungnya jika ada perseteruan dengan Kevin.


Terima kasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak typho.


Jangan lupa, like komen dan vote.

__ADS_1


__ADS_2