
Tangan Darren terkulai lemah. Kondisinya pun semakin memburuk. Namun, sekuat tenaga ia mencoba bertahan untuk terus terjaga. Meskipun, ia sudah berpikir jika dirinya tidak mungkin selamat.
Suasana di rumah Tua pun semakin memanas. Semuanya tidak terkendali bahkan sudah banyak orang berjatuhan dan tidak sadarkan diri.
Darren membuka matanya, ia tersenyum lega saat melihat Alex dan Bastian baik - baik saja. Namun, kondisi Alex dan juga Bastian pun tidak dalam keadaan baik. Darren yakin, jika bukan karena terpaksa, mereka pasti sudah tumbang.
Darren berangkat dari duduknya. Ia menatap sekeliling dan tersenyum tipis saat tidak mendapati Niko di ambang pintu. Dengan langkah yang tertatih ia mencoba mencari keberadaan Kiran.
Darren berjalan sembari berpegangan pada dinding. Sesekali ia menatap ke arah belakang sebelumya akhirnya dia menghilang dari arah balik itu.
Sementara itu, Kevin yang sedang berusaha menumbangkan Bastian pun mulai tersadar. Ia sangat terkejut saat tidak mendapati Darren dimanapun. Kevin menggeram marah ia bergerak cepat dan brutal sehingga membuat Bastian pun kewalahan menghadapinya.
"Tahan terus, Bas! Jangan sampai Kevin mengejar, Darren!" Kata Alex menatap Bastian sekilas kemudian kembali berhadapan dengan tangan kanan Kevin -- Bowo.
"Tapi aku sudah tidak kuat, Alex. Tenaga sudah hampir habis, belum lagi nanti kita harus menghadapi Niko," ujar Bastian yang kini semakin terpojok.
Mendengar ucapan Bastian, Alex semakin kalut. Ia mengacak rambutnya dengan kasar kemudian memukul Bowo dengan kuat. Alex menghembuskan napas kasar saat melihat Bowo terkapar di atas lantai.
__ADS_1
Dengan segera, Alex langsung membantu Bastian menghadapi Kevin. Oleh karena tenaganya sudah terkuras banyak, Alex dengan mudah menumbangkan Kevin. Namun, meski demikian Kevin tetap sadarkan diri. Dia melihat kepergian kedua orang tersebut, Kevin tersenyum miring. Ia duduk lalu bersandar di dinding.
"Bagus! Dengan mereka semua ada di sini, maka anak buahku bisa menyelamatkan Papa," gumam Kevin.
Meski tubuhnya babak belur, tetapi Kevin sangat senang sebab rencanya mulai berjalan dengan lancar. Bahkan, kini Kevin sangat yakin jika dirinya pasti akan segera memenangkan pertempuran.
Setelah cukup lama duduk dan beristirahat, Kevin beranjak dari duduknya kemudian berjalan memasuki ruangan lain. Langkah Kevin semakin cepat, apalagi ketika ia mulai mendengar suara perkelahian.
Kevin tersenyum penuh kepuasaan saat melihat Bastian tersungkur setelah menghadapi Niko. Kini keadaan berbanding terbalik. Alex yang sudah merasa menang justru kembali terpojok.
Alex hampir menyerah, tetapi dia teringat pada janjinya dengan Helena adiknya. Untuk terus melindungi Darren. Oleh karena itu, dengan sekuat tenaga ia bertahan meski tubuhnya tidak bisa di ajak kompromi.
Alex terpekik ketika punggungnya bersentuhan dengan dinding secara kasar ia mengerang tertahan sambil mengatur napasnya yang semakin memberat.
"Itu akibatnya karena kamu sudah meremehkan aku, Alex! Sekarang tidak ada lagi yang bisa membantumu," ujar Niko sembari berjongkok di depan Alex yang terduduk lemas di lantai.
"Kamu pikir kami sudah kalah, Nik? Cih! Kamu salah besar, ini baru saja permulaan, dan saya pastikan setelah ini kamu binasa," sentak Alex sembari tersenyum miring saat beradu pandang dengan Niko.
__ADS_1
"Kau sudah hampir mati tapi tetap saja sombong. Ah, tapi tidak ada apa - apa, anggap saja ini sebagai rasa belas kasihanku padamu" balas Niko. Ia menyeringai sembari menampar pipi Alex cukup kuat.
Alex memejamkan mata. Hatinya begitu sakit setelah mendapatkan berbagai hinaan dari Niko. Selai itu, saat ini ia juga merasa khawatir dengan Darren. Sebab Kevin sudah pergi menyusulnya.
Alex berharap, Darren berhasil selamat agar dirinya tak merasa berdosa kepada Helena. Alex tercekat ketika napasnya semakin memberat. Selain itu tububnya pun sangat sakit.
Alex memejamkan mata, kali ini ia benar - benar pasrah. Ia bergumam pelan sebelum kesadarannya terenggut.
Niko terkekeh sumbang melihat Alex tidak sadarkan diri. Ia berdiri kemudian bersedekap. Hatinya begitu bahagia karena berhasil mengalahkan Alex.
Niko mengangkat kakinya. Ia hendak menendang perut Devan. Tetapi tindakannya terhenti setelah mendengar suara ramai dari arah luar.
Tidak lama setelah itu, beberapa orang memasuki rumah tua dengan tatapan penuh kemarahan. Dua di antara orang tersebut adalah Daniel dan juga Bara.
Keduanya sedikit terlambat karena baru mengalami sedikit masalah dalam perjalanan.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan hadiahnya.