
"Sungguh aku tidak masalah jika dia merantau dan tidak kembali, Mas. Aku hanya kecewa dia tidak pernah mengirimkan kabar atau uang untuk ibu. Aku juga kecewa karena ulahnya, ibu harus bekerja keras sampai akhir hayatnya." balas Kiran dengan napas yang sedikit tersengal.
"Ran..."
"Andai dia mengirim kabar dan setidaknya sedikit uang, mungkin adikku Bagas tidak perlu ikut bersusah payah untuk membiayaiku, Mas. Dia mungkin juga masih hidup. Adikku masih sangat muda saat kecelakaan dan akhirnya meninggal. Sejak kecil dia juga belum pernah merasakan kebahagiaan. Hidupnya hanya dia habiskan untuk bekerja demi ibu, nenek dan juga aku." kata Kiran. Seluruh unek - unek yang selama ini terpendam di hatinya kini membuncah sudah.
"Tapi bagaimana kalau selama ini Ayahmu sudah tiada, Ran?" tanya Darren yang menangkap kedua pipi Kiran.
Kiran menggeleng perlahan, " Tidak aku ingat betul. Ibu pernah menangis diam - diam setelah melihat berita di televisi. Kata ibu dia melihat Ayah bersama wanita cantik," ujar Kiran.
"Benarkah? Lalu kamu tahu bagaimana wajahnya, Ran?" tanya Darren ia menatap penuh semangat ke arah Kiran.
"Aku lupa Mas, waktu itu aku masih kecil dan belum mengerti tentang banyak hal. Dan sejak saat itu ibu maupun adikku Bagas tidak pernah membahas tentang Ayah. Bahkan ibu tak mau memberitahuku bagaimana rupanya." lirih Kiran.
Darrren tertegun. Hatinya terenyuh ketika melihat Kiran menangis. Ia ikut terluka apalagi setelah melihat pancaran mata Kiran yang tampak begitu sendu.
"Ya sudah, kita percayakan semuanya kepada Arya. Jangan menangis atau memikirkan hal yang membuatmu terluka lagi!" kata Darren ia memeluk Kiran lembut sembari nemberikan beberapa kecupan di dahi Kiran.
"Aku tidak mau memikirkan itu lagi, Mas. Tapi setiap kali teringat dengan adikku Bagas dan juga Ibu rasanya aku semakin kecewa dengan Ayah," balas Kiran. ia membalas pelukan Darren dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Darren.
"Lalu bagaimana kalau misalkan Arya berhasil menemukannya? Apa yang akan kamu lakukan, hm?"
"A...Aku tidak tahu, Mas. Aku..." Kiran semakin terisak. Ia menggeleng pelan karena tidak mampu menahan duka yang selama ini terpendam di hatinya.
Darren tersenyum manis, sembari mengusap lembut rambut Kiran. " Sudah tidak perlu di jawab, Sayang. Sekarang tidak perlu menangis lagi! Aku yakin Ayahmu memiliki alasan mengapa dia melakukan ini semua."
"Tapi Mas..."
"Ssst! Sudah malam sekarang kita tidur."
Kiran menghembuskan napas pelan. Ia mengusap wajahnya yang sudah basah karena air mata.
"Terima kasih karena sudah mau mendengar semua ceritaku, Mas?"
__ADS_1
"Sama - sama Sayang, sekarang kita tidur ya! jangan bersedih lagi!" bisik Darren sambil mengecup bibir Kiran.
***
"Apa iya yang di katakan Arya itu benar? Tapi rasanya aku tidak percaya kalau Larasati sudah meninggal?" ia menunduk sambil memijat kepalanya yang mendadak pusing.
Pandu terdiam setelah menatap beberapa dokumen yang berada di ruang kerjanya.
Hari sudah larut. Namun Pandu masih merenungi semua ucapan Arya di ruang kerjanya. Pandu sangat menyesal, tetapi di sisi lain hatinya membenarkan semua yang sudah ia lakukan.
"Bukankah sedari dulu kaya raya adalah tujuannya? Lalu kenapa sekarang aku sangat menyesal karena sudah meninggalkan mereka?" tanya Pandu dalam dirinya sendiri.
Pandu meremas rambutnya kuat. Kepalanya semakin pening terlebih saat bayang - bayangan masa lalunya kini semakin menari - nari di pelupuk matanya. Pandu meraung,wajahnya tuanya semakin sayu dan juga lesu.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan? Larasati su... Tunggu! Bukankah Arya masih menyimpan satu rahasia lagi? dan dia belum memberitahuku keberadaan Zivanna. Aku harus mengetahuinya.
Pandu menghembuskan napas panjang ia menyugar rambutnya ke belakang kemudian bersandar di kursi kerjanya.
"Mencari tahu apa, Mas? Dan ucapan Arya yang mana kamu maksud?"
Pandu menoleh, ia gugup melihat Lesti berdiri tidak jauh darinya. Wajah lesti tampak begitu serius.
"Bukan apa - apa kamu ngapain kesini?"
"Kamu yakin bukan apa - apa? lalu siapa itu Larasati dan Zivanna?"
Deg!
"A..aku tidak mengenal Larasati dan Zivanna," kata Pandu sembari menatap ke arah Lesti. Ia mencoba tersenyum meski terpaksa.
Pandu beranjak dari duduknya. Setelah itu, ia berjalan mendekati Lesti yang berdiri tidak jauh darinya. Wajah Lesti terlihat sedikit datar dan muram. Sehingga Pandu menjadi was - was.
"Jangan membohongiku lagi, Mas! Kita sudah tidak muda lagi untuk saling berbohong.Kita juga sudah menikah puluhan tahun. Jadi aku rasa tidak ada gunanya berbohong," tukas Lesti matanya memincing tajam, membuat Pandu pun semakin tak karuan.
__ADS_1
"Aku tidak berbohong Lesti. Lalu apa untungnya jika aku berbohong padamu?" Pandu tersenyum tipis. Ia mencoba membujuk Lesti meski kini hatinya sedang tidak menentu.
"Kalau begitu jawab pertanyaanku. Siapa itu Larasati dan juga Zivanna, Mas?"
Pandu menghebuskan napas panjang. Ia tidak bisa terus - menerus mengalihkan pembicaraan dengan Lesti. Pandu menatap serius ke arah Lesti.
"Apa kalau aku jujur kamu tidak akan marah?" tanya Pandu. Ia menatap lekat wajah sang istri yang masih begitu cantik meski usianya tidak lagi muda.
"Tergantung, kalau kamu keterlaluan maka aku akan marah. Jadi apa yang kamu sembunyikan selama ini?" tanya Lesti.
"Tidak ada yang aku sembunyikan, dan tentang Larasati dan juga Zivanna, dia tetanggaku yang masih ada di desa. Arya mengatkan kalau mereka sudah meninggal," jawab Pandu wajahnya di buat sesedih mungkin.
"Kamu yakin mereka hanya tetanggamu?" Lesti menatap penuh selidik ke arah Pandu. Ia tengah mencari kebohongan dari pancaran mata suaminya itu.
"Y..Ya mereka hanya tetanggaku. Dulu orang tua Larasati sangat baik denganku. Bahkan mereka menganggap ku sebagai anak. Jadi ya...." Pandu tidak melanjutkan ucapannya. Ia justru menunduk dan berpura - pura merasa terpukul.
Raut wajahh Lesti melunak melihat Pandu yang tampak begitu terpukul. Ia menghela napas pelan kemudian mendekati Pandu. Lesti menyentuh lengan Pandu pelan.
"Maaf aku tidak bermaksud membuatmu bersedih. Aku hanya takut kamu berbohong," ujar Lesti ia tersenyum sembari menatap wajah Pandu.
"Aku tidak sedih, aku hanya merasa kehilangan saja. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan mereka, tapi mereka sudah pergi," ujar Pandu.
"Aku tahu kamu pasti bersedih. Tapi ya sudahlah, toh mereka juga sudah tiada. Lebih baik sekarang kamu tidur, Mas! Ini sudah terlalu malam," Kata Lesti wajahnya yang tadi terlihat muram kini nampak berseri.
"Ya, aku akan segera tidur setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan. Kamu tidur duluan saja!" kata Pandu. Ia mengecup dahi Lesti kemudian kembali duduk di kursi kerjanya.
"Ya sudah aku ke kamar dulu, Mas. Jangan begadang! Ingat loh, usiamu sudah tidak muda lagi,"
"Hm, aku tahu, Les. Selamat malam."
"Ya, selamat malam, Mas."
Jangan lupa like, komen dan juga vote.
__ADS_1