
"Hm ada apa?" tanya Darren. ia bersedekap dan tatapan matanya lurus mengarah pada Daniel.
"Ada apa ada apa, aku lapar dan kalian malah enak - enakan di kamar. Sial! Apa kalian tidak kasihan denganku," sentak Daniel ia bersedekap sembari bersandar di sofa.
"Tidak ada rasa kasihan untuk makhluk jadi - jadian sepertimu," kata Darren sambil tersenyum miring.
"A...Apa makhluk jadi - jadian katamu? Brengsek! kalau bukan karena aku, sekarang kamu masih menangis tidak berdaya, Kak Darren. benar - benar tidak tahu berterima kasih" ucap Daniel kesal.
"Baiklah, jadi apa maumu?" tanya Darren.
Daniel tidak menjawab ia justru mengalihkan pandangannya kepada Kiran. tatapan Daniel ber binar - binar melihat perut buncit Kiran.
"Kiran? kamu menggemaskan sekali," ujar Daniel sembari mendekati Kiran. Namun, belum menyentuh perut Kiran, Darren sudah menghadangnya.
"Jauhkan tanganmu dari istriku! kata Darren ia merentangkan tangannya di depan Kiran.
"Cielah sok - sokan istriku. padahal dulu beuh..."
"Jangan sampai kamu babak belur disini ya, Niel!" kata Darren menatap penuh peringatan kepada Daniel.
"Iya deh iya. ngomong - ngomong kapan kita pulang? Aku nggak betah disini."
"Nggak betah kenapa? Oh iya, dimana Mas Arya? kok nggak kelihatan?"
"Karena disini nggak ada gadis cantik. kalau si Arya dapat panggilan kerja. katanya ada rapat penting yang harus di hadiri." jawab Daniel acuh.
"Nggak usah banyak bicara deh, Niel! kata Darren sambil menyerahkan sebuah kartu kepada Daniel.
Daniel yang menerimanya pun berbinar - binar "Nah gini dong daritadi. Boleh ya ini buat nyewa ga....."
Belum Daniel menyelesaikan ucapannya. Dari luar rumah Kiran terdengar teriakan beberapa orang.
__ADS_1
"Ada apa ya?, tumben ramai - ramai di depan rumah," ujar Kiran. ia pun berjalan menuju teras.
Tepat ketika menginjakan kakinya di teras. matanya membulat sempurna. ia kaget karena melihat lebih dari sepuluh orang berkumpul di depan rumahnya.
"Ada apa ya, kumpul - kumpul di depan rumah saya?" tanya Kiran tatapannya tertuju pada salah seorang wanita yang menatapnya dengan tajam.
"Nggak usah berpura - pura nggak tahu! kamu bener - bener keterlaluan! bisa - bisanya memasukkan banyak lelaki ke rumah."
"Tapi..."
"Mentang - mentang pendatang baru, Seenaknya saja berbuat hal buruk di tempat ini," kata Rindu, sosok yang memang tidak menyukai Kiran. Sejak kedatangan Kiran, Rindu memang sudah membencinya tanpa alasan.
"Siapa yang melakukan hal buruk? aku tidak melakukan apapun, Mbak. tolong jangan bicara yang tidak - tidak!" kata Kiran. ia mencoba mempertahankan harga dirinya di depan para warga yang mulai menggunjingnya.
"Halah jangan banyak bicara! buktinya juga sudah terlihat jelas kok. Kamu sudah sering membawa Mas Arya. kami pikir dia suamimu, tapi ternyata," ucap Rindu menyeringai penuh kelicikan. matanya berkilat tajam. seolah - olah merasa begitu puas melihat Kiran tertekan.
"Mas Arya memang bukan suamiku, tapi kami tidak pernah melakukan hal buruk. Dia datang pun hanya karena menjenguk ku saja." jawab Kiran. Tangannya bergetar, bukan karena takut karena tuduhan Rindu. Melainkan takut melihat banyak orang yang menatap benci ke arahnya.
"Oh ya?, lalu siapa lagi laki - laki yang tadi siang kamu peluk itu, ha?! Aku juga melihat kalau pria itu masuk kerumahmu. pasti kalian melakukan hubungan terlarang, kan?"
"Aku suaminya" ucap Darren yang baru keluar dari rumah. ia memang sengaja berdiam diri untuk melihat sebenarnya apa yang telah terjadi.
Darren menyeringai sembari bersedekap. Tatapan matanya begitu tajam menghunus ke arah Rindu. Hanya dengan melihat wajahnya saja, Darren sudah tahu kalau jika Rindu hanya ingin membuat gara - gara dengan Kiran.
Bisik - bisik mulai terdengar semakin jelas. Banyak yang tidak percaya jika Darren adalah suami Kiran. tidak heran jika para warga tidak percaya begitu saja dengan ucapan Darren. Sebab, selama ini hanya Arya lah yang sering datang mengunjungi Kiran.
"Jangan bicara sembarangan anak muda! Kalau kamu memang benar suami Kiran, Kenapa kamu tidak pernah datang kesini?" tanya seorang pria paruh baya. namanya Dito seorang ketua RT yang telah terprovokasi karena ucapan dari Rindu.
"Karena aku sibuk dan bekerja di luar kota. Aku sengaja menyuruh Arya untuk mengawasi Kiran. Apa itu masalah?" tanya Darren. Tentu saja kali ini ia memilih untuk berbohong. Darren terlalu malas jika harus menjelaskan yang sebenarnya kepada para warga.
Mendengar ucapan Darren, warga yang telah berkumpul di rumah Kiran mulai terdiam. perlahan - lahan, mereka percaya dengan ucapan Darren. Apalagi ketika mereka melihat Darren memeluk pinggang Kiran mesra.
__ADS_1
"Kalau kamu memang suami Kiran, mana buktinya? jangan kamu pikir kami akan percaya hanya dengan mendengar ucapanmu saja," tukas Rindu. ia berkacak pinggang sambil menatap lurus ke arah Kiran.
Darren menghembuskan napas panjang, ia menatap ke arah Kiran sekilas. Jantungnya mendadak berdetak kencang, sebab ia tidak tahu harus menunjukkan apa sebagai bukti jika dirinya memang suami Kiran.
"Kamu tidak membawa buku nikah kita, Tuan Suami? itu bisa menjadi bukti akurat untuk permasalahan ini " ucap Kiran sembari menatap Darren.
"Aku tidak membawanya, Ran. lagian untuk apa aku membawa benda itu? Aku datang kesini kan hanya untuk membawamu pulang. Aku juga tidak tahu kalau aku akan menghadapai hal seperti ini." kata Darren. ia menyugar rambutnya ke belakang. sebisa mungkin, Darren berusaha bersikap tenang.
"Ah andai kita punya foto pernikahan. mungkin itu bisa di jadikan sebagai bukti juga." lirih Kiran sambil menggenggam erat tangan Darren.
"Jangan panik begitu sayang! tenang saja aku akan menyelesaikannya masalah ini," kata Darren ia tersenyum manis lalu mengusap puncak kepala kiran.
"Lihat! kalian tidak bisa membuktikannya kan, sudahlah pak Rt. kita bawa mereka ke kantor kepala desa. kita hukum mereka biar je..." belum sempat Rindu menyelesaikan ucapannya. Daniel keluar rumah.
"Buktinya akan tiba sebentar lagi, Kalau kalian masih tidak percaya, akan lebih baik jika kalian bertanya dengan orang tua kami nanti," ucap Daniel dengan tegas
Darren reflek menoleh. ia mengernyitkan dahi ketika Daniel mengedipkan sebelah mata kepadanya. "Apa maksudmu Niel. Ayah sama mamah tidak mun...."
Belum sempat Darren menyelesaikan ucapannya. Sebuah mobil mewah datang menyibak kerumunan. setelahnya sepasang suami istri paruh baya keluar dari mobil tersebut.
"Ayah? kenapa kalian bisa berada disini?" tanya Darren karena ia masih tidak menyangka jika Helena dan Kenzo sudah berada di hadapannya.
"Aku yang mengabari Mama, kalau Kiran ada disini. Dan karena mama sangat mengkhawatirkan menantunya, dia langsung berangkat saat itu juga," jawab Daniel.
Darren menghembuskan napas panjang. ia tersenyum lega sembari menatap kearah Helena.
"Mama senang kamu akhirnya bisa tersenyum lagi, Darren," bisik Helena sambil memeluk erat Darren.
"Terima kasih banyak Ma,"
Nantikan kisah mereka selanjutnya ya......!
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca.
Jangan lupa like, komen dan vote.