
Darren tercengang setelah mendengar ucapan Bastian. Meski ia membenci Bima, tapi untuk menghabisinya rasanya ia tidak sanggup.
Mau bagaimana pun juga. Om Bima adalah Ayah dari mantan sahabatnya.Semarah apapun ia, tidak pernah terbesit sekalipun untuk menghabisi Bima.
"Aku tidak mungkin melakukan itu, Om. Meski aku benci, tapi bukan berarti aku harus menghabisinya. Lagi pula, semua pasti bisa di selesaikan dengan baik," ujar Darren.
Bastian mengangguk sambil tersenyum tipis. Setelah itu ia menepuk pundak Darren dan berkata, " Ya, semoga saja tidak ada hal buruk yang akan menimpa kita semua," ujar Bastian.
"Ngomong - ngomong bagaimana kabar Kevin, Om? Apa dia sudah mulai melakukan pergerakan?" tanya Daniel yang sedari hanya memilih untuk diam.
"Sedari tadi, tidak ada tanda - tanda dia melakukan sesuatu, Niel. Tapi meski begitu, kita harus tetap waspada. Om takut Kevin tiba - tiba meluncurkan rencana jahat," balas Bastian.
Daniel tersenyum masam. Kalau boleh untuk jujur, ia sudah terlalu lelah untuk menghadapi kejahatan keluarga Bima. Namun, Daniel tentu tidak bisa membiarkan mereka berbuat semena - mena kepada Darren dan juga keluarganya.
"Tapi bukankah saat ini dia sedang berlibur?" tanya Daniel lagi. Ia menatap serius ke arah Bastian.
"Kamu benar, tapi Om curiga dia berlibur hanya untuk alibi semata," ucap Bastian.
"Alibi bagaimana maksud, Om?" kali ini giliran Darren yang bertanya. ia menatap tidak mengerti ke arah Bastian yang kini sudah duduk di kursi.
"Om curiga dia hanya pergi berlibur untuk menemui seseorang. Apalagi menurut informasi yang di dapat, mereka sudah bekerja sama dengan seseorang."
__ADS_1
Darren berkacak pinggang. Hatinya semakin gundah setelah mendengar ucapan Bastian. Ia merasa kalau semuanya akan menjadi sangat rumit.
"Siapa orang itu? Apa Om mengenalnya?" sambung Darren dengan pancaran mata yang penuh akan kekhawatiran.
Bastian tidak langsung menjawab. Ia justru menatap ragu ke arah Darren dan juga Daniel.Namun, detik selanjutanya Bastian menghembuskan napas dengan kasar.
"Namanya Niko, dia adik tiri Ayah kalian," jawab Bastian singkat. Namun meski begitu sukses membuat Darren maupun Daniel bingung.
"Niko? Sepertinya aku pernah mendengar namanya. Tapi Ayah tidak pernah bercerita iya, kan, Niel?" tanya Darren. dia merasa tidak asing dengan nama tersebut.
"Ya, Ayah bahkan tidak pernah mengatakan Punya saudara tiri." jawab Daniel
"Kenzo memang sengaja tidak bercerita. Dia tidak ingin membuka luka lama karena ulah Bima dan juga Niko. Tapi yang harus kalian tahu, Niko bukanlah orang yang sembarangan" balas Bastian.
"Sangat berbahaya. Dulu dia sempat masuk penjara. Tapi beberapa tahun yang lalu, Om dengar dia sudah keluar. Tapi sampai saat ini Om tidak tahu dia ada di mana?" ucap Bastian.
"Astaga..., kenapa orang - orang di masa lalu Ayah sangat mengerikan?" tanya Daniel sambil menatap tidak percaya ke arah Darren.
"Karena Ayahmu juga orang yang sangat berbahaya.Makanya banyak sekali orang yang ingin memghancurkan dia." jawab Bastian sambil terkekeh pelan.
"Ayah berbahaya! Haha... jangan bercanda, Om! Aku tahu kalau Ayah tipe orang yang selalu serius. Tapi aku rasa dia orang yang baik hati dan tidak berbahaya." ujar Daniel. Ia terkekeh karena merasa tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Bastian.
__ADS_1
Mendengar ucapan Daniel. Bastian menaikan sebelah alisnya. Ia tersenyum miring lalu bersedekap dan menatap lurus ke arah Daniel.
"Kamu hanya tidak tahu saja siapa Kenzo yang sebenarnya, Niel. Meski sudah berumur, tapi dia masih menjadi orang yang cukup di takuti," terang Bastian sambil melirik ke arah Darren. Yang kini terdiam dan tampak memendam sesuatu.
"Tapi Ayah terlihat biasa saja. Kalau memang dia berbahaya, kenapa dia tidak memiliki banyak anak buah," tanya Daniel bingung.
Bastian tertawa melihat kepolosan Daniel. Ia merasa lucu karena Daniel tidak tahu menahu tentang Kenzo. Namun, di sisi lain ia juga khawatir karena sedari tadi raut wajah Darren tidak bisa terbaca.
"Ayahmu memiliki banyak tameng, Niel. Dia tidak pernah menunjukkannya padamu karena dia tidak ingin membuatmu takut." terang Bastian.
Daniel menganggukkan kepala. Meski tidak percaya sepenuhnya, tetapi ia lebih memilih mengangguk. Setelah itu, Daniel menatap ke arah Darren. Ia heran saat melihat Kakaknya itu dia terlihat sedang memendam amarah.
"Kamu kenapa, Kak Darren? Apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?" tanya Daniel sambil menepuk pundak Darren.
Darren terlonjak kaget. Kemudian tersenyum tipis. " Tidak ada. Oh, ya. Kapan Om Bastian akan kembali ke tempat Om Alex?" tanya Darren yang mengalihkan pembicaraan.
"Sebentar lagi. Om ingin memastikan kondisi Cindy terlebih dahulu," jawab Bastian.
Darren mengangguk setelah itu ia kembali diam. Tatapan Darren terlihat kosong hingga membuat Bastian dan juga Daniel saling berpandangan karena heran.
"Kamu baik - baik saja, Kak Darren?"
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk like, komen dan vote