Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Merasa Bersalah


__ADS_3

"Ada apa, Mas? Kok kamu panik begitu?" tanya Kiran ia terkejut saat mendengar suara Darren yang terdengar cukup keras. Namun, Darren tidak menjawab. Ia justru mengangkat tangannya sebagai pertanda agar Kiran diam terlebih dahulu.


"Bagaimana dia bisa kabur, Om? Bukankah selama ini dia tidak sadarkan diri?" tanya Darren dengan panik.


"Ternyata kita salah besar, Darren. Selama ini Cindy sudah sadarkan diri. Entah bagaimana caranya, tapi sepertinya dia menghubungi Kevin untuk menolongnya," jawab Bastian dari sebrang telepon. Suaranya pun tidak kalah panik dari Darren.


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Om? Kita harus kembali menemukannya. Karena kalau tidak, aku yakin rencana mereka akan berjalan lancar" balas Darren.


Dari sebrang telepon Bastian terdengar menghela napas panjang. Sepertinya ia juga bingung harus melakukan apa.


"Begini, Darren. Bisakah kamu datang kerumah sakit sekarang? Ayo kita bicarakan ini bersama - sama." ujar Bastian.


Darren menghela napas pelan. Setelah itu, ia pun menatap ke arah Kiran yang kini sudah duduk dan merapikan pakaiannya. Darren mendadak merasa bersalah, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan perintah dari Bastian.


"Oke, aku akan segera kesana, Om!" jawab Darren lalu mematikan sambungan teleponnya.


Tut!


Sambungan telepon terputus. Darren kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Setelah itu, ia pun mendekati Kiran. Darren duduk di samping Kiran dan menatap lekat ke arahnya.


"Ada apa, Mas? Kok kamu gelisah begitu?"


"Ran. Maaf, aku harus segera pergi sekarang," jawab Darren. Matanya menunjukkan rasa bersalah yang begitu besar kepada Kiran.


"Kalau begitu pergilah, Mas! Tidak perlu meminta maaf begitu. Pasti ada masalah yang serius kan?" balas Kiran tersenyum manis. Ia mengusap lembut pipi Darren dan mengecupnya lembut.

__ADS_1


"Tapi aku takut kamu marah. Padahal kita hampir saja me...."


"Ssst! Aku tidak akan marah, Mas. Sudahlah,kamu pergi saja sana! Aku juga mau beristirahat setelah ini," ujar Kiran sembari mengusap lembut lengan Darren.


"Kamu yakin tidak apa - apa, Ran? A.. aku..."


"Ck! Jangan membuatnya semakin rumit, Mas! Aku baik - baik saja.Sekarang kamu selesaikan dulu masalah kamu. Aku akan menunggu di rumah," ujar Kiran.


"Baiklah, tapi kamu jangan pergi kemana - mana! Jangan melakukan apapun tanpa izin dariku, mengerti?"


"Iya aku tahu, Mas. Kamu tidak usah khawatir begitu," balas Kiran sembari mencubit pipi Darren.


Darren terdiam sembari menatap Kiran. Tatapannya begitu sulit di artikan.Seolah - olah ada kegelisahan dalam hatinya.


'Bagaimana aku tidak khawatir, Ran. Di luar sana sedang banyak bahaya yang mengancam keluarga kita,' batin Darren pilu.


"Ah, iya. Aku berangkat dulu.Kamu baik - baik ya di rumah. Kalau misalkan kamu mau pergi ajak, Luna." jawab Darren.


"Iya," balas Kiran singkat.


"I love you," ucap Darren, setelah mengecup dahi Kiran. Ia tersenyum manis, lalu berlalu pergi meninggalkan Kira.


Kiran menghembuskan napas lelah. Ia melepas kepergiaan Darren dengan perasaan gundah yang tiba - tiba hadir di hatinya.


"Entah, mengapa aku merasa, jika ada banyak bahaya yang sedang mengancam keluargaku," gumam Kiran pelan.

__ADS_1


Kiran menggelengkan kepala.Ia buru - buru membuang jauh pikiran buruknya. Kiran merapikan rambutnya setelah itu ia pun memilih keluar kamar dan mencari keberdaan Luna.


"Luna, maaf ya, hari ini kita tidak bisa jadi pergi. Tapi aku janji lain kali aku akan menemani kamu pergi," ujar Kiran, ia tersenyum manis sembari menatap Luna, yang kini sedang bersantai di ruang keluarga.


"Tidak apa - apa, Kak.Aku tahu pasti Suamimu yang melarang, kan?" jawab Luna.


"Ya begitulah. Katanya ia cemburu jika aku harus bertemu dengan Arya. Benar - benar tidak masuk akal." keluh Kiran.


"Hahaha. Dia memang begitu, Kak. Tapi, seharusnya kamu senang. Karena tandanya dia sangat mencintaimu," jawab Luna lagi.


"Aku memang senang, Lun. Tapi terkadang aku juga jengkel, Lun. Apa - apa tidak boleh,"


balas Kiran.


"Kedua sepupuku, memang menjengkekan. Ya, tapi memang Kak Darren jauh lebih menjengkelkan dari pada Kak Daniel," balas Luna sambil tersenyum.


"Kamu benar, Lun. Ngomong - ngomong, bagaimana hubunganmu dengan Mas Arya? Apa sudah ada kemajuan" tanya Kiran penasaran.


"Boro - boro ada kemajuan, Kak. Ayah saja melarang keras kalau aku dekat dengannya," jawab Luna.


"Kamu yang sabar yah," balas Kiran sambil terkekeh geli.


Luna hanya mengangguk. Sambil lanjut menonton televisi.


Bersambung..

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen dan vote.


__ADS_2