
"M...maaf aku tidak bermaksud berbicara seperti itu, Mas. Aku hanya..."
"Aku tahu, kamu hanya tidak ingin melihatku menderita, kan?"
Kiran menganggukan kepala. Ia terdiam beberapa saat kemudian mulai menyadari sesuatu. Bukankah sehari yang lalu dokter mengatakan kalau kondisi Darren semakin menurun? Dokter juga mengatakan kalau tanpa peralatan medis Darren bisa saja kehilangan nyawanya.
"Apa kamu juga bekerja sama dengan Dokter, Mas? Kemarin dokter juga bilang kondisimu semakin buruk," tanya Kiran.
"Tentu saja. Aku yakin kalau tanpa bantuan dokter kamu tidak akan sehisteris seperti tadi," ucap Darren sambil terkekeh geli.
"Mama sama Ayah juga tahu, Mas?"
"Ya, hanya kamu saja yang belum tahu,"
"Kamu benar - benar...."
"Jangan marah! Aku hanya ingin tahu seberapa besar rasa cintamu padaku. Ternyata sangat besar, ya?" goda Darren sambil menaik turunkan alisnya.
"Aku tidak mencintaimu," ketus Kiran. Ia bersedekap mengalihkan pandangannya dari Darren.
"Benarkah? Ngomong - ngomong kenapa kamu merahasiakan kehamilanmu, hm?"
"Aku sengaja tidak bilang pada siapa pun, karena aku hanya ingin kamu yang pertama kali tahu, Mas."
Darren tersenyum tipis. Tangannya terangkat lalu mengusap lembut perut Kiran, dan berkata, "Sejujurnya aku sangat terkejut, Ran. Aku pikir Arka akan memiliki adik dua atau tiga tahun lagi,"
"K... kamu tidak senang, Mas?" tanya Kiran.
"Aish! Kamu bicara apa, hm? Tentu saja aku senang. Aku sangat bahagia," jawab Darren.
"Benarkah? Kamu tidak berbohong kan?" balas Kiran sambil menatap penuh selidik ke arah Darren.
"Aku tidak mungkin berbohong, sayang. Aku sangat bahagia," Darren duduk di atas barankar kemudian menarik Kiran ke dalam pelukannya.
"Terima kasih banyak, karena sudah bersedia mengandung anakku lagi. Maaf, jika selama ini aku selalu menyusahkanmu," kata Darren.
Kiran mengangguk kemudian berkata, "Terima kasih juga karena kamu sudah bertahan, Mas. Aku mencintaimu."
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu," balas Darren.
*******
"Apa?! Hamil lagi? Kok bisa, Ran?" tanya Daniel ia sangat terkejut saat mendengar ucapan Darren tentang Kiran yang kembali hamil lagi.
"Tentu saja bisa. Karena aku kuat dan perkasa, jadi Kiran bi...."
Puk.
Kiran melemparkan sebuah bantal hingga mengenai wajah Darren. Wajahnya bersemu merah, ia malu karena mendengar ucapan dari Darren.
"Jangan bicara yang tidak - tidak, Mas! Aku hamil karena sudah rezekinya,"
"Iya - iya, maaf," kata Darren.
"Pantas saja Kiran begitu menyebalkan dan moodnya mudah berubah ternyata dia sedang hamil lagi," sambung Arya yang sedari tadi hanya diam saja.
Arya tersenyum tipis. Karena dugaannya benar.
"Mama sangat senang kamu hamil lagi, Ran. Tapi mulai sekarang kamu harus benar - benar menjaga kesehatan. Jangan stress dan menangisi hal - hal yang tidak perlu!" Kata Helena.
"Dan ingat satu hal ini, Ran, Darren. Jangan sering 'melakukannya'. Ya paling tidak, tunggu sampai kandungan kamu benar - benar kuat," ujar Helena memberi saran.
"Astaga, Mana bisa begitu, Ma!" Protes Darren pada Mamanya.
"Ya, harus bisa begitu dong, Darren! Lagian kamu masih sakit masa iya mau gituan. Pokoknya kamu harus nurut sama Mama!"
"Tapi, Ma...."
"Nggak ada tapi - tapian, Darren! Kandungan Kiran masih lemah. Dan lagi, dia juga hamil setelah beberapa bulan yang lalu dia melahirkan. Resikonya besar, Darren!"
Darren menatap Helena kemudian menghela napas pelan. Kini hati Darren mendadak di penuhi rasa bersalah setelah mendengar ucapan Helena.
"Seharusnya aku menggunakan pengaman," gumam Darren sembari menatap Kiran.
"Jangan bicara begitu, Mas! Aku tidak apa - apa. Aku justru senang karena bisa hamil lagi." ucap Kiran yang baru saja mendengar ucapan Darren.
__ADS_1
"Tapi aku jadi takut, Ran. Aku...."
"Jangan takut! Semuanya akan baik - baik saja, kok."
Darren menganggukan kemudian tersenyum manis. Ia mengecup pipi Kiran singkat kemudian kembali bersandar pada kepal ranjang.
"Jadi aku benar - benar puasa ini?" tanya Darren memastikan.
"Tentu saja, Kak Darren. Kalau perlu puasa sampai Kiran melahirkan! Sial, pembahasan yang sangat tidak bermutu. Tidak tahukah kamu? Ada dua jones di sini yang sedang kesepian?"ucap Daniel sembari menatap jengkel ke arah Darren.
"Tunggu, dua jones? Siapa maksudmu?" tanya Arya.
"Tentu saja kita. Memangnya siapa lagi?"
"Kita? Maaf, saya tidak kesepian. Lagi pula saya juga sudah memiliki kekasih. Tidak sepertimu yang jomblo karatan." ledek Arya.
"Kau...."
"Saya memang bicara fakta, bukan?"
"Brengsek! Kita lihat saja, aku pasti akan menikah lebih dulu dari pada kamu,"
"Oh ya? Haha, tapi saya sama sekali tidak peduli,"
"Sial! Ayah jangan pernah restui Arya dengan sepupu kita, Luna!"
"Memang siapa yang mau merestui mereka? Memikirkannya saja Ayah tidak pernah, Niel!" Balas Kenzo sambil menyeringai saat beradu pandang dengan Arya.
"Loh, Om? Tapi Lu...."
"Kamu sudah terlalu tua untuk Luna, Arya. Saya yakin Alex juga akan setuju dengan pendapat saya,"
"Loh, Mas? Kamu tidak sadar? Dulu kamu juga nikahin aku juga sudah tua, loh. Mana duda lagi." kata Helena yang sukses membuat Kenzo bungkam seketika.
'Senjata makan tuan kan, Ken'?
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan hadiahnya.