Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Mejemput Kiran


__ADS_3

Bunyi tamparan terdengar sangat nyaring di ruang tamu tersebut. Diah menjerit karena terkejut. sedangkan Shelvi, ia hanya terdiam tepat setelah Bara melayangkan sebuah tamparan padanya.


"Jangan gila Shelvi! Darren sudah mempunyai istri dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah. kamu tidak boleh merusaknya!"


"Papi tega menamparku hanya karena membelanya? Baiklah, kalau Papi tidak mau membantu. maka aku yang akan melakukannya sendiri! sinis Shelvi."


"Demi Tuhan, Shel! Sampai kamu berani mengusik kehidupan Darren dan keluarganya maka kamu akan berhadapan dengan Papi"


"Aku tidak peduli!" bentak Shelvi


"Tidak peduli? Baik, kalau begitu Papi juga tidak akan peduli meski kamu adalah anak kandung Papi," ujar Bara nada suaranya penuh dengan keseriusan.


"Mas kamu....:


"DIAM!! aku sudah bersumpah pada keluarga Kenzo untuk setia mengabdi pada mereka. jadi jangan salahkan aku jika nanti anakmu akan terluka di tangan ayahnya sendiri." ucap Bara. ia menyeringai kejam, setelahnya ia pun berlalu pergi meninggalkan istri dan juga anaknya.


"Shel...."


"Mami jangan ikut - ikutan aku yakin Papi tidak akan berani melukaiku."


Diah menggelengkan kepala. dia menatap sendu ke arah putrinya "Kamu belum mengenal dia saja Shel, Papi kamu tidak pernah bercanda kalau sudah berbicara seperti itu," lirih Diah sembari memperhatikan Shelvi yang berjalan menuju kamarnya.


*****


"Bagaimana kalau saya berikan rumah yang baru untukmu Ran? Rumah yang jauh lebih dari ini. Dan tentunya saya sediakan Art juga untukmu." ucap Arya tatapan matanya yang begitu meneduhkan, berhasil membuat Kiran salah tingkah.


"Tidak perlu, lagi pula rumah ini tidak terlalu besar tapi sangat nyaman untuk ku tinggali. jadi aku bisa menangani ini sendiri, Mas. Dan kamu tidak perlu membeli rumah lagi" Jawab Kiran. Senyumnya mengembang begitu manis. membuat Arya yang melihatnya pun mendadak berdebar.


Namun, meski demikian sekuat apapun mencoba untuk mulai membuka hati kepada Arya. Tetap nama Darren lah yang mampu tersimpan rapi di hatinya. Kiran tidak mampu berpaling, meski ada yang jauh lebih baik dari Darren. " Kamu kejam tapi kenapa aku tidak bisa lupa denganmu, Tuan Suami." ucap Kiran dalam hati. sambil menundukkan kepala. tangannya saling bertautan.


Merasa bosan karena tidak ada yang berbicara. Arya pun memutuskan untuk keluar rumah. ia duduk di teras sembari menatap halaman rumah yang begitu sejuk karena banyak pepohonan. Arya tersenyum tipis ketika melihat beberapa pohon mulai berbuah.


"Aku yakin anak Kiran nanti akan senang kalau saya membuat taman bermain disini." ujar Arya ia menatap sekeliling halaman. sesekali mengukurnya dengan membuat bentuk kotak dari dua tangannya.


Saat sedang sibuk memikirkan Kiran dan bayinya. Arya di kejutkan dengan beberapa bisikan yang jelas terdengar di telingnya. Arya menghembuskan napas panjang, setelahnya ia pun menatap ke arah tiga orang ibu - ibu yang sedang menatap ke arahnya.


"Ya ampun, ternyata suaminya Kiran. ganteng banget ya bu. Aku kira dia wanita simpanan." ujar dari salah satu dari mereka yang mengenakan baju berwarna coklat.


"Iya ya, Mana badannya kekar banget itu. Aku yakin Kiran pasti betah deh bermanja - manja sama mas ganteng itu." balas ibu yang lebih muda di sampingnya. ia mengenakan baju berwarna merah.


Sementara ada salah satu dari mereka. yang sejak pertama kali Kiran datang merasa tidak suka. menatap kesal ke arah Arya. Ada rasa iri yang diam - diam membuatnya ingin melakukan sesuatu hal buruk.


Muak mendengar ocehan yang tidak bermutu,Arya pun memutuskan kembali masuk. ia menghela napas, sebab sudah merasa bosan karena dirinya sering di jadikan bahan pembicaraan.

__ADS_1


Belum sempat duduk, Arya di kejutkan dengan suara dering ponselnya. Arya berdecak kesal, apalagi ketika melihat nama sang ibu yang tertera di layar ponsel.


"Ada ap....."


"Cepat pulang! ibu mau berbicara sama kamu. Ada hal penting yang harus ibu sampaikan kaepadamu, Ar."


"Saya sibuk, Bu? Tapi saya janji dua minggu lagi saya akan pulang."


Tut!.


Arya mematikan sambungan telfonnya. ia tersenyum masam lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Arya tahu jika ibunya ingin menjodohkannya dengan para gadis yang tidak ia kenal.


"M..Mas Arya ini sudah menjelang malam. kamu tidak mau pulang?" tanya Kiran yang baru saja dari dapur. ia membawa secangkir teh hangat untuk Arya.


"Kamu mengusir saya Ran? Astaga.....seumur - umur baru kali ini saya di usir oleh seorang Wanita. Biasanya mereka justru mengajak saya bermalam," gurau Arya.


"Ya, tapi aku kan, bukan mereka Mas. Oh, iya jangan lupa di minum dulu itu tehnya. setelah itu baru pulang" kata Kiran. ia duduk di dekat Arya.


"Tapi rasanya saya tidak tega membiarkan kamu disini sendirian, Ran. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk?".


"Mas Arya jangan khawatir, Aku akan baik - baik saja."


Arya menghembuskan napas panjang. ia menyeruput teh hangatnya hingga tandas. setelah itu, Arya pun pamit pulan. Namun, sebelumnya ia memberikan beberapa lembar uang untuk Kiran.


"Tapi saya ikhlas memberikan kamu ini, Ran."


"Aku tahu, tapi aku masih punya uang sendiri, Mas."


Arya mengangguk pelan. " Ya sudah saya pulang dulu. kalau ada apa - apa segera hubungi saya."


"Iya, hati - hati di jalan." kata Kiran sembari melambaikan tangannya dengan tersenyum manis.


'Ah, rasanya tidak rela meninggalkanmu, Ran' gumam Arya.


Sepeninggal Arya, Kiran mendongak dan menatap bintang yang bertaburan di angkasa. Kiran menghembuskan napas pelan sembari memejamkan mata.


"Sampai kapan aku terus berharap seperti ini?".


****


Pagi harinya...


Darren dan Daniel telah bersiap untuk pergi. keduanya tampil menawan dengan pakaian kasual. tidak lupa mereka memakai topi hitam dan juga masker agar tidak ada yang mengenali mereka.

__ADS_1


"Kalian pagi - pagi begini mau kemana? Tumben pakai masker sama topi gitu?" tanya Helena. ia menatap heran kearah dua putranya yang akhir - akhir ini bersikap aneh.


"Kami ada urusan penting, Ma." jawab Daniel.


"Urusan penting apa? jangan macam - macam kamu, Niel! Awas saja kalau kamu sampai berbuat yang tidak - tidak" ketus Helena. ia bersedekap, sementara matanya menatap nyalang ke arah Daniel.


"Curigaan amat, Sih Ma?"


"Ya gimana nggak curiga? Dua tahun lalu, kamu berpenampilan kaya penguntit begini. kamu kan pernah ngintipin janda. sampai - sampai Mama pusing dengan kelakuan kamu yang gila itu.


"Ma, itu kan masa lalu. Lagian jandanya aja yang mengaku kalau dia masih gadis kok, makanya..."


"Nggak usah banyak ngomong Niel. kita berangkat sekarang," ucap Darren ia lalu menarik kerah baju yang di gunakan oleh Daniel.


"Sial! jangan sembarangan memperlakukan aku"


"Diam!" bentak Darren.Tatapan matanya berubah tajam dan mematikan


Daniel berdecak malas. ia memghempaskan tangan Darren lalu berkata " ini hari jum'at ya? pantesan kayak singa. semalam kan nggak ada jatah," gurau Daniel sambil tertawa terbahak - bahak.


Darren menggeleng pelan. setelahnya ia kembali menghadap ke arah Mamahnya. Darren tersenyum tipis.


"Sebenarnya kalian mau kemana Darren?" tanya Helena.


"Aku mau menjemput Kiran pulang,Ma?"


Helena membelalakan matanya. matanya sontak berkaca - kaca "Kamu sudah menemukan Kiran, Darren?"


"Belum, tapi aku sudah tahu dimana keberadaan Kiran. Sekarang aku berangkat dulu."


"Hati - Hati di jalan! bawa Kiran pulang,Nak?"


Darren mengangguk, tetapi sebelum Darren pergi justru mengenggam tangan Helena. " Apapun hasilnya nanti. aku harap Mama tidak kecewa yah," lirih Darren.


Helena mengangguk pelan. lalu mengusap lembut rambut Darren "Apapun hasilnya nanti, Mamah tahu kamu pasti sudah melakukan yang terbaik. Semangat. Nak!"


"Terima kasih banyak, Mah."


*Berhasilakh Darren bertemu dengan Kiran?


Nantikan terus kisah mereka Ya...!


Jangan lupa like, komen dan vote. kalau berkenan tolong kasih tombol Like..Like..Like yang banyak hehe*.

__ADS_1


__ADS_2