
"Sejak dua manusia itu mengatakan kalau aku akan sedih jika mereka tidak datang," jawab Darren sembari mendekati Kenzo. Ia tersenyum miring sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Apa kabar, Nak? Kamu pasti rindu dengan Tante, kan?" tanya Cindy sembari tersenyum dan menatap Darren.
"Rindu? Memangnya kamu siapa? Ck! Kamu sama sekali tidak penting dalam hidupku. Jadi untuk apa aku rindu?" tanya Darren, ia terkekeh sumbang sehingga membuat Cindy pun berdecak kesal.
Bima tersenyum miring. Ia merangkul pinggang Cindy dengan mesra, setelah itu ia pun berkata, "Memangnya kamu pikir kamu penting dalam hidup kami, Darren? Haha, sama sekali tidak. Lihatlah, Ken. Anakmu ini begitu bodoh dan tidak berguna. Tidak seperti Kevin"
"Kurang ajar! Jaga bicaramu, Bima! Jelas Darren tidak seperti Kevin. Aku didik dia dengan baik, tidak seperti Kevin yang kalian didik menjadi manusia licik dan jahat!" Ucap Helena yang tiba - tiba masuk. Ia marah saat mendengar ucapan Bima.
"Wow, aku melihat kamu sudah semakin menua, Helena. Astaga, aku sungguh beruntung karena sudah bercerai darimu. Untung saja dulu kamu tidak mau kembali denganku," kata Bima. Ia tersenyum mengejek ke arah Helena.
"Apa maksudmu, Om Bima? Benarkah itu?" Tanya Darren begitu terkejut mendengar ucapan dari Bima tadi, mengenai ibunya.
"Jadi selama ini kamu belum tahu, Darren. Kalau ibumu dulu adalah bekas istri, Om. Hahaha, lucu sekali." ucap Bima sambil tertawa mengejek.
"Kau...." ucapan Darren terhenti ketika Kenzo tiba - tiba memotongnya.
"Jaga ucapanmu, Bima! Sialan selama ini saya hanya diam meski kamu sudah berbuat jahat. Tapi kali ini tidak! Saya akan memberi pelajaran padamu!" Kata Kenzo. Suaranya menggelegar memenuhi seluruh ruangan.
"Pelajaran seperti apa? Matematika, IPA atau ekonomi?"
Bugh!
Darren tersungkur, sudut bibirnya berdarah karena ulah Darren yang baru saja memukulnya. Bima berdecak kesal dan raut kemarahannya pun mulai terlihat.
"Ini yang kamu bilang mendidiknya dengan baik, Helena?! Lihatlah! Anakmu sangat keterlaluan. Di bahkan tega memukulku seperti ini!"
"Jangan menyalakan Mama atau siapapun. Yang pantas di salahkan itu kamu! Kamu yang sudah membuatku seperti ini!"
"Apa maksudmu?" tanya Bima sembari beranjak berdiri. Ia menatap Darren yang tampak begitu marah kepadanya. Namun, siapa yang peduli? Bagi Bima, kemarahan Darren sangatlah tidak penting?
"Karena semua ulahmu, aku menjadi manusia yang tidak berguna. Karena ulahmu juga aku harus merasakan sakitnya perpisahan!" Sentak Darren. Air matanya sudah menggebu - gebu, Bahkan kini air matanya pun sudah tampak berkaca - berkaca.
Melihat Darren yang begitu marah. Helena pun langsung mendekat. Ia mengusap lembut lengan Darren dan berharap agar sang putra tidak lepas kendali.
__ADS_1
"Darren tenangkan dirimu! Jangan marah seperti ini, Nak!" Kata Helena.
"Tapi dia keterluan, Ma! Dia sudah membuatku menderita, dan sekarang dia juga mencoba mengusik keluarga kita."
"Kamu memang pantas menderita, Darren. Andai kamu menuruti permintaan Om waktu itu, di rumah sakit. Om pasti akan menyayangimu," balas Bima sembari tersenyum sinis.
"Aku tidak sudi dengan kasih sayangmu,"
"Kamu tahu Darren? Seandainya ibumu tidak menikah lagi dengan Kenzo, aku yakin kamu pasti tidak memiliki apa - apa"
"Cukup! Kali ini kamu benar - benar keterlaluan Bima. Mulai hari ini tidak ada lagi kata maaf untukmu."
"Loh, kamu pikir aku sudi mengemis maaf darimu, Ken? Cukup satu kali saja di masa lalu. Sampai kapan pun aku tidak akan sudi melakukannya."
"Bajingan, kau Bima! Tunggu saja tanggal mainnya. Saya akan membuat perhitungan denganmu," sentak Kenzo. Kali ini ia tidak mampu menahan segenap emosi yang timbul di hatinya.
"Kamu pikir, aku takut dengan ancamanmu, Ken? Ah, sayang sekali. Bahkan aku sudah sangat siap melawanmu."
"Oh ya? Kalau begitu mari kita buktikan. Siapa yang lebih tangguh," ujar Kenzo. Suaranya mengalun rendah dan syarat akan emosi.
"Tentu saja, aku yang lebih tangguh darimu, Ken."
Awalnya Helena menolak. Ia khawatir dengan keadaan Kenzo. Namun, setelah mendapat tatapan tajam dari Kenzo, Helena menurut dan membawa Darren pergi.
Setelah kepergian Darren dan Helena suasana justru semakin memanas.
"Mumpung anak dan istrimu sudah pergi. Bagaimana, kalau kita langsung mulai saja, Ken? Aku penasaran siapa yang lebih tangguh di antara kita?"
Kenzo tersenyum miring. Tentu ia akan dengan mudah mengalahkan Bima. Sejak dulu, Bima tidak pernah menang beradu kekuatan dengannya.
"Baik, ayo kita buktikan! Saya yakin kamu pasti akan kalah"
"Benarkah? Tapi, bagaimana kalau aku menggunakan ini?" tanya Bima senyumnya mengembang sempurna.
Kenzo terkejut bukan main. Napasnya memburu saat Bima memegang sebuah pistol. Kenzo memejamkan mata sejenak untuk menenangkan diri. Ia tidak menyangka jika Bima sudah mempersipakan segalanya.
__ADS_1
"Ternyata kamu sangat pengecut, Bima!"
"Aku tidak peduli. Yang terpenting kamu musnah di tanganku."
"Kamu yakin bisa melakukannya," Kenzo tersenyum sinis. Meski sedikit takut, tetapi ia mencoba tetap bersikap tenang.
"Kamu menantangku, Ken. Kalau begitu baiklah. Aku tidak akan sungkan untuk menghabisimu." ujar Bima sembari menarik pelatuk pistolnya.
Kenzo bersedekap, tatapan matanya lurus mengarah pada moncong pistol.
"Sebelum kamu berhasil menghabisi saya, maka saya yang a..."
Dor!!
Arrrgh!
Bunyi tembakan menggema di seluruh penjuru ruangan. Yang kemudian di susul dengan suara teriakan serta cipratan darah yang membasahi lantai.
Kenzo mengerang kesakitan. Ia tersungkur sembari memegangi lengannya yang berdarah akibat perbuatan Bima. Beruntung, peluru yang di keluarkan dari pistol Bima hanya menyerempet lengannya. Namun, meski demikian rasanya tetap membuat Kenzo meringis.
"Bagaimana? Bukankah rasanya nikmat, Ken? Ah, tapi itu belum seberapa. Kamu akan merasakan jauh yang lebih sakit saat waktunya tiba," kata Bima. Sambil mencium pistolnya.
"Dan saya tidak akan membiarkanmu melakukan itu, Bima! Kamu akan segera binasa beserta seluruh keluargamu" tukas Kenzo. Tatapan matanya masih begitu tajam, meski sedari tadi ia berusaha menahan sakit.
"Oh ya? tapi sayangnya semua akan segera berakhir, tidak seperti yang kamu rencanakan, Ken. Justru keluargamu yang akan binasa di tanganku!"
"Kau...."
"Wah - wah sepertinya ada dua ekor tikus yang sedang bermain - bermain di kandang singa ya," kata seorang pria yang kini berdiri di ambang pintu.
Kenzo reflek langsung menoleh, ia tersenyum lega saat melihat siapa yang datang.
"Bara?"
"Yo, Ken? Bagaimana keadaanmu?" tanya Bara. Ia menghembuskan napas pelan kemudian mendekati Kenzo.
__ADS_1
Bara tersenyum sinis, rasa marahnya begitu besar di hatinya. Awalnya, ia hanya ingin datang dan mengucapkan selamat atas kelahiran Arka. Namun, tidak ia sangka, Daniel justru memberitahunya perihal Kenzo dan Bima yang sedang bertengkar.
Jangan lupa untuk like, komen dan vote.