Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Akhirnya...


__ADS_3

Melihat Arya yang kini tidak takut lagi dengan ancamannya. Pandu mendadak bingung. Hatinya di penuhi kegelisahan.


"Demi Tuhan Arya jangan pernah mengatakan perihal Larasati dan Zivanna dengan Lesti! Lagi pula Larasati sudah tiada. Jadi tidak ada yang perlu di risaukan." Kata Pandu.


"Apa Ayah lupa? Bukankah tadi saya mengatakan kalau Larasti hamil lagi? Dan aku juga mengetahui keberadaan Putrimu?"


"Kamu serius dengan itu Arya? itu bukan sekedar bualan untuk menakuti Ayah, bukan?"


"Untuk apa saya menakuti pria kejam sepertimu? Sudahlah, yang terpenting setelah semuanya terbukti, saya akan mengatakannya pada ibu."


Pandu memijat pelipisnya. Ia mendadak pusing setelah mendengar semua kejujuran Arya. Hatinya semakin terpukul ketika mengingat dulu dirinya meninggalkan putri tercintanya dan juga Larasti. Pandu juga tidak menyangka ia memiliki anak lain selain Zivanna.


"Bisa kamu katakan dimana keberadaan Zivanna dan Adiknya, Arya? Ayah ingin memastikannya sendiri," ujar Pandu sebelum Arya berbalik pergi meninggalkannya.


"Untuk apa Ayah menanyakan mereka? Apa sekarang Ayah sudah menyesal dan mulai menyadari sesuatu,?" Tanya Arya balik sambil tersenyum miring.


"Jangan banyak bicara lagi, Arya! Cepat katakan dimana mereka sekarang?" jawab Pandu dengan emosi.


"Tidak! Sampai saatnya tiba saya tidak ingin mengatakan apapun tentang keberadaan Kiran! Oh, ya aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu tentang Bagas anak keduamu yang tidak pernah kau tahu kehadirannya dia sebenarnya sudah meninggal tepat setelah dua tahun Larasti meninggal.


"Apa! Jangan berbohong kamu Arya!" ucap Pandu terkejut.


"Saya memang tidak berbohong. dan itu memang faktanya jika anak keduamu itu sudah meninggal karena kecelakaan."


Pandu menyugar rambutnya kebelakang. Wajahnya terlihat lesu dan memucat. melihat kepergian Arya, Pandu termenung di ambang pintu pikirannya seamakin kalut dan juga bimbang.

__ADS_1


"Astaga..., setelah sekian lama kenapa hal ini justru terjadi?"


Pandu kacau, ia tidak pernah membayangkan jika keluarga yang sudah di tinggalkan bertahun - tahun justru menimbulkan masalah besar di hidupnya.


Lelah karena memikirkan segala kemungkinan yang membuat hatinya cemas. Pandu pun memutuskan untuk mengistirahatkan dirinya.


"Kalau sampai Arya berulah maka aku tidak akan segan untuk melukainya," gumam Pandu


***


Hari sudah beranjak siang. Sedari tadi Darren dan juga Kiran pun sudah sibuk merapikan semua barang mereka. Sesuai dengan izin dokter, hari Kiran dan juga Darren akan membawa Arka pulang.


Wajah Kiran tampak beseri - seri senyum manis pun tidak kunjung pudar dari bibirnya. Kiran merasa begitu bahagia, sebab ia tidak perlu lagi menginap di rumah sakit.


"Nanti Daniel akan kesini kan, Mas?" tanya Kiran sembari memperhatikan Darren yang sedang melipat baju milik Arka.


"Rasanya aku tidak sabar mau pulang, Mas" ucap Kiran.


"Aku juga. Rasanya membosankan sekali berada di rumah sakit," balas Darren tanpa menatap ke arah Kiran.


"Jadi kamu bosan menungguku, Mas?" tanya Kiran sambil mentap penuh selidik ke arah Darren.


Darren menghembuskan napas pelan. Ia menatap datar ke arah Kiran kemudian menggeleng. "Kalau aku bosan mana mungkin aku menunggumu sampai keluar,"


Kiran terkekeh geli rasanya begitu gemas melihat ekspresi Wajah Darren. Ingin rasanya Kiran mencubit pipi Darren dan menciu - eh.

__ADS_1


Kiran buru - buru menggelengkan kepala. Ketika pikirannya sampai tak karuan. Kiran menutup wajahnya di kedua tangan. Ia tersenyum malu - malu sembari menatap Darren.


'Dia memang sangat menggoda. Jadi wajar kalau aku berpikiran yang tidak - tidak. Astaga, hanya krena melihat bibirnya saja rasanya aku ing.....'


"Kamu kenapa Ran? pipinya kok merah gitu? kamu demam?" tanya Darren yang sukses menghentikan ucapan Kiran yang ada dalam batinnya.


"Ha - eh, t - tidak, Mas. Aku baik - baik saja kok. " jawab Kiran


"Kamu yakin? Tapi kok pipi kamu merah gini," kata Darren ia mendekati Kiran lalu mengusap lembut pipinya.


Kiran gugup, bahkan kini jantungnya berdetak lebih kencang. Rasanya ia begitu malau saat beradu pandang Darren.


"I - Iya Mas. Aku baik - baik saja kok," kata Kiran sambil memeluk Darren. Ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Darren.


Darren terkekeh pelan. Ia mengacak rambut Kiran kemudian mengecupnya pelan. " Kalau kamu begini terus mungkin Arka akan segera punya adik baru, Ran." kata Darren.


"E..Eh apa maksudmu, Mas?" tanya Kiran sambil mendongak. Ia menatap wajah Darren yang kini juga sedang menatapnya.


"Kamu pasti tahu maksudku, Ran." ujar Darren ia menangkup kedua pipi Kiran. Setelah itu ia pun mendekatkan wajahnya.


Brak!


"Tolong kalau mau bermesraan. Jangan di tempat umum sudah punya anak masih aja nggak tahu diri," ujar Daniel yang baru datang sembari membuka pintu dengan kasar.


Jangan lupa like, komen dan vote.

__ADS_1


Nantikan kisah mereka terus ya...!


__ADS_2