
Mendengar ucapan Darren, Kenzo menoleh ia menatap Darren dengan begitu lekat, setelah itu, ia pun menghembuskan napas kasar.
"Kamu benar, Darren. Ayah sudah tidak sekuat dulu. Saat ini tubuh Ayah seolah mati rasa," ujar Kenzo. Ia meringis sembari memegang kepalanya.
"Lihat, bukan? Ayah terlalu memaksa kan diri. Aku yakin Mama pasti akan marah besar kalau melihat Ayah babak belur begini."
"Hm, tapi Ayah tidak punya pilihan lain Darren. Hanya ini jalan satu - satunya untuk menghentikkan mereka."
"Aku tahu, Ah... ngomong - ngomong bagaimana keadaan Kevin? Dia tidak mati juga, kan?" tanya Darren yang tiba - tiba mengalihakn pembicaraan.
Kenzo tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah luar sembari menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya.
"Kamu tahu sendiri, bagaimana Bara kalau sudah marah kan, Darren?"
"Ya, Om Bara sangat menyeramkan?"
"Hm, mantan sahabatmu itu terluka parah mungkin kaki atau tangannya ada yang patah. Tapi dia masih hidup," ujar Kenzo.
"Kalau begitu, boleh aku menjenguknya, Yah? Aku ingin mengatakan banyak hal padanya," kata Darren wajahnya berubah menjadi dingin dan tatapan matanya pun sulit di artikan.
"Kamu tidak akan melakukan hal buruk, bukan? Kevin sepertinya sudah sangat menyesal, Darren. Dia bahkan sempat meminta maaf kepada Ayah tadi."
Darren mengangguk. Ia merasa cukup terkejut mendengar pengakuan Kenzo. Baru kali ini ia melihat Kevin meminta maaf pada orang lain.
"Aku tidak akan berbuat apapun, Yah. Aku hanya ingin berbicara saja dengannya," kata Darren sambil meyakinkan Kenzo agar mengizinkannya bertemu dengan Kevin.
"Baiklah, kamu boleh bertemu dengan Kevin tapi jangan lupa kamu harus pulang untuk mengantar kepergian Bima,"
"Aku tahu, lagi pula siapa yang mau berlama - lama di rumah sakit? Sangat membosankan," balas Darren sambil mempercepat laju mobilnya.
__ADS_1
Kenzo menggeleng pelan lalu berkata, "Anak muda zaman sekarang memang kurang ajar,"
"Orang tua model Ayah memang menjengkelkan. Ribet dan tidak mudah di pahami," balas Darren sambil tersenyum miring.
"Berhenti bilang Ayah tua, Darren!"
"Ayah kan memang sudah tua!"
"Asal kamu tahu, Darren. Tua - tua begini Ayah masih sanggup untuk memberikan adik baru untukmu," balas Kenzo dengan di sertai seringai di bibirnya.
Darren membulatkan matanya kemudian berkata, " Jangan macam - macam, Yah! Udah tua kok banyak tingkah."
"Darren...."
"Pokoknya Ayah tidak boleh membuat Mama hamil lagi,"
"Kenapa? Mama kamu kan Istri Ayah. Jadi terserah Ayah mau di apain juga."
"Ck! Sial, Ayah jadi teringat Arya kalau mendengar nama Luna,"
*********
Pagi hari setelah Darren dan Kenzo beristirahat di rumah sakit mereka telah bersiap - siap. Kini Darren dan Kenzo akan segera mengunjungi ruang rawat Kevin.Jantung Darren berdetak kencang entah mengapa ia merasa aneh hanya karena iangin bertemu dengan Kevin. Sesampainya di ruang rawat Kevin, Darren menghembuskan nafas pelan untuk mengurangi rasa tak nyaman pada hatinya.
"Ayah tinggal dulu ya! Ayah mau pulang. Setelah ini kamu harus langsung pulang juga," ujar Kenzo sembari menepuk pelan pundak Darren.
Kenzo tidak bisa menemani Darren, sebab ia harus ikut mengurusi masalah pemakaman Bima.
"Ya"
__ADS_1
Setelah kepergian Kenzo, Darren membuka pintu ruang rawat Kevin. Wajahnya begitu datar tanpa ekspresi. Sesampainya di dalam hatinya berdesir pelan melihat keadaan Kevin yang sangat memprihatinkan.
"Kamu memang pantas mendapatkan ini semua, Vin. Tapi aku harap, setelah ini kamu sadar dan tidak berbuat jahat lagi," ujar Darren.Ia duduk sembari bersedekap ranjang rumah sakit.
"Y...Ya. Kamu memang benar Darren. Aku pantas mendapatakan ini semua."
Darren reflek berdiri. Ia sangat terkejut saat mendengar Kevin membalas ucapannya. Darren pikir Kevin masih tidak sadarkan diri. Namun, rupanya kini Kevin justru sudah membuka kedua matanya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Darren sambil bersedekap ia menatap ke arah Kevin tanpa ekspresi.
"Sakit Darren. Aku sangat menderita.Aku..., aku menyesali semuanya. Sekarang aku tidak punya siapa - siapa lagi." lirih Kevin.
"Ingat kamu masih memiliki Mamah kamu,Ch. Sudahlah, aku harus segera pergi sekarang. Aku senang kamu masih hidup," balas Darren sekenanya.
Darren bersiap untuk meninggalkan Kevin. Ia hendak berbalik, tetapi Kevin menahan bajunya. Darren kemudian kembali berbalik.
"Apa?" tanya Darren.
"B... bisakah kamu memelukku, Darren? Sebentar saja.Aku hanya ingin mengenang bagaimana rasanya kasih sayang darimu," gumam Kevin tanpa menatap ke arah Darren. Ia terlalu malu untuk sekedar saling beradu pandang dengan Darren.
Darren terdiam beberapa saat ia tersenyum sangat tipis kemudian berkata, " Bodoh! Seberapa jahatnya pun kamu, entah mengapa aku tidak bisa membencimu seutuhnya, Vin"
Dan mereka pun berpelukkan. Di dalam pelukkan Darren, Kevin menangis terisak - isak,"
"M.... maafkan aku, Darren,"
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa komentarnya ya! Siapa yang banyak berkomentar author mengucapkan terima kasih banyak ya. hehehe
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.