Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Ravindra Arka Wijaya


__ADS_3

"Apa?! Sialan! Lalu kamu sudah tahu dimana anakmu?" tanya Daniel kesal.


"Belum, ini aku mau mengeceknya di ruang NICU."


Daniel terdiam beberapa saat.Ia bersedekap sembari mengernyitkan dahi. Dan berkata, " Mengecek? Bukankah dokter sudah hapal dengan wajah anakmu, Kak Darren? Lalu Kenapa....."


"Saya hanya membantu proses persalinan, Bu Kiran. Setelah itu urusan bayinya, Saya serahkan kepada Dokter khusus. Dan karena ada beberapa hal, dokter tersebut di pindah tugaskan ke luar kota.


"Tapi bukankah Dokter sudah hapal dengan bayi Kak Darren? Astaga..., ini benar - benar tidak masuk akal," kata Daniel


"Saya hanya melihatnya sekilas sehingga tidak terlalu hapal bagaimana rupanya, Pak. Setelah itu pun saya tidak pernah lagi melihatnya karena sibuk menangani pasien yang lain. Dan saya mengetahui bayi Pak Darren tertukar pun hanya dari beberapa data yang di berikan oleh dokter pengganti.


"Lalu siapa yang merawat anaknya Kak Darren? Apa ada dokter lain?" tanya Daniel.


"Bukankah saya sudah mengatakan padamu, Pak? Ada Dokter Spesialis Anak yang bertugas merawat bayi - bayi di ruang NICU. Tapi beberapa hari yang lalu dokter tersebut di pindah tugaskan ke luar kota.


"Lalu siapa penggantinya? Seharusnya dia tahu di mana anak Kak Darren."


"Ada, namanya Dokter Amel. Tapi beliu pun belum terlalu hapal dengan anak Pak Darren.


Daniel pun menghembuskan napas panjang setelah mendengarkan penjelasan Dokter Hendra yang menurutnya sedikit tidak masuk akal. Namun, karena malas memikirkan hal yang tidak penting Daniel pun memilih mengabaikannya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan ikut denganmu, Kak Darren. Aku akan...."


"Tidak perlu, Niel. Kamu di ruang rawat inap Kiran saja! Jangan sampai kita lengah dan membuat mereka semua merasa menang.


"Tapi Kak Darren...."


"Tidak ada tapi - tapian, Niel. Dan Ah, ya satu lagi, tolong hubungi Om Alex," ucap Darren ia tersenyum miring sembari menatap ke arah Daniel.


"Om Alex? Buat apa?"


"Kamu pasti tahu untuk apa aku menghubunginya, Niel." jawab Darren sambil menyunggingkan seringai kejam nan menakutkan.


Melihat seringai di sudut bibir Kak Darren, Daniel terkekeh pelan. Ia menganggukan kepala kemudian mengacungkan jempolnya. Oke Aku yakin besok pagi kita pasti akan mendapatkan kabar gembira dari Om Alex.


"Hm"

__ADS_1


*****


Darren berjalan memasuki Ruangan NICU. Hatinya menghangat saat melihat bayi - bayi yang tampak menggemaskan dan lucu. Darren tersenyum tipis lalu mendekat ke arah inkubator tempat dimana semula bayinya berada.


"Kamu dimana, Nak?" gumam Darren. Ia menghembuskan napas panjang kemudian kembali menyusuri deretan ranjang bayi dan inkubator.


Darren terus berjalan hingga akhirnya langkah kakinya terhenti. Jantungnya berdebar kencang saat mendengar suara tangisan bayi. Darren memejamkan mata, ia tahu betul jika suara tangisan bayi itu berasal dari putranya.


Tatapan Darren tertuju pada sosok bayi laki - laki mungil yang tampak menggerakan kakinya. Suara tangisan begitu parau, Seolah memanggil Darren untuk mendekat.


"Dokter Hendra, sepertinya ini anak saya?" tanya Darren tatapan matanya terus tertuju pada bayi mungil yang berada di inkubator.


"Wah benar Pak. Saya masih ingat betul bahwa ada tanda lahir kecil di lengan kanannya seperti bulan sabit," Kata Dokter Hendra. ia tersenyum sumringah karena akhirnya semua terselesaikan dengan baik.


Darren mengangguk samar. Matanya berkaca - kaca dan bibirnya pun bergetar hebat


"Hei. ini Papa, Nak." bisik Darren ia menyentuh tangan bayinya yang terlihat begitu kecil dan terlihat rapuh.


"Sudah menyiapkan nama untuknya, Pak Darren?" tanya Dokter Hendra yang turut merasakan haru saat melihat Darren bertemu dengan bayinya.


"Y..Ya," jawab Darren terbata - bata.


"Ravindra Arka Wijaya." jawab Darren ia tersenyum manis saat melihat lengkungan tipis di bibir sang putra.


"Nama yang bagus. Setelah ini saya akan meminta pihak rumah sakit untuk memperketat penjagaan dalam ruang NICU."


"Darren mengangguk ia tidak mengatakan sepatah kata pun karena saat ini hatinya tengah di landa rasa bahagia. Darren menatap penuh cinta ke arah sang putra yang kembali memejamkan mata.


'Selamat datang di dunia Nak. Maaf karena Papa lalai dalam menjagamu.' batin Darren.


***


Kamu menyuruhku untuk mengurusi cecunguk seperti itu Alex?" tanya Bastian orang kepercayaan Alex sekaligus anggota Red Wolf.


"Hm, memangnya kenapa?" tanya Alex. ia bersedekap sementara tatapan matanya terus tertuju pada sebuah foto yang beberapa saat lalu di kirimkan oleh Daniel. Alex tersenyum miring sembari menatap foto Ivan yang telah ia cetak.


Alex mengembuskan napas pelan. Tadi setelah mendapatkan kabar dari Daniel, ia langsung menghubungi Bastian. Alex merasa masalah Darren semakin rumit. Dan ia pun yakin jika nantinya akan ada masalah yang jauh lebih besar dari saat ini.

__ADS_1


"Ayolah Alex! Memangnya tidak ada lawan yang jauh lebih kuat! Ck! Kalau hanya mengurusi cecunguk begitu tidak seru," ujar Bastian. Ia menatap Alex malas sembari duduk di sofa


Alex tersenyum sinis lalu menatap datar ke arah Bastian. Dan berkata, "Justru aku yang takut kamu tidak sanggup, Bas. Umurmu juga sudah semakin menua, aku takut kemampuanmu semakin melemah," ledek Alex.


Ia terkekeh ketika melihat Bastian melotot ke arahnya.


Saat ini keduanya memang tidak lagi muda. namun masih terlihat tampan dan kemampuan bertarung mereka tidak pantas diragukan lagi.


"Brengsek! Kamu pikir aku selemah itu, Alex?" Bastian beranjak dari duduknya dan Ia mengambil selembar foto Ivan lalu menatapnya dengan seksama.


Cukup lama keduanya terdiam memikirnya rencana apa yang seharusnya di lakukan untuk menangkap Ivan. Bastian menyugar rambutnya ke belakang. Ia kembali bersedekap lalu menatap kearah Alex.


"Seharusnya anak - anak kita yang meneruskannya, Alex. Ah, kalau begini terus kita tidak bisa bersantai di hari tua" ujar Bastian.


"Hm, Dan sayangnya aku hanya memiliki seorang putri yang cantik sedangkan kamu tidak memiliki anak. Bahkan kamu sama sekali belum menikah, Bas" jawab Alex sambil tersenyum miring.


"Haha kamu benar, tapi ya sudahlah. Ayo berangkat! Rasanya aku tidak sabar ingin berolahraga," kata Bastian. Ia meregangkan otot - ototnya kemudian berjalan keluar dari rumah Alex.


"Jangan terlalu bersemangat begitu, Bas! Hati - hati nanti pinggangmu bisa encok," gurau Alex sembari mengikuti langkah kaki Bastian.


Namun sebelum berangkat Alex terlebih dahu berpamitan kepada Diva istrinya.


"Jangan terlalu banyak bergerak, Alex! Aku tidak mau kalau nanti malam harus melihat punggungmu," ucap Diva. Sembari mengantarkan kepergian Alex.


"Hm, Dan jangan lupa kabari anak kita, Luna? Aku yakin dia sangat merindukan kita dan beberapa hari lagi Kenzo dan Helena juga akan ikut membawa putri kita untuk menetap di kota ini jadi kamu tak perlu khawatir lagi." ucap Alex pada isyrinya.


"Iya, Mas." jawab Diva singkat.


Alex dan juga Bastian pun bersiap berangkat sementara di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah mewah pinggiran kota. Seorang pria tampak tertidur nyenyak tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya.



Bonus Papah Darren dan Mamah Kiran serta Baby Arka...๐Ÿ˜„


Yuhuuu...terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho. Maaf juga kalau ceritanya membosankan dan agak kurang masuk akal ya hiks..๐Ÿ˜ฃ. Atau ada yang mau ngasih masukkan? hehehe๐Ÿ˜


Jangan lupa like, komen dan vote di tunggu komentarnya ya~~

__ADS_1


Mari kita ramaikan kehaluan cerita ini.๐Ÿค—


__ADS_2