
"Alex, sampai kapan kita harus mengurung dua manusia itu?" tanya Bastian tatapannya begitu serius saat beradu pandang dengan Alex.
Alex menghembuskan napas pelan lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Wajahnya tampak tegang, seolah - olah ada ribuan beban yang menyerang hatinya. Alex menyugar rambutnya kebelakang kemudian menatap Bastian.
"Tunggu sampai semunya selesai, Bas. Kita tidak mungkin memenjarakan mereka. Kamu tahu sendiri, kan? Dengan uang maka semuanya bisa selesai," ujar Alex.
Sebenarnya ia sendiri merasa cukup tertekan karena mengurusi masalah Bima dan antek ' anteknya. Selain karena lelah, Alex juga khawatir tentang keselamatan keluarga Kenzo dan Darren.
"Tapi sampai kapan, Alex? Ini sudah hampir dua minggu lebih setelah kita menangkap mereka, tidak mungkin kita terus - menerus begini," sambung Bastian ia duduk di depan Alex sembari mengepalkan kedua tangannya.
Hari ini memang tepat dua minggu setelah acara syukuran Arka. Dan selama itu pula tidak ada pergerakan sama sekali dari pihak Bima. Bahkan Alex pun sudah menyelidiki Kevin, tetapi hasilnya sama saja. Kevin tidak terlihat mencurigakana.
Alih - alih mencurigakan, saat ini Kevin justru sedang berlibur bersama Vanesha dan Shelvi. Entah apa yang terjadi, tetapi Alex merasa tetap ada sesuatu yang sedang di rencanakan oleh mereka.
"Kalau begitu, bagaimana maumu?" tanya Alex. Ia menatap datar ke arah Bastian sembari bersedekap.
"Kita habisi mereka! Atau kalau perlu kita buang mereka di pulau terpencil!" Tukas Bastian yang sudah terbawa emosi. Napasnya terdengar begitu memburu, seolah - olah ia baru saja lari dari jarak jauh.
"Jangan gila, Bas! Selama ini kita tidak pernah melakukan hal sekeji itu. Kalaupun harus menghabisi, ada saatnya nanti. Tapi tidak sekarang!" Balas Alex tatapannya menyalak marah ke arah Bastian.
"Tapi, Alex! Kalau kita terus seperti ini, semuanya justru akan semakin rumit. Iya, kalau anak Bima berniat menyelamatakan mereka. Kalau tidak bagaimana?"
"Dia tidak mungkin membiarkan kedua orang tuanya kita tahan, Bas? Tunggu saja sebentar lagi!" jawab Alex.
"Sial! Kalau sampai anak dari Bima berbuat sesuatu yang tidak - tidak, maka aku sendirilah yang akan menghabisinya," ucap Bastian. Suaranya terdengar rendah dan serak.
"Hm. Yang paling penting saat ini adalah kita tetap menjaga keluarga Kenzo. Pastikan tidak ada kecoa yang mendekati keluarga mereka."
Bastian mengangguk pelan kemudian menghembuskan napas panjang ia mengacak rambutnya dengan kasar.
"Tapi sebaiknya kamu suruh Adik iparmu itu untuk tidak pergi kemana pun. Jangan sampai masalah kita sampai besar kalau Kenzo dan Helena pergi ke luar negeri."
"Saya sudah berbicara dengannya, mungkin dalam satu tahun kedepan, Kenzo akan tetap berada di negara ini."
__ADS_1
"Baguslah. Astaga, rasanya aku ingin segera menghabisi Bima saat ini juga,"
"Hmm. Tahan emosimu, kita tunggu dua tikus itu untuk kembali. Kali ini saya yakin, dia membawa sedikit informasi," ucap Alex ia memejamkan mata sembari bersandar di kursi.
Dan benar saja, tidak lama kemudian Ivan dan Dika datang wajah mereka terlihat begitu serius.
"Informasi apa yang kalian bawa kali ini?" tanya Alex sembari membuka sebelah matanya.
Ivan duduk lalu menghela napas pelan, ia menggeleng pelan begitu pula dengan Dika.
"Mereka sangat pandai menutupi rahasia. Sudah berkali - kali aku mencoba mencari tahu, tapi tidak ada informasi apapun yang aku dapat," jawab Ivan
"Kamu saja yang bodoh. Masa mencari informasi saja tidak bisa. Cih! Percuma saja aku memberimu makan setiap hari," tukas Bastian sembari menatap sinis ke arah Ivan.
Ivan mendelik kesal. ia menggeram tetahan sembari mengepalkan tangannya. Rasanya ia begitu gemas dengan pertanyaan Bastian.
"Diam kau! Dasar tua bangka tidak laku," ujar Ivan, namun setelahnya ia buru - buru menutup mulut.
"Kamu bilang apa barusan?" Bastian menyeringai. Setelah itu ia pun beranjak dari duduknya lalu mendekati Ivan.
"Cih! Jangan sembarangan bicara anak muda! Kau tahu? Ibumu pasti akan sangat tergila - gila kalau melihatku. Ah, atau mungkin anakmu kelak," balas Bastian dengan percaya diri.
Mendengar hal tersebut, Ivan sontak menggelengkan kepalanya. Tentu ia tidak setuju dengan pekataan Bastian. Hei, mana mungkin anaknya yang bahkan belum di buat bisa jatuh cinta dengan Bastian?
"Sebelum anakku lahir, aku yakin kamu sudah tiada," jawab Ivan sambil tersenyum tipis.
"Kau..."
"Menurutmu benda mana yang cocok untuk membungkam mulut orang, Dika?" tanya Alex sembari menunjukan sebuah pisau lipat dan juga pistol ke arah Dika.
Bastian dan Ivan reflek menoleh, keduanya buru - buru diam dan duduk di kursi masing - masing.
"Jangan membicarakan hal yang tidak pantas untuk di bicarakan! Saat ini kita sedang membahas hal yang serius," kata Alex.
__ADS_1
"Baiklah," Bastian mengangguk patuh.
"Maaf," ujar Ivan sambil bersedekap.
"Hm, sekarang kita mencari rencana baru untuk mencari informasi lain. Saya rasa kita tidak mungkin menunggu mereka terus - terusan bergerak," ucap Alex.
"Apa yang harus kita lakukan? Apa perlu kita menyusul Kevin? Siapa tahu selain berlibur, dis sedang bertemu seseorang," usul Ivan setelah beberapa saat ia hanya terdiam.
"Itu ide yang sangat bagus, tumben otakmu normal, Van," ujar Bastian yang di balas dengan marah oleh Ivan.
"Siapa yang mau pergi?" tanya Alex to the point. Ia sudah malas berbasa - basi, apalagi dengan ketiga anak buah yang amat menjengkelkan.
Bastian, Ivan dan juga Dika saling berpandangan. Ketiganya bingung hingga Bastian pun akhirnya hendak memutuskan sesuatu.
Bastian mengangkat tangannya, tetapi sebelum ia mulai berbicara, dari arah luar Bara datang. raut wajahnya begitu santai meskipun pancaran matanya terlihat jelas beban berat yang sedang ia rasakan.
"Kebetulan sekali Bara ada disini. Kita tunda dulu pembahasan ini. Saya ingin berbicara sesuatu dulu dengan Bara," kata Alex sembari beranjak dari duduknya.
Bara yang baru sampai pun heran, tetapi tanpa banyak bicara ia bergegas mengikuti langkah kaki Alex. Jantung Bara berdetak cukup kencang. Terlebih lagi saat ia sampai di ruang pribadi Alex.
Bara tahu, tidak bisa sembarangan orang bisa memasuki ruangan Alex. Jika Alex sampai mengajaknya masuk, ia yakin ada hal yang penting menyangkut dengan dirinya.
Bruk!
Alex melemparkan sebuah amplop coklat berukuran sedang ke atas meja. Setelahnya, ia bersedekap dan menatap datar ke arah Bara.
"Buka dan cermati baik - baik! Setelah itu berikan keputusanmu!"
"Apa ini? tanya Bara, dengan perasaan ragu ia pun mengambil dan mulai membuka amplop tersebut.
Jantung Bara seolah - olah berhenti mendadak setelah melihat isi amplop tersebut. Bara terduduk lemas di kursi dengan tatapan kosong.
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen dan vote.