
Setelah menenangkan diri beberapa saat, Darren pun kembali masuk. Ia tersenyum manis seolah - olah tidak ada kesedihan di hatinya.
"Sebentar ya, Daniel sedang memanggil dokter," kata Darren sembari duduk di dekat Kiran. Ia tersenyum sambil mengusap lembut pipi tirus Kiran.
Kiran mengangguk lemah. Sekujur tubuhnya masih terasa begitu sakit karena selama lebih dari seminggu ia sama sekali tidak bergerak. Kiran meraih tangan Darren, ia menggenggam lembut sambil mengulas senyuman tipis.
"Kamu kenapa, mas? semua baik - baik saja, Kan?" tanya Kiran. Jantungnya berdebar kencang, begitu pula dengan hatinya yang mendadak gelisah. Saat bertatapan langsung dengan Darren, Kiran bisa melihat kegelisahan dari pancaran mata suaminya itu.
"Kenapa apanya, Ran? aku baik - baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan," jawab Darren santai. berusaha untuk menutupi kegelisahannya.
"Tapi kamu terlihat gelisah, Mas? ada hal buruk yang telah terjadi?" tanya Kiran.
"Tidak ada, Sayang. Aku hanya....." Darren menghentikan ucapannya saat Kiran menyelanya.
"Apa anak kita baik - baik saja, Mas? Dimana dia? Kenapa dokter tidak membawanya kepadaku?" tanya Kiran beruntun. Tatapan matanya berubah intens pada Darren. Dan nada suaranya terdengar khawatir.
"Ran, percayalah anak kita baik - baik saja. Hanya saja berat badannya masih kurang, jadi dia masih di NICU. Tapi kamu tenang saja, sebentar lagi dia akan berkumpul bersama kita," jawab Darren hatinya berdesir sakit setelah ia menyelesaikan ucapannya.
"Kamu tidak berbohong kan, Mas? Waktu itu aku terbentur cukup keras. Aku takut dia...." Kiran menghentikkan ucapannya. Ia terdiam dan mulai meneteskan air mata.
"Jangan berpikiran macam - macam, Ran! Anak kita baik - baik saja. Sekarang kamu harus fokus untuk sembuh dulu ya! Setelah kamu kuat, aku janji akan membawamu menemui dia ," kata Darren matanya mulai berkaca - kaca rasanya ia tidak sanggup untuk menatap Kiran.
"Tapi aku ingin melihatnya sekarang, Mas? Di pasti membutuhkan aku. Dia butuh ASI dariku, Mas. Aku harus kesana." ujar Kiran dan beranjak dari brankar.
Namun, belum sempat beranjak, Darren sudah lebih dulu mencegahnya. Ia menyentuh kedua pundak Kiran. Setelah itu Darren membaringkan Kiran yang masih cukup lemah.
"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi, Ran. Sekarang kamu istirahat dulu. Sebentar lagi dokter akan datang,"
"Tapi, Mas...."
"Kiran, aku mohon. Tolong jangan membuatku semakin tidak berdaya. Aku sudah lelah menanggung semua ini sendirian," Kata Darren sorot matanya begitu sayu sehingga membuat Kiran pun menganggukan kepala.
Hati Kiran berdesir lara melihat Darren yang tampak lemah dan tidak berdaya. Selain itu, ia juga merasa bersalah karena sudah membuat Darren menanggung beban yang cukup berat sendirian.
__ADS_1
"Tapi kamu tidak berbohong kan, Mas? Anak kita baik - baik saja, kan?"
"Ya, anak kita baik - baik saja." Darren tersenyum pilu. Ia mengusap puncak kepala Kiran sembari menahan laju air matanya.
Suasana kembali hening. Namun, tidak lama kemudian Dokter Hendra masuk bersama dengan Daniel dan seorang perawat.
Tanpa banyak berkata, Dokter Hendra langsung memeriksa keadaan Kiran. Ia tersenyum tipis setelah selesai melakukan beberapa pemeriksaan.
"Kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya. Sungguh, saya pikir ini adalah suatu keajaiban," Kata Dokter Hendra. Ia tersenyum ramah sembari menatap Darren.
"Syukurlah, terima kasih banyak, Dokter. Ngomong - ngomong berapa lama istri saya harus melakukan tahap pemulihan?" tanya Darren sambil mengajak Dokter Hendra untuk menjauh dari Kiran.
"Mungkin sekitar dua atau tiga minggu, Pak Darren. Tapi tergantung dari kondisi pasien. Kalau pasien memiliki semangat untuk sembuh, saya rasa secepatnya akan segera pulih," jawab Dokter Hendra wajahnya tampak berseri dan lega karena pada akhirnya Kiran bisa sadarkan diri.
Darren menganggukan kepala. Ia melirik ke arah Kiran yang sedang berbicara dengan Daniel. Darren menghela napas pelan lalu kembali menatap Dokter Hendra.
"Kalau boleh tahu, bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Darren dengan suara yang lirih. Ia takut jika sampai Kiran mendengarnya.
"Tapi masih bisa di sembuhkan, Kan, Dok?"
Dokter Hendra kembali terdiam. bedanya kali ini ia berbalik dan menatap kearah Kiran. Matanya menatap ragu kearah Kiran dan kembali beralih menatap pada Darren.
"Mungkin lebih jelasnya lagi, kita bisa bicara di ruangan saya dengan dokter lain yang sedang menangani anak anda, Pak Darren. Saya takut jika istri Anda mendengar hal ini, kondisinya di khawatirkan akan kembali melemah,"
Darren mengangguk lemah. Setelah mendengar ucapan Dokter Hendra, ia pun menyadari jika kondisi anaknya memang benar - benar kritis.
"Baiklah, Dok. Sekarang saya akan menemui istri saya dulu." kata Darren.
"Iya silakan. Tapi jangan berkata yang tidak - tidak kepadanya, Pak Darren. Usahakan istri Anda jangan tahu dulu mengenai masalah ini."
"Baik Dok. Saya mengerti." kata Darren.
Setelah kepergian Dokter Hendra. Darren kembali menemui Kiran. Ia tersenyum tipis lalu mengecup singkat kening Kiran.
__ADS_1
"Kata dokter, kondisimu sudah lebih baik dari sebelumnya," ujar Darren.
"Kalau begitu aku sudah bisa melihat anakku, kan, Mas?" tanya Kiran. Wajahnya tampak berseri - seri dan tidak terlihat sepucat seperti sebelumnya.
"Tidak sekarang, Sayang. Nanti kalau kamu sudah benar - benar sembuh, ya."
"Tapi, Mas. Aku ingin melihat anakku sebentar saja. Aku merindukannya." lirih Kiran wajahnya tampak sangat murung.
"Sayang, Nanti saja ya. Sekarang aku mau berbicara dengan dokter. Kamu di sini bersama Daniel dulu ya. Kalau ada apa - apa bilang padanya."
"Bukankah tadi kamu sudah berbicara dengan dokter, Mas?" tanya Kiran
"Maksudku, Aku mau menemui dokter yang menangani anak kita, Ran. Aku mau dengar perkembangannya," jawab Darren seraya mengusap lembut kepala Kiran.
Kiran menganggukan kepala, ia tersenyum tipis dan berkata, " Kalau begitu nanti tolong beritahu aku semuanya tentang kondisi anakku ya, Mas"
"Baiklah sayang, Aku pergi dulu."
Setelah kepergian Darren, hati Kiran mendadak gelisah. Perasaannya mulai cemas, seolah - olah ada hal buruk yang akan terjadi.
"Daniel, Anakku memang baik - baik saja, Kan?" tanya Kiran pada Daniel yang sedang duduk di sofa.
"Y..Ya, Anak kamu baik - baik saja. Jangan khawatir, Ran!" jawab Daniel sambil tersenyum lebar untuk menyembunyikan raut wajah khawatirnya.
Kiran terdiam setelah mendengar jawaban dari Daniel, hatinya justru senakin gelisah.
"Mama harap kamu baik - baik saja, Nak. Tunggu Mama sembuh ya. Setelah itu kita akan bertemu." gumam Kiran sembari memejamkan mata.
Terima kasih sudah membaca. Maafin kalau masih banyak typho wkwk.
Nantikan terus kisah mereka ya...!
Jangan lupa like, komen dan vote. kalau berkenan tekan tombol like...like..like..like..like ya~~
__ADS_1