
"Semuanya hancur, Om. Semuanya tidak ada yang bisa di percaya. Bahkan orang yang sudah ku anggap sebagai saudara pun tega berkhianat." tukas Darren matanya berapi - api saat menceritakan tentang Ivan.
"Oh ya? Berarti kamu terlalu bodoh merekrut anggota, Darren. Sepertinya kamu terlalu naif" ledek Om Alex.
"Hm, jadi bagaimana? Om Alex bisa membantuku, Kan?"
"Tentu saja, tapi bayarannya tidak murah Darren. Rekan - rekan Om, tidak mau menerima pekerjaan jika bayarannya tidak sesuai.
"Jangan khawatir tentang itu, Om. Aku akan membayar berapun yang penting tidak ada yang berani melukai Kiran."
"Oke, Besok pagi Om akan menyuruh mereka datang kesini."
Darren menganggukan kepala. Hatinya merasa jauh lebih lega dari sebelumnya. " Tunggu pembalasanku, Vin." gumam Darren.
"Aku keluar dulu mau cari makan, Kalian mau nitip sesuatu," tanya Daniel.
"Belikan saja makanan yang seperti kamu pesan," ujar Om Alex.
"Baiklah, Oh iya katanya mama sudah berada di bandara, mereka akan langsung kesini."
Darren menganggukan kepala. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Helena. Darren sangat ingin memeluk dan mencurahkan semua keluh kesahnya kepada Mamahnya.
"Darren, Malam ini kamu jangan pergi kemana - mana! Tetaplah berada di samping Kiran," kata Om Alex setelah beberapa saat hanya terdiam sembari memainkan ponsel.
Mendengar ucapan Om Alex. Darren sontak terkejut. Ia menoleh dan menatap tidak mengerti kearah Om Alex. 'Kenapa Om Alex menyuruhnya begitu?' batin Darren. Kini pikiran Darren sudah melanglang buana.
"Memangnya kenapa, Om?" tanya Darren penasaran.
"Tidak kenapa - kenapa. Hanya saja sepertinya akan ada tikus kecil yang ingin masuk ke ruang rawat inap Kiran," ujar Alex sambil tersenyum misterius.
Darren mengernyitkan dahi. Namun, tidak lama setelah itu dia membelalakan mata. "Siapa dia?" kata Darren sedikit kaget dan kesal.
"Kamu akan tahu sendiri nanti. Tadi Om baru saja mendapatkan sebuah informasi dari tangan kanan Om. Kemungkinan besar dia tidak akan melakukan sesuatu, mungkin hanya ingin sekedar ingin tahu bagaimana keadaan Kiran.
__ADS_1
"Maksud Om, dia hanya ingin mengecek kondisi Kiran sebelum bertindak lebih jauh lagi."
Om Alex tidak menjawab ia hanya terkekeh sinis sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Sial! Apa Kevin sudah merencanakan sesuatu lagi?" gumam Darren. Ia berdecak kesal karena Alex tidak mengatakan semua padanya.
****
"Jangan lakukan apapun! Tugasmu hanya melihat seberapa parah kondisi wanita itu. Kalau sudah tahu tentang keadaanya langsung pulang saja." ucap seorang pria sembari duduk dan menatap pria di depannya.
"Tapi bagaimana kalau aku ketahuan? Darren sangat menyeramkan. Dia pasti tidak akan pernah memaafkan aku." ujar pria yang dulu cukup dekat dengan Darren.
Ya...., dia adalah Ivan yang memilih membelot dari Darren.
"Aku tidak peduli, Ivan! Tapi yang jelas, Jangan sampai kau mengatakan pada Darren kalau akulah yang menyuruhmu."
"Kenapa begitu? Aku ti......"
"Ingat baik - baik, Van! Sekarang kamu adalah bawahanku. Kalau kamu menolak, maka semua keluargamu akan musnah di tanganku.
"Kalau begitu, ada satu cara yang jauh lebih menyenangkan, Van. Dan aku yakin tidak hanya wanita itu, tetapi Darren juga akan sangat menderita."
"Apa maksdumu?" tanya Ivan seketika jantungnya berdetak kencang saat melihat seringai menakutkan dari pria di depannya.
"Bawa pergi anak mereka dan buang bayi itu, kalau perlu, bunuh saja dia."
Ivan membelalakan matanya, meski brengsek tetapi dirinya enggan berbuat kekerasan ataupun membunuh pada seorang bayi yang bahkan tidak bisa melakukan apa - apa.
"Janga gila kamu! Aku tidak mau!"
"Kalau begitu begitu bersiap - siaplah untuk kehancuranmu."
****
__ADS_1
"Vin, aku dengar - dengar Kiran masuk rumah sakit ya?" tanya Shelvi yang malam ini datang kerumah Bima. Ia dan Kevin duduk di ruang tamu dan saling berhadapan. Sedangkan Vanesha, wanita itu sudah berangkat ke luar kota sejak sore tadi untuk melakukan pemotretan.
"Ya, dia masuk ke rumah sakit setelah Vanesha menyuruh seseorang untuk mencelakainya." jawab Kevin sambil tersenyum simpul. Wajahnya nampak berseri - seri saat menatap Shelvi di depannya.
"Wah hebat sekali. Seharusnya aku melakukan hal seperti Vanesha. Kamu tahu, Vin? Beberapa hari tinggal di rumah Darren, rasanya aku hampir gila. Kiran benar - benar sombong dan sok berkuasa," kata Shelvi dengan suara yang menggebu - gebu. Dari wajahnya terlihat jelas kebencian yang begitu besar kepada Kiran.
"Hahaha. Kamu tenang saja setelah ini, dia mungkin tidak akan pernah bangun lagi. Kiran akan tidur selamanya dan Darren akan menjadi duda;" balas Kevin ia menyeringai penuh kepuasan. Seolah - olah rencana yang ia sudah susun rapi akan terlaksana dengan baik.
Shelvi mengernyitkan dahi. Ia bersedekap sembari menatap penuh selidik ke arah Kevin. "Apa maksudmu? Atau jangan - jangan kamu akan menghabisinya, Vin?" tanya Shelvi penasaran.
"Ya, aku ingin menghancurkan hidup Darren. Dan satu - satunya cara adalah dengan melenyapkan istri Darren sekaligus anaknya." jawab Kevin. Matanya berkilat tajam dan memancarkan kebencian yang cukup besar.
Shelvi membelalakan matanya. Namun, tidak lama kemudian ia menyunggingkan senyum sinis dan berkata, "Luar biasa, kamu memang hebat dan bisa di andalkan, Vin. Haha.. setelah itu Darren tidak akan bisa bahagia." tukas Shelvi ia mengepalkan tangannya kuat - kuat.
Kevin menaikkan sebelah alisnya. Ia mentap heran ke arah Shelvi yang tampak membenci Darren. Padahal Shelvi, begitu mencintai Darren. Namun, kenapa sekarang berubah?
"Sejak kapan kamu menginginkan Darren menderita? Biasanya kamu begitu heboh dan sangat bersemangat untuk mendapatkan dia, Shel." kata Kevin sambil menyesap rokok yang terselip di antara dua jarinya.
"Itu dulu, Vin. Sial! saat aku sangat terobsesi dengan Darren karena wajah tampan dan juga hartanya. Sekarang? Oh tidak, setelah Darren memperlakukanku dengan buruk," balas Shelvi senyum sinis terlihat jelas di bibirnya yang sexy.
"Bagus wanita secantik kamu memang tidak pantas untuknya, Shel. Darren begitu bodoh karena lebih memilih wanita kampungan itu dari pada kamu."
"Tentu saja. Aku yakin Darren akan menyesal. Cih! Wanita bodoh, miskin dan kampungan itu akan segera mati," ucap Shelvi sambil tertawa nyaring. Wajahnya terlihat begitu bahagia karena mengatahui jika Kevin sudah memiliki rencana untuk melenyapkan Kiran.
"Tapi sebelum rencananya berjalan lancar, Aku harap kamu tidak mengatakannya pada siapa pun, Shel. Ini rahasia kita berdua," kata Kevin sambil menatap lekat wajah Shelvi.
"Kamu tenang saja Vin. Aku tidak akan mengatakan pada siapa pun. Ah, atau perlu aku membantumu?" tanya Shelvi ia beranjak dari duduknya kemudian mendekati Kevin.
Shelvi duduk di samping Kevin. Jemarinya yang lentik terulur membelai lengan Kevin. Shelvi tersenyum manis lalu menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Kevin.
"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan, Shel? Tapi sepertinya kamu memang di butuhkan dalam rencana ini," balas Kevin ia merengkuh pinggang Shelvi tanpa takut jika ada orang lain yang bisa melihatnya.
"Aku bisa melakukan banyak hal Vin. Salah satunya.....
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote.