Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Mulai Terungkap ( Ayah kandung kiran)


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu, Kenzo memang sudah menghubungi Darren. Ia Helena dan juga Luna keponakannya akan kembali dan menetap di indonesia untuk beberapa saat.Sebelum nantinya Kenzo kembali fokus mengerjakan permasalahan di perusahaan luar negeri.


"Baiklah kalau begitu saya akan datang untuk bertemu dengan Luna. Dan semoga saja saya sudah mendapatkan kabar tentang Ayah kandung Kiran." Kata Arya ia tersenyum manis sambil beranjak dari duduknya.


Darren menggeleng pelan sambil menatap Arya yang kini sudah berjalan menjauh.


"Mana mungkin Luna mau dengan pria gila seperti dia. Apalagi jika Om Alex sampai tahu kalau putrinya akan di dekati manusia kutub sepertimu, Ar? Aku tidak bisa membayangkan nasibmu akan seperti apa" gumam Darren sambil tersenyum tipis.


***


"Sudah berapa kali Ayah bilang, Arya? Jangan mendekati wanita itu!" sentak Pandu tepat ketika Arya baru saja menginjakkan kakinya di rumah.


"Memangnya kenapa, Toh hal itu tidak merugikan Ayah sama sekali."


"Tidak merugikan? Astaga, banyak berita di luaran sana yang menyebut kalau kamu mengencani istri orang Arya!"


"Tapi kenyataannya kan tidak begitu. Jadi untuk apa takut? Sudahlah lebih baik Ayah duduk dan biarkan saya bicara." ujar Arya. Tatapan matanya berubah serius saat beradu pandang dengan Pandu.


Pandu tertegun saat melihat tatapan Arya. Ia menghembuskan napas pelan kemudian duduk di sofa. Pandu bersedekap, sedangkan matanya terus tertuju pada Arya.


"Ada Apa?" tanya Pandu. Ia heran karena sudah cukup lama, tetapi Arya hanya diam.


"Apa Ayah mengenal Larasati Ameliya?" tanya Arya sambil tersenyum miring. ia bersedekap sembari menatap Pandu yang tampak gugup.


"L..Larasati? Siapa itu? Ayah tidak mengenalnya sama sekali," jawab Pandu cepat. Wajahnya terlihat begitu datar, Seolah - olah tidak mengenali siapa itu Larasati Amelia.


"Ayah yakin tidak mengenalnya? Tapi kenapa Ayah gugup begitu?" Tanya Arya lagi. Ia terus mencoba memojokkan Pandu yang terlihat menyembunyikan sesuatu.


"Tentu saja Ayah tidak mengenalnya. Memangnya kamu tahu nama itu dari mana?" Tanya Pandu balik. Napasnya tampak memburu.


"Aku mendengarnya dari seseorang, Saya pikir Ayah mengenalnya." ujar Arya. Ia terkekeh karena semakin yakin kalau Pandu tengah menyembunyikkan sesuatu.


"Ayah tidak kenal dengan nama orang kampungan begitu. Sudahlah, Ayah sibuk dan banyak pekerjaan." Kata Pandu ia mencoba mengalihkan pembicaraannya dengan Arya.


Pandu beranjak dari duduknya. Ia berniat meninggalkan Arya yang semakin menatap penuh curiga kepadanya. Pandu menghembuskan napas pelan lalu cepat - cepat berjalan.


"Apa Ayah kenal dengan Zivanna Kirannia?" tanya Arya sebelum Pandu benar - benar meninggalkannya.

__ADS_1


Deg!


Jantung Pandu berdetak kencang. Bahkan, ia kini sudah menghentikkan langkah kakinya.Pandu menoleh ke arah Arya. Raut wajahnya pun kini telah berubah.


"Darimana kamu tahu nama itu, Arya? Apa kamu bertemu dengan orangnya?" tanya Pandu.


"Tidak, saya mendengarnya dari seseorang. Larasati Ameliya dan Zivanna Kirannia itu Ibu dan Anak. Ayah pasti mengenal mereka, kan?" tanya Arya lagi. Ia berdiri kemudian menatap penuh selidik ke arah Pandu.


"Tidak, Ayah tidak mengenal mereka. Ayah hanya...."


"Ayah yakin? Ayah sedang tidak menyembunyikan sesuatu dari saya dan juga Ibu, kan?"


"Tidak, Arya! Sudah hentikan omong kosongmu itu. Sekarang Ayah mau kembali bekerja," ketus Pandu.


"Kalau memang tidak, kenapa Ayah gugup begitu?" Arya terus mencoba memojokkan Pandu. Ia berharap Pandu akan mengatakan sesuatu yang akan menjadi titik terangnya mencari ayah kandung Kiran.


"Ayah tidak gugup. Ayah hanya sedang banyak pekerjaan." balas Pandu. Kali ini suaranya terdengar lirih dan lesu. Tidak seperti biasanya yang berintonasi tinggi dan datar.


"Oh ya? Ya sudahlah kalau begitu?"


" Kamu tahu dimana Zivanna?" tanya Pandu setelah cukup lama terdiam.


"Untuk apa Ayah sekarang menanyakan dia? Apa sekarang Ayah mulai menyadari sesuatu?" tanya Arya sambil tersenyum miring.


"Jangan banyak bicara lagi, Arya! Cepat katakan di mana dia sekarang?"


"Tidak! sampai saatnya tiba saya tidak akan mengatakan apapun! Aku hanya akan mengatakan ibu Larasati sudah meninggal?" tukas Arya


"Jangan berbohong, Arya!"


"Saya tidak berbohong. Ibu Larasati memang sudah meninggal,"


Pandu menyugar rambutnya ke belakang. Wajahnya terlihat lesu dan sedikit memucat. Langkah Kaki Pandu pun terlihat gontai. Seolah - olah ia telah kehilangan energi setelah mendengar ucapan Arya.


"Ayah tunggu! Saya ingin menanyakan sesuatu hal lagi padamu?"


"Apalagi, Arya? Ayah.."

__ADS_1


"Zivanna Kirannia itu adik tiri saya, bukan?" tanya Arya memotong perkataan Pandu.


Pandu tercengang mendengar ucapan Arya. Tangannya gemetar dan keringat dingin pun mulai membasahi pelipisnya. Lidah Pandu kelu, seoalah - olah ia tidak mampu membalas ucapan Arya.


Pandu menghembuskan napas panjang. Ia memejamkan mata sejenak untuk menenangkan dirinya. Setelah di rasa cukup tenang, Pandu kembali berbalik. Ia menatap tajam ke arah Arya sembari mengepalkan tangannya.


"Apa maksudmu berbicara seperti itu?" tanya Pandu. Suaranya mengalun rendah tapi sarat akan kemarahan.


"Saya benar, bukan? Zivanna Kirannia itu adik tiri saya,kan?" tanya Arya lagi. Ia tersenyum miring dirinya sama sekali tidak takut dengan Pandu yang mulai menunjukkan gurat - gurat kemarahan"


Plak!


Satu tamparan keras mengenai pipi Arya. Napas Pandu memburu, dadanya bergemuruh hebat setelah menampar Arya. Pandu langsung mencengkram kuat kerah kemeja Arya.


"Jaga ucapanmu, Arya! Apa kamu pikir selama ini Ayah membohongi ibumu?" sentak Pandu kemarahannya memuncak.


"Saya hanya bertanya saja. Jadi untuk apa Ayah marah begini? Atau jangan - jangan memang benar kalau Ayah sudah menyembunyikan sesuatu selama ini?" tukas Arya. Ia mencekal pergelangan Pandu kuat.


Arya membalas tatapan Pandu. Sama halnya Pandu, rasa marahnya mulai pun mulai timbul di hati kecilnya.


"Jangan bicara omong kosong, Arya! Larasati atau Zivanna, saya tidak mengenalnya," tegas Pandu sembari menghempaskan cengkramannya.


"Kalau Ayah memang tidak mengenal mereka. Ayah tidak mungkin bersikap.seperti ini. Ayah benar - benar mencurigakan!" tukas Arya. Suaranya menggelegar marah. Bahkan beberapa pekerja dan juga lesti yang sedang


ada di dapur pun terkejut.


Lesti buru - buru mendekati Pandu dan juga Arya. Ia menggeleng pelan ketika melihat Arya dan Pandu kembali berselisih paham.


"Kenapa kamu marah - marah begitu, Arya? Seharusnya kamu bicara sopan terhadap Ayahmu," Kata Lesti ia bersedekap sembari menatap datar ke arah Arya.


"Tapi suamimu ini keterlaluan, Bu? Dia sudah menyembunyikan sesuatu yang sangat besar!" Ujar Arya tanpa menatap ke arah Lesti. Matanya terus mengawasi setiap gerak - gerik Pandu yang terlihat semakin gugup setelah kedatangan Lesti.


"Jangan dengarkan anakmu! Dia hanya berbicara omong kosong!" tegas Pandu sambil mendekati Lesti. Pandu merengkuh pinggang Lesti dengan mesra.


"Omong kosong? Sial.


Jangan lupa like, komen, vote dan Hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2