
"sebentar lagi kamu bercerai, Darren? Nanti siapa yang akan menghangatkan ranjangmu, Kalau aku pergi, hm?" tanya Shelvi. Suaranya di buat sensual mungkin. Bahkan, di sertai ******* lirih di akhir katanya.
"Jangan gila kamu, Shel. Sampai kapan pun aku tidak akan sudi memakai wanita sepertimu!! Lebih baik aku jadi duda selamanya dari pada harus menikah denganmu," bentak Darren sambil menyingkirkan tangan Shelvi yang sedang menyentuh lengannya.
"Oh ya? Jangan munafik, Darren! Aku yakin betul, kamu pasti tidak akan bisa menahan diri. Bagaimana kalau kita mencobanya malam ini?" ajak Shelvi ia tersenyum genit sembari mengedipkan sebelah matanya.
Darren bergidik ngeri. Jantungnya berdetak kencang saat melihat Shelvi mulai membuka kancing baju tidurnya. Darren menggelengkan kepala lalu mengalihkan tatapannya dari tubuh Shelvi.
"Kamu wanita gila! Berani sekali kamu melakukan ini padaku!" tukas Darren. ia mendorong tubuh Shelvi menjauh darinya. Setelah itu, Darren pun bergegas menuju ruang kerjanya.
Akan tetapi karena Shelvi sudah terlalu obsesi dengan Darren tentu tidak akan tinggal diam. Wanita itu mengejar Darren dan mencekal lengannya.
"Darren, aku sangat mencintaimu. Aku akan memberikan semuanya untukmu. Aku mohon, nikahi aku!" kata Shelvi.
Darren tidak menjawab. Ia terus melangkahkan kakinya menuju ruang kerja. Saat ini emosi Darren sedang tidak stabil. Selain karena masalah Shelvi, tetapi juga karena Kiran yang menginginkan untuk berpisah darinya. Rasanya Darren ingin sekali langsung menghabisi Shelvi. Namun, ia tahu semuanya akan semakin runyam jika ia sampai melakukannya.
"Darren, apa sih yang kamu lihat dari Kiran? Dia tidak cantik,dari keluarga miskin dan juga tidak berpendidikan tinggi. Lebih baik aku daripada dia, Darren!" Kata Shelvi. ia masih berusaha untuk menghentikkan Darren.
Brak.
Darren terlanjur emosi hingga tanpa sadar ia langsung mendorong Shelvi. Napas Darren memburu sembari menatap nyalang ke arah Shelvi yang tersungkur di lantai. Darren mengepalkan tangannya erat. Setelah itu ia pun berjongkok di samping Shelvi.
"Kamu benar istriku memang berasal dari keluarga yang sederhan. Tapi dia jauh lebih sempurna daripada wanita murahan sepertimu," ujar Darren suaranya mengalun rendah dan penuh penekanan.
Shelvi menelan salivanya susah payah ketika melihat tatapan tajam Darren. Jantungnya pun berdetak kencang, apalagi ketika Darren mencengkram kuat dagunya.
"S....Sakit, Darren! Lepas aku," ujar Shelvi sembari mencoba melepaskan tangan Darren.
"Lepas?! Tidak sebelum kamu pergi dari sini. Malam ini juga aku tidak ingin melihatmu berada di sini!" bentak Darren suaranya mengalun tinggi membuat Shelvi bergidik ngeri ketakutan.
"T...Tapi ini sudah ma......"
"Aku tidak peduli, Shel! Atau aku akan katakan pada semua orang kalau kamu sudah berhubungan badan dengan Kevin?"
__ADS_1
Shelvi menghembuskan napas pelan. Ia memejamkan mata sejenak lalu mengangguk.
Oke, aku akan pergi. Tapi ingat, Darren! Sampai kapan pun kamu hanya milikku. Tenang saja aku akan kembali untuk mendapatkanmu."
"Sialan! Mati saja kau Shelvi!" geram Darren.
****
Kiran tertegun setelah mendengar semua ucapan Darren dan Shelvi. Ia yang berniat mengambil air minum di dapur, memilih berhenti dan tidak sengaja mendengar semuanya. Jantung Kiran berdetak kencang, ternyata selama ini ia telah salah menilai Darren.
"Tapi tetap saja dia bersalah karena sudah memukulku," gumam Kiran. Namun, tidak ia pungkiri jika hatinya merasa jauh lebih lega dan tenang dari sebelumnya.
Kiran memutuskan kembali ke kamar sembari menunggu Darren dan Shelvi berhenti bertengkar. Namun, karena mengantuk akhirnya Kiran tertidur dengan nyeyak.
Pagi harinya, Saat jam masih menunjukkan pukul 05.30, Kiran sudah bangun dan berada di dapur. Hari ini, setelah berpikir panjang dan mempertimbangkan segalanya. Kiran berniat memaafkan Darren. Kiran berharap agar Darren senang dengan keputusan yang ia ambil. Hari ini juga, Kiran berniat membuat makanan kesukaan Darren yang sudah lama tidak ia buat.
Selesai memasak, Kiran berencana menyiapkan baju untuk Darren. Kiran tersenyum tipis, detak jantungnya mulai menggila saat mengingat Darren.
Sesampainya di kamar, Kiran terkejut saat Darren sedang berdiri di depan lemari. Darren terlihat menawan dengan tubuh bagian atasnya yang terpampang dan tidak tertutup sesuatu apapun.
"Menurutmu?" Suaranya terdengar begitu datar. Bahkan Darren tidak menoleh sama sekali ke arah Kiran
"A....Aku bantu cariin bajunya. K...Kamu duduk sa....," ucapan Kiran terhenti ketika Darren berbalik dan melihatnya. Kiran gugup, bahkan keringat dingin pun langsung mulai membasahi tangannya.
"Tidak perlu! aku bisa mencarinya sendiri," jawab Darren seadanya. Setelah itu, ia pun kembali mencari pakaian kerja yang cocok untuknya.
"T...Tapi nanti kamu terlambat kalau terus mencarinya begitu. Biar aku saja, Ya," tanya Kiran lagi. Kali ini ia memberanikan diri berdiri di samping Darren yang sedang kebingungan mencari baju.
"Tidak perlu repot - repot begitu. Aku bisa mencarinya sendiri," balas Darren karena kali ini suaranya terdengar lebih datar dan dingin dari sebelumnya.
"T....Tapi......,"
__ADS_1
"Jangan berpura - pura peduli denganku, Kiran! Jangan membuatku semakin berat untuk melepaskanmu," ujar Darren tatapan matanya begitu nanar saat beradu pandang dengan Darren.
"Aku tidak berpura - pura. Aku hanya........"
"Sudahlah, Ran! lebih baik kamu urusi dirimu sendiri,"
Darren mengambil asal baju dari dalam lemari. Setelah itu, ia pun membawanya ke dalam kamar mandi.
"Kenapa dia begitu padahal aku sudah ingin memaafkannya," ujar Kiran menatap ke arah pintu kamar mandi.
Kiran memutuskan duduk di tepi ranjang sembari menunggu Darren selesai ganti baju. Kali ini Kiran berharap Darren bersedia berbicara lagi dengannya.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Darren pun keluar. Wajahnya terlihat begitu tampan. Apalagi hari ini ia mengenakan kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam. Auranya membuat Kiran tak mampu berpaling darinya.
"Kenapa dia justru terlihat semakin tampan? Ah, apa aku berdosa karena beberapa hari ini telah mengabaikannya?" gumam Kiran. Tatapan matanya terus tertuju pada Darren yang sedang menata rambutnya.
Darren menghela napas pelan kemudian berbalik menatap Kiran. " Kali ini apa lagi? Kenapa kamu menatapku begitu?" tanya Darren.
"T....Tidak ada. Aku hanya..." Kiran tidak meneruskan ucapannya. ia justru menggeleng sembari mengalihkan pandangannya dari Darren.
"Kalau kamu ingin bertanya tentang perpisahan kita. Kamu tenang saja, hari ini aku akan segera mengurusnya," ujar Darren.
Kiran menunduk, hatinya berdesir lara mendengar ucapan Darren. Rasanya ingin sekali memeluk dan mengatakan jika dirinya tidak mau berpisah dari Darren. Namun, dirinya merasa begitu malu.
"O...Oh begitu." balas Kiran sekenanya.
"Hm, dan satu lagi. Malam ini aku akan pulang terlambat, jadi jangan menungguku untuk makan malam."
"Mau kemana?" tanya Kiran.
"Ada pemotretan bersama Vanesha."
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca.
Jangan lupa like komen dan vote.