Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Kelakuan Pria Gila ( Niko)


__ADS_3

Lagi - lagi karena ucapan Kenzo, hati Kevin berdesir. Perasaan menyesal pun semakin berkembang di hatinya. Kevin tidak menyangka jika Darren sangat menyayanginya. Namun semuanya sudah terlanjur terjadi.


Kini orang - orang yang dulu yang meyayanginya telah berubah membencinya. Kevin telah kehilangan orang - orang yang sangat berharga di hidupnya. Bahu Kevin bergetar, ia menangisi hidupnya yang penuh akan dosa dan penyesalan.


"Sekarang semuanya sudah terlambat hanya karena rasa iri, kamu telah kehilangan segalanya," kata Kenzo sembari menepuk pelan pundak Kevin.


Kevin mengangguk pelan. setelah itu, ia menatap Kenzo dengan pandangan sendu. Dengan tangannya yang gemetar, Kevin menyentuh tangan Kenzo.


"O...Om, m...maaf." lirih Kevin sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri.


Kenzo menatap datar tanpa ekspresi ke arah Kevin yang kini sudah tidak sadarkan diri. Ia menghembuskan napas pelan kemudian beranjak berdiri.


"Bawa dan obati Kevin, Bara! Biarkan dia hidup dan merasakan penderitaannya sendiri," kata Kenzo meliriik Bara yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.


"T... tapi, Ken? Bukankah akan bahaya kalau...."ucapan Bara terhenti ia memilih diam ketika Kenzo mengangkat tangannya.


"Saya yakin dia sudah menyesali semua perbuatannya. Dan saya yakin jika hidupnya akan sangat menderita nantinya. Jadi, biarkan dia hidup untuk merasakan hal itu,"


Bara tidak mampu berkata - kata dan ia tersenyum miring, kemudian menganggukan kepala. Meskipun terkesan mengasihani Kevin, tetapi sebenarnya Kenzo cukup kejam padanya. Ya, Kenzo hanya membiarkan Kevin hidup untuk merasakan kesengsaraan.


"Baikalah, kalau begitu aku setuju dengan rencana kamu, Ken. Tapi ngomong - ngomong, bagaimana dengan Cindy? Apa dia sudah kamu tangani?" tanya Bara penasaran.


"Dia pingsan karena kekurangan banyak darah. Setelah saya menembak kakinya. Tapi kemungkinan besar dia akan baik - baik saja," jawab Kenzo. Kini dia bersandar di dinding sembari menormalkan detak jantungnya yang tiba - tiba menggila.


"Berarti sekarang kita hanya tinggal mengurusi Niko?"


"Hm, Alex sudah menyelesaikannya. Mungkin saat ini Niko sudah tunduk," kata Kenzo, ia mengusap wajahnya dengan kasar kemudian berjalan meninggalkan Bara.

__ADS_1


Kenzo menatap ke seluruh penjuru ruangan. Tidak ada barang yang masih tertata rapi. Semuanya hancur berantakan akibat dari pertempuran.


"Saya tidak yakin mereka akan baik - baik saja setelah ini," gumam Kenzo.


Jujur saja, perasaan sedih kini bersarang di hati Kenzo. Ia sedih karena akhirnya Bima mati sebelum dirinya berubah menjadi orang yang lebih baik lagi. Namun, meski begitu ia juga lega. Sebab, kali ini tidak akan ada lagi orang yang jahat mengusik ketenangan keluarganya.


Saat sedang termenung, tiba - tiba Bastian datang dengan napas yang memburu. Wajahnya babak belur karena memang sedari tadi dia terus berkelahi.


"Ken, ini benar - benar gila," kata Bastian. Suaranya sedikit terbata - bata.


"Apanya yang gila? Kamu?" tanya Kenzo sambil menatap datar wajah Bastian.


"Sial, bukan itu! Tapi Niko, Ken. Dia benar - benar sudah gila. Kamu tahu? Dia berhasil melukai Alex."


Kenzo mengangkat satu alisnya. Wajahnya tampak semakin dingin dan tanpa ekspresi.


Namun, karena tubuhnya sudah penuh dengan luka, Bastian pun meringis kesakitan dan berkata dengan kesal, " Brengsek! Alex yang menyuruhku untuk kesini, Ken. Dia butuh pertolongan darimu!"


"Hm, dasar lemah!" Ejek Kenzo sebelum ia pergi meninggalkan Bastian yang kini menggeram kesal.


"Cih! Dasar manusia kaku," ucap Bastian yang kesal dengan sikap Kenzo.


Kenzo berjalan cepat menghampiri sebuah ruangan tempat Alex dan Niko. Sesampainya di ruangan tersebut, Kenzo begitu syock, Niko terlihat menyeramkan karena sedang memegang pistol.


Apalagi, pria gila itu menembak asal ke seluruh arah. Kenzo menggeleng pelan, rasanya ia sudah begitu lelah menghadapi kelakuan Niko. Oleh karena itu, tanpa pikir panjang Kenzo mengeluarkan pistolnya. Ia berdiri di balik pintu sembari mengarahkan pistol ke arah Niko. Kenzo tersenyum sinis, ia senang karena Niko tidak menyadari kehadirannya.


Kenzo bersiap untuk menembak Niko ketika melihat Alex yang mulai terpojok. Ia mendengus pelan saat melihat Alex yang mulai ketakutan.

__ADS_1


"Sepertinya keberanian Alex sudah mulai habis terkikis habis oleh usia," gumam Kenzo. Setelah itu, ia pun fokus mengarahkan tembakannya agar mengenai tangan Niko.


Dor!


Brak!


"Bangsat! Siapa yang melakukan ini?" Niko meraung kesakitan. Ia memegangi tangannya yang terkena tembakan dari Kenzo. Oleh karena itu, pistol yang di pegangnya pun jatuh.


Melihat kesempatan yang begitu bagus, Alex pun langsung mendorong Niko. Ia menendang kaki bagian kiri Niko lalu membogem wajahnya.


Kini Niko terkapar tidak berdaya di atas lantai. Wajahnya sudah babak belur dan di beberapa bagian mengeluarkan darah.


"Suruh dokter untuk mengobati lukanya, Lex! Dia akan senang kalau di biarkan mati begitu saja!"


"Ken, apa kamu yakin?"


"Tentu saja. Dia akan sengsara kalau kita biarkan hidup, Lex. Jadi lakukanlah apa yang saya perintahkan!


"Baiklah. Oh, ya pasukan yang di miliki Niko sudah berhasil di amankan semua. Kita hanya tinggal menunggu polisi datang,"


"Ok, kita pulang sekarang," ucap Kenzo. Kemudian Kenzo meregangkan tangannya yang terasa begitu pegal. Ia berjalan menuju ke luar rumah Bima.


Bersambung..


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen dan vote.

__ADS_1


...*** Selamat Menunaikan Ibadah Puasa ***...


__ADS_2