Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Darren memutar bola matanya. Ia menatap malas ke arah Daniel sembari menjauhkan dirinya dari Kiran. Darren bersedekap lalu berkata " Di mana Citra?"


"Mana aku tahu. Apa kamu pikir aku adalah ibunya yang harus selalu tahu dia ada di mana?"


"CK! Hanya karena patah hati kamu jadi berubah drastis begini, Niel. Astaga sepertinya aku harus mencarikanmu pasangan," ujar Darren sembari menatap Daniel.


"Berhenti membicarakan hal yang tidak bermutu, Kak Darren! Sekarang ayo pulang! Aku malas melihat kalian berdua ketus Daniel.


"Kamu pikir aku tidak marah melihat wajah jelekmu, Niel?"


"Mas sudah! Jangan meledek Daniel terus! Kasihan dia. Sepertinya dia benar - benar patah hati."


"Hmm."


Darrren hanya bergumam pelan. Setelah itu ia pun bergegas mengambil tas berukuran sedang yang berisi beberapa pakaian. Darren menyampirkannya pada bahu.


"Sudah siap - siap?" tanya Darren sembari menatap Kiran yang sedang menggendong Arka.


"Sudah, ayo kita pulang, Mas?"


Darren tersenyum manis. Setelah itu ia pun menggandeng tangan Kiran menuju ke parkiran. Keduanya merasa begitu bahagia. Apalagi kali ini sudah ada Arka di tengah - tengah mereka.


"Terima kasih, Ya? kamu sudah membuatku menjadi seorang Papa," kata Darren ia mengecup singkat pipi Kiran.


"Seharusnya aku yang berterimakasih Mas, terimakasih karena kamu sudah mau mencintaiku,"


"Sama - sama, Sayang. Mulai saat ini dan seterusnya, tidak akan ada yang memisahkan kita."


"Aku harap kamu menepati janji,Mas."


"Tentu sayang hanya kamu satu - satunya wanita yang aku cintai selain Mama," balas Darren.


Kiran tersenyum lalu mengangguk rasa bahagia semakin membuncah setelah mendengar ucapan Darren.


"Benar, tidak akan ada yang bisa memisahkan kami," gumam Kiran.

__ADS_1


"Bagus! Pulanglah, Darren! Pulanglah dan bersiaplah untuk merasakan apa itu kehancuran," gumam seorang pria yang sedari memperhatikan Darren dari kejauhan.


"Apa tidak terlalu cepat kalau kita bertindak sekarang, Vin?" tanya Shelvi dan menyandarkan kepalanya pada bahu Kevin.


"Siapa yang akan bertindak sekarang? Kita masih harus menunggu informasi dari Papa.


"Benarkah! Syukurlah. Setidaknya biarkan Darren dan istrinya bahagia meski hanya untuk sementara waktu," ujar Shelvi sambil terkekeh sinis.


"Hm, dan setelah itu mereka tidak akan pernah merasakan kebahagiaan."


***


Hari demi hari berlalu. Kini sudah lebih dari lima hari Kiran dan Arka pulang. Kindisi keduanya pun semakin membaik sehingga membuat Darren pun merasa lebih tenang saat berangkat kerja.


"Hari ini Mama sama Papa pulang, Ran. Kemungkinan besar, mereka akan sampai sini siang atau sore," ujar Darren yang sedang memakai dasi.


"Benarkah? Rumah ini pasti sangat ramai. Aku sudah tidak sabar mau bertemu dengan Mama," balas Kiran wajahnya tampak berbinar, sedangkan tangannya begitu cekatan mengganti popok Arka.


"Ya tapi mereka nggak bisa lama. Setelah acara syukuran Arka selesai mereka akan kembali. Tapi kamu tenang aja nanti ada Luna yang akan tinggal di sini, jadi kamu tidak merasa kesepian lagi, Ran."


"Apa Arya sudah menghubungimu, Ran?" tanya Darren. Pasalnya sudah terhitung cukup lama, tetapi Arya juga belum memberikan kabar


mengenai Ayah kandung Kiran.


"Belum Mas, mungkin dia sedang banyak urusan. Sekarang aku juga tidak berharap untuk bertemu dengan Ayah lagi," jawab Kiran sembari memasangkan dasi untuk Darren.


"Kenapa?"


"Aku tidak mau banyak berharap, Mas? lagi pula semuanya sudah baik - baik saja. Jadi tidak masalah meski aku tidak bertemu dengannya.


Darren mengangguk, ia tersenyum manis lalu mengecup kening Kiran.


"Tapi aku berharap kamu bisa bertemu dengannya, Ran. Ya, setidaknya kamu tahu kalau kamu masih memiliki keluarga," ujar Darren.


"Ya, tapi kita lihat saja bagaimana nanti. Kalau Ayahku memang masih hidup, kita pasti akan bertemu dengannya."

__ADS_1


Keduanya saling berpandangan. Kiran tersenyum manis sambil mengalungkan tangannya ke leher Darren. Sedangkan Darren, merengkuh pinggang Kiran dengan mesra.


"Kamu cantik," ujar Darren sambil mengusap lembut pipi Kiran.


Pipi Kiran sudah bersemu merah. Darren sudah sering memujinya cantik, tetapi harinya tetap saja gugup.


"I...Ini sudah siang, Mas. Cepat berangkat nanti kamu terlambat!" Kata Kiran sembari mendorong dada Darren agar menjauh darinya.


"Kamu lucu sekali kalau lagi gugup kaya gini, Ran," balas Darren sambil terkekeh geli. Ia menatap Kiran kemudian mengambil jasnya yang tersampir di kursi.


"Jangan meledekku begitu, Mas!"


"Iya, Sayang. Ya sudah aku berangkat dulu ya," ujar Darren sembari menyodorkan tangannya ke arah Kiran.


"Hati - hati di jalan! Jangan sampai telat makan siang ya!" kata Kiran sembari mengecup punggung tangan Darren.


"Hm, jaga diri baik - baik di rumah. Kalau terjadi apa - apa denganmu atau Arka, segera beritahu aku."


"Iya, kamu berangkat sama Daniel, kan? tanya Kiran. Ia menggedong Arka kemudian mengikuti langkah Darren keluar dari kamar.


"Tidak, hari ini Daniel izin nggak berangkat kerja. Katanya ada hal penting yang ingin ia lakukan."


"Hal penting? Tumben sekali dia izin kerja. Biasanya dia kan yang paling rajin,"


"Entahlah, tapi katanya dia ingin menemui Arya. Selain itu dia hanya ingin menenangkan dirinya saja."


"Menenangkan diri bagaimana maksudmu, Mas?" tanya Kiran yang masih kurang mengerti dengan ucapan Darren.


"Kamu tahu sendiri, kan? Kalau Citra sudah bertunangan denga pria lain. Daniel patag hati dan membutuhkan ketenangan," jawab Darren. Ia berbalik kemudian menatap Kiran.


"Ah iya kamu benar. Padahal aku pikir mereka saling mencintai. Tapi rupanya Citra telah menemukan pendamping hidupnya." balas Kiran.


"Hm, aku berangkat dulu. Jangan lupa untuk istirahat!"


"Iya, hati - hati di jalan, Mas."

__ADS_1


Jangan lupa,like, komen dan vote.


__ADS_2