Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Ampuni Kami


__ADS_3

Kenzo tersungkur dan sudut bibirny berdarah, karena pukulan dari Bima. Kenzo meludah setelah itu, ia kembali bangkit.


Belum sempat Kenzo berdiri tegak, Bima kembali memukulnya. Kali ini, Bima memberikan tendangan yang cukup keras pada kaki Kenzo. Oleh karena itu, lagi - lagi Kenzo tersungkur.


Namun, Kenzo justru tersenyum miring. Baginya itu, belum seberapa.


"Lihat, baru seperti ini saja kamu sudah hampir mati, Ken. Bagaimana bisa kamu mem..." belum sempat selesai bicara Kenzo menarik kaki Bima.


Akibatnya, Bima terkapar di atas lantai. Melihat kesempatan besar itu, Kenzo segera beranjak dan duduk di atas perut.


Bugh!


Sebuah pukulan yang cukup keras Kenzo berikan tepat mengenai wajah Bima. Ia tidak peduli meski wajah Bima sudah babak belur. Bahkan, sudut bibir dan pelipis Bima pun sudah berdarah.


"Selama ini saya selalu diam dan berharap kamu sadar, Bima. Tapi nyatanya kamu semakin kurang ajar. Bahkan kamu berani mencelakai anak dan menantuku," sembari mencengkram kuat rambut Bima.


Mata Kenzo memerah, seolah - olah ada ribuan dendam yang sudah menggunung di hatinya.


"Kamu tidak berhak ikut campur, Ken!" Balas Bima dengan terbata - bata.


"Tidak berhak? Darren anak saya dan Kiram adalah menantu saya, Bima. Saya tidak akan tinggal diam jika kamu berani menyentuhnya," sergah Kenzo marah. Satu tangannya mencengkram rambut Bima, sedangkan tangan yang lainnya mencengkram leher Bima dengan cukup kuat.

__ADS_1


Melihat kondisi Bima yang semakin terpojok, Cindy berinisiatif membantu. Dia ambilnya pistol Bima yang tergeletak di lantai. Dengan tangan yang bergetar ia mencoba mengarahkan pistol tersebut ke arah Kenzo.


Kenzo tersenyum sinis sembari mengarah ke arah Cindy. Perasaannya tidak gentar sama sekali, ia justru merasa lucu saat melihat posisi tangan Cindy ketika memegang pistol.


"Kamu akan mati, Ken. Kamu akan binasa." gumam Cindy dengan tersenyum penuh kepuasaan.


Set! Dor!


"Argh!"


Cindy menjerit keras tepat setelah Kenzo menembak kaki bagian kirinya. Ia benar - benar terkejut karena Kenzo begitu sigap mengeluarkan pistol lalu menembaknya.


"Ular betina sepertimu, tidak akan mampu melawan singa yang kelaparan," ujar Kenzo.


"Ini, belum seberapa Bima, kamu akan mendapatkan hal yang jauh lebih menyakitkan dari ini," kata Kenzo dengan suara yang terdengar rendah tetapi sarat akan emosi.


"Kau...." mata Bima mendelik.Ia bahkan sampai menghentikkan ucapannya karena tidak tahan dengan rasa sesak akibat dari cengkraman Kenzo.


"Hidupmu dan seluruh keluargamu, akan hancur di tangan saya."


Napasnya semakin tersengal - sengal. Dadanya pun berdetak kencang, seiring dengan seringai kejam yang di tunjukkan oleh pria yang kini sedang duduk di atas perutnya.

__ADS_1


"Tamatlah riwayatmu, Bima," lirih Kenzo suaranya begitu merdu, tetapi sukses membuat Bima merinding ketakutan.


Kini mata Bima membelalak lebar. Mulutnya menganga dan berusaha untuk meraup oksigen sebanyak - banyaknya. Bima merintih, ia herharap Kenzo memiliki belas kasihan dan mau melepaskannya.


"H... hentikan kumohon jangan bunuh suamiku," kata Cindy, yang tidak tega melihat Bima yang hampir mati. Air mata kini telah bersimbah membasahi pipinya.


Cindy mencoba bangkit untuk berdiri, tetapi luka tembak di kakinya justru semakin sakit. Cindy meraung, ia menangis sejadi - jadinya ketika tubuh Bima semakin terkulai lemah.


"Jangan bunuh suamiku! Kamu akan masuk ke penjara kalau sampai kamu lakukan itu. Aku mohon ampuni kami," ucap Cindy sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Ia bersimpuh di dekat Kenzo.


"Mengampuni kalian! Hei! Bukankah selama ini saya selalu mengampuni kalian? Tapi apa balasannya, hm? Kalian justru semakin sombong," sergah Kenzo. Ia tersenyum miring lalu beranjak dari atas tubuh Bima yang sudah tidak berdaya.


Kenzo berdiri sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tatapan matanya begitu datar dan tajam menghunus tepat ke arah Cindy.


"Tolong, beri kami satu kesempatan lagi. Kami janji akan berubah dan akan berbuat baik dengan kalian semua," sambung Cindy ia menunduk dalam, seolah - olah memang telag menyesali segala perbuatannya.


"Tidak ada kesempatan apapun untuk manusia jahat dan serakah seperti kalian. Semuanya sudah berakhir sekarang," balas Kenzo dengan nada suara yang begitu sinis.


Mendengar ucapan Kenzo, Cindy langsung menggeleng. Bayangan akan kematian dan juga penderitaan membuatnya semakin ketakutan. Cindy tentu tidak ingin mati secepatnya. Ia juga tidak mau hidup dalam penderitaan.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2