Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Jangan Salahkan Aku, Tuan


__ADS_3

Diam Daniel! sekali lagi aku melihatmu berani mendekati Kiran. Maka aku pastikan kau akan menyesal seumur hidup!". ancam Darren dengan penuh emosi. Darren langsung menarik tangan Kiran dengan kasar dan langsung menyeretnya.


Melihat kepergian Darren dan Kiran, Daniel terkekeh geli sambil menggelengkan kepalanya. kemudian dia bersedekap sejenak lalu kembali duduk sembari merasakan punggungnya yang masih terasa sakit. dan berkata " Akhirnya si gunung es bisa mencair juga, melihat Kak Darren cemburu karena cinta benar - benar menggelikan. bilangnya benci padahal benar - benar cinta." ucap Daniel dalam kesendiriannya.


"Siapa yang menyuruh mu untuk duduk di sana hah?! " tanya Darren pada Kiran ketika keduanya sudah berada di kamar.


"Tidak ada yang menyuruhku," jawab Kiran santai.


"Lalu kenapa kamu ada di taman belakang itu? Apa kamu sengaja agar Daniel mendatangimu? tanya Darren sambil memenggang kedua pundak Kiran.


" Kalau iya memang kenapa Tuan Suami? bukankah itu bukan urusanmu? Lalu kenapa kamu marah hanya karena aku bersama Mas Daniel." ucap Kiran dengan wajah yang datar dan dengan perasaan yang gugup. karena takut Darren bisa jadi akan mengamuk.


" Kau..,!! Jangan berani kau memanggilnya dengan sebutan yang menjijikan seperti itu, Kiran! ucap Darren emosi sambil mencengkram kuat kedua pundak Kiran.


" Lalu, A..Apa masalahnya Tuan suami? Aku--'"


ucapan Kiran terhenti karena Darren langsung mendorongnya hingga terlentang diatas ranjang.


Darren mengurung Kiran dibawahnya. " Aku muak mendengarmu memanggil Daniel dengan sebutan 'Mas'!" ucap Darren.


" Kenapa muak, Ah,, atau jangan - jangan kau mulai cemburu Tuan Suami?" tanya Kiran sambil menatap lekat wajah Darren.


Cup!


Darren langsung ******* bibir Kiran dengan kasar dia bahkan tak segan menggigit bibir bawah Kiran hingga membuat istrinya tersebut meringis. Darren tidak peduli dengan segala penolakan Kiran. dia justru langsung mendaratkan tangannya tepat di kedua bukit kembar Kiran. Seolah - olah ia sedang mengungkapkan segala emosi dan kekesalannya melalui sebuah ******* panas dan menuntut.

__ADS_1


" Kalau aku memang cemburu kenapa, hemm? kamu keberatan kalau aku cemburu?" bisik Darren tepat di samping telinga Kiran. suaranya mengalun rendah dan sedikit serak, tetapi sarat akan emosi.


"Kamu cemburu Tuan suami? Apa berarti K..Kau sudah mulai mencintaiku kan? ucap Kiran. perasaannya mulai menghangat setelah mendengar pernyataan dari Darren


" Jangan salah paham Kiran! Aku tidak mencintaimu sama sekali. Aku hanya tidak senang kau menggoda Adikku Daniel. Karena dia tidak pantas untuk wanita sepertimu." ucap Darren sambil tersenyum sinis. dan mencengkram dagu Kiran dengan kuat.


"Aku tidak pernah sekalipun menggoda dia kita hanya berteman, itu saja." ucap Kiran perasaan kecewa kembali datang hingga kiran merasa kacau.


"Oh ya? berteman tapi pelukan? jangan kau anggap aku ini bodoh Ran! Aku tau kau menyimpan rasa untuk Daniel kan? tanya Darren senyum liciknya kembali mengembang sempurna.


Kiran hanya bisa menghembuskan napas panjang. ia kemudian memejamkan mata sejenak. dan menangkupkan kedua pipi Darren dengan tangannya. dan berkata "Bagaimana mungkin aku menyimpan rasa untuknya, sementara hatiku sudah terlajur jatuh cinta kepadamu, Tuan suami? Aku mencintaimu," lirih kiran dan tersenyum begitu manis kemudian matanya mulai berkaca - kaca sambil menatap wajah Darren.


Darren melonggarkan cengkraman tangannya pada dagu Kiran. perasaan hangat dan nyaman mulai hadir di hatinya. bahkan kini jantungnya berdetak kencang. bahkan terpaksa memalingkan wajahnya untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Setelah beberapa saat menormalkan detak jantungnya yang menggila. Darren mengusap wajahnya dengan kasar lalu menatap Kiran yang kini sudah duduk di depannya. Tak lama kemudian wajah Darren sudah berubah menjadi dingin bahkan rasanya kesalnya mulai meningkat seolah - olah Darren tidak suka mendengar ucapan dari Kiran.


"Aku tahu itu, karena sampai kapan pun kau tak akan pernah mencintaiku kan? tapi tidak apa - apa Tuan Suami, Sungguh aku tidak pernah memaksa mu untuk membalas perasaanku. Tapi ingat satu hal ini Tuan Suami!" kata Kiran. ia menunduk bahunya mulai bergetar menahan tangis dan rasa sesak.


"Akan tiba masanya nanti, kamu tidak akan pernah lagi melihatku." sambung Kiran sambil mendongak menatap Darren sendu.


"Baguslah! kalau perlu kau jangan pernah sampai muncul di hadapanku." ucap Darren wajahnya terlihat begitu santai namun tidak dengan hatinya yang mulai merasakan perasaan khawatir sekaligus takut.


"Tuan Suami, kau tak perlu khawatir tentang itu." lirih Kiran perlahan ia beranjak dari ranjang dan mulai membelakangi Darren.


"Setelah kau bercerai dariku, apa kamu akan menjebak pria kaya lagi. seperti kamu menjebak ku hemm?" ledek Darren ia terkekeh geli sembari bersedekap menatap punggung Kiran.

__ADS_1


"Maksud Tuan Suami? siapa yang telah menjebakmu?" ucap Kiran sambil melirik ke arah Darren. mendengar ucapan Darren tadi membuat Kiran merasa marah tangannya sudah mengepal kuat.


"Jangan pura - pura bodoh Kiran, aku tahu kamu memang telah menje----" ucapan Darren langsung terhenti


Plak!!!


"Cukup Tuan, Sudah berapa kali aku katakan, Aku tidak pernah menjebakmu, Tuan! Aku hanyalah korban di sini! Aku hanyalah korban yang kau anggap sebagai pelaku! ku mohon jangan menyalahkanku terus menerus dan menghinaku sesuka hatimu Tuan." ucap Kiran sambil mencengkram baju bagian depan Darren begitu erat.


"Benarkah? tapi sampai kapanpun aku akan menganggapmu sebagai pelaku" sinis Darren sambil mencengkram kedua bahu Kiran.


Kiran menggelengkan kepalanya. " kamu benar - benar adalah pria paling egois yang pernah saya temui Tuan Suami, Apa menurutmu kamu begitu hebat hingga aku harus menjebakmu" ucap Kiran


"Tentu saja aku pria dengan segudang prestasi yang tidak pernah kau dapatkan. Lagi pula, kau pasti sudah senang menjadi istri dari pria yang kau cintai?" tanya Darren balik, sambil tersenyum miring dan memperhatikan raut wajah Kiran.


"Tidak, aku sama sekali tidak merasa senang. Sejak dulu aku memang tidak pernah menyukaimu. tapi sekarang, mungkin aku sangat bodoh karena telah mencintai pria kejam seperti mu!!" ucap Kiran.


"Apa kamu Yakin? bukankah kamu begitu bahagia bisa memilikkiku? Ah,, andai kamu tidak menggunakan cara kotor seperti itu, mungkin aku akan mulai menyukaimu." ucap Darren.


"Sudah Aku katakan berulang - ulang kali bahwa Aku tidak pernah menjebakmu! Aku tidak menjebakmu Tuan Suami!!!" ucap Kiran dengan suara yang benar - benar bernada tinggi dan frustasi sambil berlinang air mata. Bahkan membuat Darren reflek mundur dan melepaskan cekalan tangannya pada pundak Kiran.


Kiran menggelengkan kepalanya. Rasa lelah pada hati dan pikirannya membuatnya tidak berdaya akan setiap ucapan yang terlontar dari mulut suaminya sendiri.


"Aku lelah Tuan! Aku terluka karena semua perlakuanmu padaku. Aku membencimu. tapi sayangnya Aku sudah terlanjur mencintaimu. Kamu sangat egois Tuan. kamu sudah membuatku jatuh cinta tapi kamu tidak ingin mencoba untuk membalasnya. Apa aku harus mati agar kau tak melukai perasaan dan bantinku lagi Tuan?!" ucap Kiran putus asa. Kiran mulai meremas rambutnya dengan kuat.


"Jangan menyakiti dirimu Ran, lepaskan tanganmu! ucap Darren ia meraih tangan Kiran dan mencoba melepaskan cengkraman Kiran pada rambut.

__ADS_1


"Lebih baik kau bunuh aku saja Tuan Suami! Biarkan aku mati menyusul ibu dan adikku saja. Aku sudah tidak kuat lagi menahan semua ini. A--Aku..."


Jangan lupa Like, komen dan vote.


__ADS_2