
Helena menurut, setelahnya ia pun memperhatikan Arka yang tampak semakin pulas.
"Dia mirip sekali dengan Darren saat masih bayi. Tapi Mama rasa alisnya mirip kamu, Ran."
"Mama benar, aku hanya kebagian alisnya saja," gerutu Kiran. Ia beranjak dari duduknya saat Arka mulai merengek karena merasa tidak nyaman dengan suara - suara di sekitarnya.
"Tidak apa - apa, yang terpenting kamu dan Arka sehat," balas Helena sambil memperhatikan Kiran. Helena lega karena Kiran begitu cekatan mengurus Arka.
Setelah beberapa saat Arka pun terdiam. Ia tampak menikmati pelukan Kiran yang sedang menggedongnya.
"Boleh Ayah menggedongnya?" tanya Kenzo setelah beberapa saat ia hanya terdiam.
"Boleh, silakan, Yah." Kata Kiran sambil menyerahkan Arka kepada Kenzo.
"Terima kasih. Kalau begitu, Ayah keluar dulu. Sepertinya Mama kamu mau berbicara hal yang penting padamu," ujar Kenzo sambil menatap Helena.
Kiran mengernyitkan dahi. Kiran lantas menoleh ke arah Helena.
"Mama mau bicara sesuatu padaku," tanya Kiran.
"Ya, tapi sebelum itu ayo ikut Mama!" ajak Helena.
"Kemana, Ma?" tanya Kiran sambil menatap Helena yang kini sudah berdiri di sampingnya.
"Ke kamar Mama ada sesuatu yang ingin Mama tunjukkan padamu," Kata Helena. Wajahnya begitu serius sehingga membuat Kiran pun merasa penasaran.
Kiran mengikuti langkah kaki Helena menuju kamar mertuanya tersebut. Jantung Kiran berdegup kencang bahkan,keringat dingin pun mulai membasahi kedua telapak tangannya.
"Kenapa aku gugup begini? Sebenarnya apa yang ingin Mama tunjukkan?" gumam Kiran
Sesampainya di kamar Helena, Kiran duduk di sofa. Sementara Helena begitu sibuk mencari - cari sesuatu. Helena membuka lemari, laci, bahkan melongok ke kolong ranjang.
"Mama nyari apa? aku bantu, ya," kata Kiran. Karena ia merasa kasihan saat Helena yang mulai gelisah.
"Tidak perlu, Ran. Kamu duduk saja."
"Tapi...." Ucapan Kiran terhenti saat melihat Helena berdiri di depan lemari kecil di sudut ruangan.Kiran mengernyitkan dahi. Ia merasa heran saat melihat Helena mengambil sebuah kotak berukuran sedang.
__ADS_1
"Mama ingin memberikan ini untukmu," ujar Helena. Ia mendekati Kiran lalu duduk di sampingnya.
"Itu apa, Ma?" tanya Kiran penasaran.
"Ini milik Ibumu. Dulu dia tidak sengaja meninggalkannya di kamar saat dia berhenti bekerja di sini. Saat Mama mau memberikannya, Ibumu justru sedang sakit pada waktu itu." jawab Helena suaranya lirih dan sedikit parau.
Kiran menunduk, ingatan seputar ibunya terputar jelas di otaknya .
"Kenapa Mama tidak memberikannya, saat ke desa dulu?" tanya Kiran.
"Mama tidak sempat, Nak. Mama begitu panik saat mendengar kabar kalau ibumu berada di rumah sakit. Bahkan Mama juga tidak mengingat kotak ini lagi, Ay?"
"Beberapa hari yang lalu saat Mama sedang mempersiapkan barang untuk di bawa pulang kesini. Mama baru ingat tentang kotak ini. Nah sebelum Mama lupa lagi, akhirnya Mama memutuskan untuk memberikan ini padamu."
"Mama tahu apa itu isinya?" tanya Kiran matanya berkaca - kaca sembari menatap kembali ke arah Helena. Perasaan rindunya pada sang Ibu semakin membesar hingga ridak mampu menahan kesedihan.
Helena menggeleng pelan. Ia memang tidak pernah membuka kotak hitam yang saat ini berada di tangannya. Selain merasa tidak berhak, Helena juga merasa tidak enak jika harus membuka sesuatu yang bukan miliknya.
"Mama tidak tahu apa isinya. Tapi sepertinya ini cukup penting untuk ibumu. Karena saat itu, ketika Mama mengatakan kalau kotak ini tertinggal,ibumu panik."
Kiran mengangguk menghembuskan napas pelan. Kiran tersenyum tipis sambil menyeka sudut matanya yang sedikit basah.
"Boleh dong, Ran. Tapi kalau boleh sih Mama juga ingin tahu apa isi kotak itu," gurau Helena sembari menyerahkan kotak tersebut kepada Kiran.
Kiran terkekeh pelan setelah mendengar ucapan dari Helena. " Baiklah kalau begitu aku akan membukanya disini." ujar Kiran.
"Eh, Mama hanya bercanda, Ran. Kamu boleh kok membukanya di kamar. Siapa tahu itu barang penting dan rahasia milik ibumu."
"Tidak apa - apa kok, Ma. Mamah juga berhak melihat ini. Apalagi selama ini Mama sudah menyimpannya dengan sangat baik," balas Kiran ia tersenyum tipis saat beradu pandang dengan Helena.
"Kalau begitu baiklah," jawab Helena.
Kiran pun mengangguk, setelah itu, ia pun membuka kotak di pangkuannya. Tangan Kiran sedikit gemetar saat kotak tersebut telah terbuka sepenuhnya.
Tatapan Kiran begitu sendu. Hingga tanpa sadar ia meneteskan air matanya. Saat melihat selembar foto yang berisi dirinya, Larasati dan juga adiknya Bagas.
"Jangan menangis Nak. Sekarang mereka sudah tenang, di alam sana." ujar Helena sambil mengusap bahu Kiran.
__ADS_1
"Rasanya aku masih tidak percaya kalau mereka sudah tiada, Ma. A....Aku merindukan mereka," kata Kiran sambil memeluk Helena.
"Kalau kamu rindu, kamu doakan mereka. Atau kalau kamu mau, kamu bisa meminta Darren untuk mengantar ke makam mereka.
Kiran hanya mengangguk dan menangis di pelukkan Helena. Setelah cukup tenang Kiran pun kembali menatap ke arah kotak.
Kini tatapan Kiran, tertuju pada selembar foto yang lain yang terlihat begitu usang. Kiran membelalakkan matanya. Ia begitu terkejut saat melihat sepasang suami istri di dalam foto tersebut.
"Ma, ini...." Kiran tidak mampu melanjutkan ucapannya. Ia kembali menangis saat melihat foto Larasati dan seorang pria yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Helena bergegas memeluk Kiran. Ia mengusap - usap punggung Kiran lembut untuk memberikan sedikit ketenangan.
"Jangan menangis, Nak!"
Kiran tidak menghiraukan ucapan Helena. Ia justru semakin terisak sembari menatap foto usang tersebut.
"A...Ayah,' lirih Kiran pilu.
Kiran masih terisak. Dadanya begitu sesak karena rindu dan kecewa yang menggebu - gebu. Ia sangat rindu dengan Larasati yang kini telah tiada. Namun, di sisi lain ia begitu kecewa saat melihat foto seorang pria tampan yang berdiri di samping Larasati.
"Kenapa kamu begitu tega meninggalkan Ibu? Kenapa kamu tega menelantarkan anakmu yang masih kecil?" tanya Kiran suaranya begitu parau.
"Tenang Kiran! Jangan menangis seperti ini, Nak. Jangan berpikir buruk dulu, siapa tahu Ayahmu mempunyai alasan yang membuatnya harus pergi," kata Helena. Ia mencoba menenangkan Kiran yang semakin tak karuan.
"Tapi apa alasannya apa, Mah? Dia bahkan tidak pernah memberikan kabar untuk Ibu. Dia menghilang tanpa tahu kalau ibu sedang mengandung, adikku Bagas." ujar Kiran. Air matanya semakin tumpah membasahi pipinya.
Kali ini Helena diam. Ia tidak mampu membalas ucapan Kiran. Helena menghembuskan napas pelan sembari memeluk erat Kiran.
"Rasanya aku begitu kecewa saat melihat wajahnya untuk pertama kalinya, Ma. Dia seorang pria, tapi kenapa dia tidak bertanggung jawab?"
"Tenangkan dirimu dulu, Ran. Tarik napas pelan - pelan lalu hembuskan. Jangan sampai rasa kecewamu memupuk kebencian!" Kata Helena sambil menyentuh kedua pundak Kiran.
Tapan mata Helena begitu serius. Ia tidak ingin jika Kiran sampai membenci Ayahnya sendiri.
"Mama yakin Ayahmu pasti memiliki alasan yang jelas. Lagi pula, bagaimana kalau dia sudah tiada?"
Yuhuu semuanya semakin jelas, Ya! Kiran sudah melihat foto Larasati dan suaminya.
__ADS_1
Nantik terus kisah mereka Ya!
Jangan lupa like, komen dan vote.