
Daniel bisa melihat rasa lelah dan khawatir yang terpancar dari kedua mata manik Kakaknya.
"Kalau begitu syukurlah. Aku harap dia segera sadar dan tidak lagi berbuat macam - macam dengan kita,"
"Hm, semoga saja." balas Darren sembari mengulas senyum tipis.
Kini keduanya pun terdiam dan sibuk, dengan pikiran masing - masing. Darren memikirkan perkataan Om Bima yang tadi sedangkan Daniel? Ia tengah menerka - nerka apa yang di sembunyikkan Darren.
Namun, karena merasa bosan sebab tidak ada yang berbicara. Daniel pun berniat memberitahukan hal yang pasti akan membuat Darren terkejut. Daniel terkekeh pelan, ia merasa lucu saat membayangkan bagaimana reaksi Darren nantinya.
"Apa ada yang lucu, Niel? Kenapa kau tertawa begitu?" tanya Darren.
"Kak Darren? Apakah kamu tahu? Kalau Arya akan datang dan menjenguk Kiran," jawab Daniel.
"Apa kamu bilang?! Manusia kutub itu mau menjenguk istriku?" tanya Darren sambil membulatkan matanya.
"Sama - sama manusia kutub kok saling menghina," cibir Daniel.
"Diam, Niel! Kapan dia akan datang? Sial, rasanya aku tidak rela Kiran di lihat olehnya," kata Darren.
"Jangan pelit begitu, Kak Darren! Arya kan juga turut andil membantu Kiran. Jadi wajar saja kalau dia mau menjenguk Kiran."
"Tapi bagaimana kalau Kiran tergoda olehnya, Niel? Ya Tuhan, aku tidak bisa membayangkan hal itu terjadi."
"Bodoh! Memangnya Kiran wanita macam apa, Kak? Dia tidak mungkin tergoda dengan Arya. Lagi pula, dia, kan hanya cinta denganmu,"
"Ah, tetap saja Niel. Bagaimana kalau si manusia kutub itu menggoda Kiran.
"Dasar pencemburu!" tukas Daniel. Ia mendengus sebal sembari menatap Darren yang kini telah berjalan hendak memasuki ruang rawat inap Kiran.
"Bagaimana rasanya?" tanya Darren setelah melihat Kiran yang baru saja selesai memberikan ASI untuk Arka.
"Rasanya mendebarkan, Mas. Tapi aku sangat bahagia karena bisa memberikan ASI untuk Arka ," jawab Kiran ia tersenyum manis sembari menatap lembut wajah Arka yang sudah terlelap di gendongannya.
"Aku juga sangat bahagia melihatmu bahagia begini, Ran."
"Ngomong - ngomong? Apa yang Ayah Kevin katakan? Dia tidak berbuat macam- macam kan, Mas?"
"Tidak sayang. Om Bima hanya mengucapkan selamat kepadaku karena sudah menjadi orang tua."
"Kamu yakin, Mas?"
__ADS_1
"Tentu saja sayang, sudah jangan memikirkan dia lagi. Sekarang biarkan aku bertanya sesuatu padamu."
"Apa itu?" tanya Kiran.
"Arya akan datang kesini, Kan?"
"Iya, kata Daniel begitu?"
"Bagaimana kalau kita pindah Rumah Sakit saja?" tanya Darren.
"Kenapa harus pindah? Bukankah disini nyaman, Mas?"
"Iya, tapi aku tidak mau kalau Arya melihatmu, Ran. Aku cemburu," jawab Darren jujur.
Kiran terkekeh geli mendengar ucapan Darren. "Astaga, Mas? kenapa kamu cemburu? Mas Arya hanya ingin menjengukku dan Arka. itu saja kok."
"Iya, tapi tetap saja aku tidak rela kalau Arya sampai melihatmu, Ran. Bagaimana kalau dia menggodamu?"
"Dia tidak mungkin melakukan itu, Mas. Jangan khawatir begitu!"
"Tapi...."
"Mas, kamu percaya sama aku, kan?"
"Kalau begitu jangan berpikir yang tidak - tidak lagi! Dan ingat satu hal ini, aku hanya mencintaimu,"
"Benarkah?"
"Tentu saja. Aku sangat mencintaimu dan juga Arka," jawab Kiran ia tersenyum manis sembari mengusap lembut pipi Darren dengan satu tangan.
"Aku juga sangat mencintaimu dan juga anak kita," balas Darren sambil mengecup dahi Kiran.
***
"Bagaimana tugasmu, Arya? Sudah ada kemajuan?" tanya Pandu sembari menatap sang putra yang kini duduk di depannya.
"Tugas apa maksud, Ayah?" tanya Arya balik. Ia yang baru pulang setelah satu bulan full bekerja, tentu terkejut mendengar ucapan Pandu.
"Jangan pura - pura lupa, Arya! Ayah menyuruhmu untuk menikahi keponakan tunggal Kenzo wijaya," jawab Pandu. Gurat - gurat emosi perlahan tercetak di wajahnya yang sudah mulai menua.
"Oh masalah itu. Bukankah saya sudah menolaknya? Lagi pula saya tidak mau menikahi anak kecil," ujar Arya. Ia bersedekap sembari menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
__ADS_1
"Tapi, kamu tidak memiliki hak untuk menolak, Arya! Kamu harus bisa menikahinya. Atau kalau tidak, Maka Ayah akan mencarikan calon istri untukmu," ucap Pandu tatapan matanya begitu serius saat beradu pandang dengan Arya.
"Ayah juga tidak punya hak untuk mengatur kehidupan saya. Jangan memaksa saya lagi untuk melakukan hal yang tidak saya sukai!" ketus Arya.
Arya menghela napas pelan. Rasa lelah akibat pekerjaanya yang padat, kini justru semakin bertambah setelah mendengar ucapan Pandu. Arya heran sebab entah mengapa, Pandu terlalu memaksanya untuk dekat dengan Keponakan Kenzo Wijaya.
"Apa hanya karena harta, Ayah nekat berbuat seperti inii?" gumam Arya sambil memijat pangkal hidungnya.
"Tapi ini semua untuk kebaikan kamu, Arya! Kalau kamu menikahi keponakan Kenzo, maka kekayaan keluarga kita semakin maju," ujar Pandu sambil menatap serius ke arah Arya.
"Kebaikan untuk saya? Bukankah Ayah memaksa saya dan hanya menikahi dia untuk kepentingan perusahaan?. Tanya Ivan suaranya terdrngar sinis. Selain marah, Arya juga sudah muak karena terus dituntut untuk menikah dengan anak orang kaya.
Kepentingan perusahaan juga kepentingan kamu, Arya. Kalau tidak ada perusahaan mana mungkin kamu bisa berjaya seperti saat ini," tukas Pandu. Ia berkacak pinggang dan raut kemarahan semakin tercetak dari pancaran matanya.
Arya memilih diam. ia memejamkan mata sembari menikmati ocehan Pandu yang tidak kunjung berhenti. Arya berdecak kesal. Seharusnya ia tidak menuruti oermintaan sang ibu pulang.
'Kalau begini caranya, lebih baik tinggal di Apartemen,' batin Arya.
Melihat Arya yang hanya terdiam sembari memejamkan mata. Pandu merasa cukup terhina. Ia merasa Arya tidak lagi menghargainya sebagai seorang Ayah.
"Kalau kamu sampai tidak melakukan perintah, Ayah, maka kamu akan tahu sendiri akibatnya, Arya!"
"Sial! Sebenarnya apa maumu, Yah? Keluarga Kenzo saat ini sedang berada di luar negeri. Jadi saya tidak mungkin mendekati Keponakannya." sentak Arya. Lama - lama ia pun tersulut emosi. Karena Pandu terus saja menyudutkannya.
"Kalau begitu berusahalah setelah mereka kembali bersama dengan Keponakannya itu."
Arya mengepalkan kedua tangannya. Ia terlanjur muak dengan semua omong kosong yang di ucapkan oleh Pandu. Arya bangkit berdiri matanya mendelik tajam sambil tersenyum sinis saat beradu pandang dengan Pandu.
"Kenapa tidak Ayah saja yang mendekatinya? Dengar ini baik - baik, sampai kapan pun saya tidak akan melakukannya."
"Oh jadi kamu lebih memilih ****** itu, Arya?" tanya Pandu sambil tersenyum miring.
"Siapa yang kamu maksud ******?!" tanya Arya. Ia hampir saja meninggalkan Pandu, dan kembali berbalik.
"Tentu saja wanita yang akan kau jenguk itu. Cih! Apa kamu pikir Ayah tidak tahu, dengan apa yang kamu lakukan, Arya?" Pandu mengulas senyum angkuh saat melihat raut keterkejutan di wajah Arya.
"Kiran bukan ******! Dan satu lagi! Ayah tidak berhak mencampuri urusan saya!" tukas Arya. ia semakin marah karena Pandu menghina Kiran.
"Kalau bukan ******, dia tidak mungkin memintamu untuk menjenguknya. Bukankah dia sudah bersuami?"
"Brengsek!..."
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan Hadiahnya. Dan Jangan lupa komentarnya ya....!