Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Dunia Sangat Tidak Adil


__ADS_3

Citra memejamkan matanya. Ia tersenyum tipis ketika rasa sakit semakin terasa di seluruh tubuhnya. Hati Citra lega, sebab ia pikir kali ini dirinya akan benar - benar pergi meninggalkan dunia.


Namun, sudah beberapa menit berlalu, ia justru merasakan sakit yang teramat sangat di bagian perutnya. Citra mengernyitkan dahi kemudian mengusap perutnya pelan.


"Apa begini rasanya mati? Tapi kenapa aku masih bisa mendengar suara hujan?" gumam Citra. Karena merasa penasaran, ia pun perlahan - lahan mulai membuka matanya.


Citra tercekat, napasnya memberat saat ia menyadari jika dirinya masih hidup. Citra meringis, kali ini usahanya untuk mengakhiri hidup gagal.


"Dunia sangat tidak adil," lirih Citra sambil mengepalkan tangannya. Ia kembali menangis dan tidak peduli meski air hujan terus membasahi tubuhnya.


Citra meraung hingga suaranya pun menjadi serak.Ia lelah, dunia seolah - olah tidak berpihak padanya. Semua yang ia miliki kini sudah tak tersisa.


"Kamu baik - baik saja?"


Citra tersentak kaget. Ia menolehkan kepalanya ke arah samping.Citra mengerjapkan matanya beberapa kali saat melihat seorang pria berdiri di sampingnya.


Pria tersebut adalah Farhan. Seorang Ceo di sebuah perusahaan, baru saja pulang dari tempat kerjanya. Namun, sayangnya ia justru menabrak Citra yang tiba - tiba belari ke jalan.


Citra tidak kunjung menjawab. Ia memilih diam sembari merasakan sakit yang semakin menusuk perutnya. Citra meringis sehingga membuat Farhan pun semakin panik.


Farhan berjongkok di dekat Citra tanpa mempedulikan pakaiannya yang sudah basah kuyup.


Farhan mengusap wajah Citra lalu berkata, " Kita harus kerumah sakit sekarang. Kondisimu sangat buruk dan banyak darah yang keluar dari bagian bawah tubuhmu," ujar Farhan.


"T..Tidak! Jangan bawa aku kemanapun. Biarkan aku disini merasakan sakit untuk menebus semua dosa - dosaku. Aku tidak mau pergi," balas Citra suaranya terdengar lirih, tapi masih terdengar jelas oleh Farhan.


"Tapi kamu bisa mati, kalau terus seperti ini. Dan saya tidak akan bisa membiarkanmu mati begitu saja." sambung Farhan. Ia pun mulai bersiap - siap untuk mengangkat Citra.


"Justru aku sangat menginginkan kematian. Aku tidak ingin hidup lagi," balas Citra dengan lemah.


Tenaga Citra semakin terkuras habis. Tangannya pun kini mulai memucat dan terkulai lemas di sisi tubuhnya. Napas Citra semakin memberat.


Farhan menghembuskan napas panjang.Baru kali ini ia bertemu dengan seorang wanita seperti Citra. Farhan menatap lekat ke arah Citra. Hingga kemudian, tatapan matanya kembali tertuju pada kaki Citra. Farhan mulai cemas karena darah mengalir dari sela - sela paha Citra.


"Saya tidak tahu, masalah apa yang sudah kamu alami. Tapi yang jelas. Saya tidak bisa membiarkanmu mati. Saya akan bertanggung jawab." tukas Farhan.

__ADS_1


"A..Aku mohon jangan bawa aku kemana - kemana!" Ucap Citra.Ia mencoba memberontak tapi sayangnya ia sudah terlanjur lemah.


Farhan tidak mempedulikan rontaan dari Citra. Ia menggendong Citra kemudian langsung membawanya masuk ke dalam mobil.


"Aku harus segera membawamu kerumah sakit terlebih dulu. Setelah dari rumah sakit, kalau kamu memang ingin mati terserah. Yang terpenting sekarang saya sudah bertanggung jawab." kata Farhan sambil membaringkan Citra di kursi mobil bagian belakang.


Citra tidak menjawab apapun. Ia sibuk mengatur napasnya yang semakin memberat.


"Sialan!" Gerutu Farhan yang melihat Citra sudah begitu pucat. Setelah itu, ia pun langsung kembali ke kursi pengemudi.


Tanpa pikir panjang, Farhan langsung melanjukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Rasanya ia sudah tidak sabar ingin segera terbebas dari rasa bertanggung jawab.


Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Farhan pun sampai di rumah sakit. ia pun bergegas menggedong Citra yang kini sudah tidak sadarkan diri memasuki rumah sakit.


Sepanjang jalan menuju kedalam rumah sakit. Banyak sekali orang - orang yang menatap ke arahnya. mereka heran saat melihat Elvano tampak sangat kacau.


"Cepat periksa wanita ini!" Kata Farhan setelah Citra di baringkan di atas brankar.


"Baik, Pak." jawab Perawat tersebut.


"Semoga saja saya tidak berurusan dengan kepolisian," gumam Farhan. Sembari menghembuskan napas pelan.


Setelah setengah jam menunggu, akhirnya Dokter yang menangani Citra pun keluar. Farhan buru - buru mendekati sang dokter untuk menanyakan bagaimana keadaan Citra.


"Bagaimana kedaan dia, Dok? Tidak ada hal yang serius bukan?" tanya Farhan sembari menatap Dokter paruh baya yang berada di depannya.


"Dia tidak baik - baik saja. Saya rasa dia mengalami tekanan batin yang sangat tinggi. Selain itu ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada Anda," balas sang Dokter wajahnya terlihat begitu serius sehingga membuat Farhan begitu cemas.


"Ada apa, Dok? Apa nyawanya terancam?" tanya Farhan.


"Kalau telat sedikit saja di bawa ke rumah sakit, saya yakin dia tidak akan selamat. Saat ini kondisinya cukup buruk, apalagi kandungannya..."


"Apa?! Kandungan? Berarti dia sedang hamil, dok?" tanya Farhan yang tanpa sadar dia sudah memotong ucapan sang dokter.


"Memangnya Anda tidak tahu, Pak? Bukankah pasien itu Istri Anda, bukan?"

__ADS_1


"Bukan Dok. Saya tidak mengenal dia. Sekarang tolong bagaimana kedaan, kandungannya?" tanya Farhan yang semakin kalut setelah mendengar jika Citra tengah mengandung.


Dokter menghembuskan napas pelan. Wajahnya tampak murung.


"Kandungannya sangat lemah dan tidak bisa di selamatkan. Pasien keguguran, Pak."


Deg!


Kaki Farhan mulai lemas seketika. Ia terduduk di kursi sembari menatap lurus ke arah depan. "Aku sudah membunuh seorang bayi," gumam Farhan sambil menyugar rambutnya.


"Anda baik - baik saja, Pak?" tanya dokter sembari mendekati Farhan.


"Ya, saya baik - baik saja. Ngomong - ngomong, sampai kapan dia bisa sembuh?" tanya Farhan setelah berhasil menenangkan dirinya.


"Untuk saat ini pasien belum sadarkan diri. Jadi saya belum bisa memastikan hal itu."


Mendengar ucapan dari sang dokter Farhan pun menganggukan kepala.


"Baiklah, kalau begitu terima kasih banyak, Dok" ucap Farhan.


"Sama - sama saya permisi dulu. Sebentar lagi. Pasien akan di bawa ke ruang rawat."


Setelah kepergian sang dokter, Farhan berdecak kesal. Pikirannya begitu kacau sehingga membuat hatinya pun tidak tenang.


"Ck! Kesialan macam ini," gumam Farhan kesal.


Farhan bersedekap sembari menatap Citra. Berkali - kali ia menghembuskan napas panjang, tetapi hatinya tidak kunjung lega. Alih - alih lega, ia justru semakin gundah.


"Bagaimana kalau su... tunggu, saya harus segera mengabari Suaminya. Saya tidak mungkin terus berdiam begini," gumam Farhan.


Farhan beranjak dari duduknya. Ia berjalan mendekati brankar kemudian mengambil tas Citra. Farhan mencari - cari ponsel milik Citra. Namun sayangnya Farhan tidak menemukan apapun selain dompet, kartu identitas dan juga sebuah buku kecil.


"Apa mungkin ponselnya terjatuh?" tanya Farhan pada dirinya sendiri.


Jangan lupa like, komen dan vote.

__ADS_1


__ADS_2