
Sementara di mobil, Darren begitu fokus hingga tidak menyadari ponselnya dari tadi bergetar terus.
Butuh waktu lama bagi Darren untuk sampai di markas. Sesampainya di markas ia terkejut ketika tidak mendapati mobil teman - temannya. Darren justru melihat sebuah mobil yang cukup asing terpakir di dekat mobil Ivan.
"Bukankah Ivan bilang kalau semua anak buahku sudah berkumpul untuk membahas tentang siapa sebenarnya Ayah Kiran?" gumam Darren. ia menatap ke arah bangunan markas. Tampak sepi meski terlihat lampu yang masih menyala dari dalam. Darren mulai berdecak kesal. ia merasa jengkel sebab Ivan sudah menipunya. Namun, meski begitu ia tetap memutuskan masuk ke dalam dan meminta penjelasan pada Ivan.
Sesampainya di dalam, Darren benar - benar terkejut melihat penampakan markas yang berantakan dan tidak terurus. Darren bergidik ngeri, hanya karena ia tidak datang selama beberapa bulan dan markasnya hancur.
"Sudah datang, Darren?" tanya Ivan. ia tersenyum sambil berdiri di ambang pintu. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.
"Kenapa tempat ini bisa berubah begini, Van?" tanya Darren. Tatapan matanya begitu menusuk. Diam - diam ia mulai bersikap waspada pada Ivan.
"Ah...., Mungkin kamu tidak tahu. Selama kamu sibuk mencari Kiran, banyak anak buahmu yang tertangkap polisi. Jadi, ya tidak ada klien sama sekali. Bahkan reputasi City Hunter telah hancur." jawab Ivan. Wajahnya terlihat begitu santai. Sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang ia perbuat.
"Polisi? Bagaimana bisa, Van? Kita kan tidak pernah berurusan dengan polisi" balas Darren sambil berjalan mendekati Ivan.
"Sejak kamu tidak pernah datang lagi kesini. Mereka menjadi tidak teratur dan berantakan, Darren. Hasilnya? mereka merampok, mencuri, bahkan melakukan tindakan asusila.
"Brengsek! lalu bagaimana dengan nasib City Hunter sekarang, ha?! Aku telah mati - matian membangun relasi dan kalian dengan mudahnya menghancurkannya begitu saja!" bentak Darren.
"City Hunter? sekarang sudah resmi bubar. Tidak ada lagi organisasi di belakang layar yang bekerja mencari informasi - informasi penting," kata Ivan sambil tersenyum miring.
"Jadi informasi yang kamu berikan hanya tipuan belaka, Van? Kamu tega berbohong padaku, ha?" tanya Darren tangannya mengepal kuat dan bersiap untuk memukul Ivan.
"Tentu saja aku hanya berbohong, Darren. Tidak ada informasi apapun yang aku ketahui tentang Kiran." jawab Ivan. Matanya berkilap tajam saat beradu pandang dengan Darren.
__ADS_1
"Lalu apa tujuanmu sebenarnya, hm? Sialan! Setelah apa yang aku berikan padamu. Apa ini balasan yang kau berikan untukku, Van?! bentak Darren ia mencengkram kuat baju yang di gunakan oleh Ivan.
"Kamu ingin tahu, Darren? Sebenarnya aku ingin sekali tetap berada di pihakmu. Apalagi aku sudah terlanjur berjanji untuk setia padamu. Tapi aku juga butuh uang, Darren?" ia menghempaskan tangan Darren dari bajunya.
"Kalau begitu baiklah. Apa tujuanmu menyuruhku untuk datang kesini?" tanya Darren ia menghembuskan napas pelan untuk mengurangi rasa emosinya.
"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Semalam dia datang padaku dan menangis ingin bertemu dengan kamu."
"Apa maksudmu? siapa dia? tanya Darren. ia menaikkan sebelah alisnya karena tidak mengerti apa yang di maksud oleh Ivan.
"Ayo ikut denganku! kondisinya sedang tidak baik. Dia terlihat berantakan dan depresi," kata Ivan sembari melangkahkan kakinya menuju ke sebuah ruangan.
Meski menahan kemarahan yang cukup besar kepada Ivan. Namun, Darren berusaha keras
"Shelvi?" Darren terkejut saat melihat Shelvi duduk di tepi ranjang sembari menangis. Air matanya nampak bercucuran. Selain itu, rambutnya pun berantakan.
Benar apa yang dikatakan oleh Ivan. Saat ini Shelvi seperti orang yang sedang depresi. Melihat hal tersebut, Darren menjadi iba. ia merasa kasihan dengan Shelvi, terlebih lagi sejak kecil ia sudah menganggap Shelvi sebagai adiknya.
"kamu kenapa shel? kenapa bisa seperti ini?" tanya Darren sembari mendekati Shelvi.
"A...Aku di usir dari rumah, Darren. Papi tidak mau mengakui aku sebagai anak lagi," jawab Shelvi dengan suara yang sedikit terbata - bata. Suaranya terdengar begitu parau, bahkan tubuhnya pun bergetar hebat.
"Apa?! Kamu jangan bercanda, Shel! Mana mungkin Om Bara mengusirmu. Dia orang yang baik. Jadi...."
"Tapi buktinya aku di usir, Darren! A...Aku tidak tahan lagi. Lebih baik aku bunuh diri," kata Shelvi. Tangannya bergerak cepat untuk mencekik lehernya sendiri.
__ADS_1
"Hentikan, Shel! Kenapa kamu bisa berubah begini? Astaga...., Sebenarnya apa yang terjadi? dan kenapa kamu bisa di usir dari rumah?" tanya Darren sambil mengenggam kedua tangan Shelvi
"A...Aku...," Shelvi tidak melanjutkan ucapannya. ia menunduk sembari mengepalkan tangannya kuat - kuat. Kali ini Shelvi benar - benar terlihat tidak berdaya dan menderita. Tidak seperti Shelvi yang Darren temui kemarin.
"Kenapa? Jangan menangis begini. Tenangkan dirimu dan bicaralah Shel,"
"A..Aku takut kamu membenciku Darren. Aku ini sangat menjijikan. Aku...." Shelvi mencengkram erat rambutnya. Tangisnya kembali terdengar pilu.
"Jangan seperti ini, Shel! Aku tidak akan membencimu. Aku akan membantumu, jadi cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi?!"
"Darren, aku di perkosa. Sekarang semuanya sudah hancur. Aku tidak punya masa depan lagi. Lebih baik aku mati saja sekarang," kata Shelvi ia beranjak dari duduknya dan menuju jendela.
Darren membelalakkan matanya. ia begitu terkejut mendengar ucapan Shelvi.
Shelvi hendak mengambil pecahan kaca jendela untuk melukai nadinya. Namun, sebelum itu terjadi, Darren menarik Shelvi ke dalam pelukannya untuk menenangkannya.
"Jangan berpikiran pendek, Shel! Masa depanmu masih panjang oke?"
"Tapi....,"
"Semuanya akan baik - baik saja."
Di dalam pelukkan Darren, Shelvi tersenyum miring. Matanya pun berkilat penuh kelicikan. "Bagus, Akhirnya kamu masuk perangkapku," ucap Shelvi.
Jangan lupa like, komen dan vote.
__ADS_1