
Suasananya berubah menjadi hening, keduanya tidak ada yang bicara dan sibuk dengan pikirannya masing - masing. Kiran memikirkan rasa gelisah yang tiba - tiba hadir di hatinya. Sedangkan Luna sibuk menonton drama.
"Kenapa aku merasa semakin gelisah? Ya Tuhan semoga semuanya baik - baik saja," gumam Kiran yang kini matanya mulai berkaca - kaca.
Di samping itu Daniel dan Darren juga sedang menuju ke rumah sakit. Tidak hanya dirinya, tetapi Bastian juga menghubungi Daniel ikut serta.
"Niel, apa mungkin tante Cindy bekerja sama dengan seseorang di rumah sakit? Rasanya mustahil jika dia melakukannya sendiri tanpa bantuan siapa pun," ujar Darren sambil melirik kearah Daniel.
"Entahlah, tapi menurutku Kevin yang sudah bekerja sama dengan seseorang di rumah sakit. Mereka mengelabui kita." balas Daniel.
"Benar - benar kurang ajar! Aku tidak akan mengampuni mereka, kalau mereka berani menyentuh keluarga kita," ujar Darren. Napasnya memburu sebagai pertanda jika ssat ini ia mulai marah.
"Hm, tapi apa yang akan kamu lakukan jika sampai Om Bima berulah, apa kamu bisa menghadapinya." tanya Daniel.
"Tentu saja aku sudah sering menghadapi dia, jadi....."
"Bukan itu maksudku, apa kamu bisa menghabisi dia,"
Darren terdiam beberapa saat. Ia bersedekap kemudian kembali menatap ke arah Daniel.
"Kalau memang itu yang terbaik, kenapa tidak? Aku yakin Ayah juga tidak akan segan untuk menghabisinya. Kamu tahu, Niel? Ayah memiliki dendam yang cukup besar kepada Om Bima" ujar Darren
"Benarkah? Tapi bukankah selama ini mereka baik - baik saja? Maksudku, pertengkaran ini di mulai sejak Vanesha itu, kan?" jawab Daniel.
Darren menggeleng. "Pertengkaran ini sudah sejak lama, Niel. Mungkin kamu tidak tahu karena saat itu, kamu belum lahir,"
"Jadi kamu tahu semuanya, Kak Darren?" tqnya Daniel penasaran
"Ya tidak juga sih, aku masih cukup kecil saat itu, jadi tidak terlalu ingat. Tapi yang jelas, kalau bukan karena Mama, Ayah tidak mungkin memaafkan Om Bima." jawab Darren.
"Mama memang sangat baik, tetapi kebaikannya justru di manfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab seperti Om Bima."
__ADS_1
"Ya, dan aku harap jika semuanya sudah selesai nanti. MaMa tidak akan memberikan kesempatan lagi untuk keluarga mereka," ujar Darren ia menghembuskan napas pelan, kemudian bersandar pada kaca jendela mobil.
"Paling tidak mereka harus dibuay jera, agar tidak semena - mena lagi Kak Darren. Rasanya aku sudah cukup lelah, jika harus menghadapi mereka." keluh Daniel.
Hening!
Darren tidak membalas ucapan Daniel, sebagai gantinya ia menatap Daniel sendu. Ada perasaan bersalah ketika melihat Daniel.
"Maaf, gara - gara keluargaku, kamu harus menolongku, Niel?"
Daniel menoleh, ia mengernyitkan dahi kemudian berkata, " Kamu kenapa, Kak Darren. Tumben sekali kamu meminta maaf padaku?" tanya Daniel bingung.
"Aku merasa bersalah padamu dan juga Ayah. Sejujurnya aku malu, Niel. Hanya gara - gara kekesalan ku dulu pada Kevin, mantan sahabat ku itu, kalian harus mengalami hal - hal yang berbahaya. ujar Darren.
"Ck! Kita kan keluarga, Kak Darren. Kamu itu Kakakku, jadi jangan pernah bicara seperti itu lagi! Sudahlah lagi pula aku juga dan Ayah tidak mempermasalahkan hal itu," jawab Daniel.
"Tapi .. Niel."
Darren tersenyum tipis lalu menepuk pundak Daniel beberapa kali "Kalau begitu terima kasih Niel. Setelah semuanya beres, aku berjanji akan memberikan apapun yang kamu inginkan sebagai hadiah,"
Daniel tersenyum lebar setelah mendengar ucapan Darren. Matanya pun tampak berbinar, setelah itu ia pun berkata, "Kalau begitu, aku mau minta sesuatu padamu?"
"Apa itu?"
"Biarkan aku kencan dengan Kiran satu hari saja?"
"Tidak akan! Sial, kamu cari mati, Niel!"
"Loh, katanya kamu mau menuruti semua permintaan aku, Kak Darren?"
"Tapi bukan itu juga, bodoh! Astaga, apa kata orang nanti kalau sampai kamu kencan dengan Kiran?"
__ADS_1
"Peduli amat apa kata orang!"
"Niel...."
"Bantu aku melamar Bunga, aku tidak tahu caranya melamar seorang gadis, hehehe..."
"Kamu yakin?"
"Apa maksudmu, Kak Darren?"
"Kamu sudah yakin akan melepaskan, Citra?"
"Kak Darren, aku....."
"Kamu sudah yakin akan melepaskan Citra, Niel? Aku tahu kamu masih mencintainya?" kata Darren sambil melirik ke arah Daniel.
"Saat ini aku sedang tidak ingin mengejar apa yang tidak bisa di kejar, Kak Darren. Aku tidak mau memberi hari harapan kepada hatiku sendiri," balas Daniel. Ia tersenyum manis dan tetap fokus mengemudi.
Darren menganggukan kepala. Terus terang ia begitu bangga dengan sifat Daniel yang cukup dewasa dalam menangani masalah. Jika biasanya seorang pria akan menuntut untuk mendapatkan maka berbeda dengan Daniel.
"Jadi kamu benar - benar akan menikahi Bunga," tanya Darren lagi.
"Aku tidak mungkin membatalkan janji, bukan? Tapi ya sudahlah. Lupakan hal itu, aku tidak ingin membahas apapun yang terkait dengan hal perasaan,"
"Baiklah semoga kamu mendapatkan yang terbaik, Niel?"
"Tentu saja,"
Bersambung..
Jangan lupa untuk like komen dan vote
__ADS_1