
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Darren. Wajahnya benar - benar pucat karena merasa cemas.
Dokter yang memiliki name tage Hendra tersebut menghembuskan napas pelan. Wajahnya terlihat murung.
"Keadaan istri Anda cukup parah, Pak. Dan pendarahannya juga cukup banyak, dan saya takut akan berpengaruh pada janin maupun istri anda.
"L..Lalu apa tidak ada hal yang bisa menyelamatkannya, Dok? Anak dan istri saya pasti bisa sembuhkan?" tanya Darren.
Hendra menatap lekat wajah Darren. " Kemungkinannya kecil, Pak. Tapi yang jelas kita harus segera melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan anak Anda.
"Lalu bagaimana dengan istri saya? Apa dia akan sembuh setelah melakukan operasi?"
"Sayangnya saya tidak bisa melakukan hal itu, Pak. Pendarahan yang di alami pasien cukup parah. Jadi hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya," kata Hendra.
Darren menggelengkan kepala. Tangannya mengepal kuat setelah itu, Ia mencengkram kerah jas dokter Hendra.
"Lakukan yang terbaik untuk anak dan istri saya, Dokter. Saya janji akan membayar berapun asalkan mereka baik - baik saja," kata Darren.
"Saya dan yang lainnya akan berusaha semaksimal mungkin, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu."
Darren tertunduk lemah setelah kepergian Hendra. Ia menangis merasakan ketakutan yang begitu besar di hatinya.
__ADS_1
"Tuhan, Aku mohon selamatkan istri dan juga Anakku." gumam Darren.
****
"Apa - Apaan ini? lepaskan istriku!"
Daniel yang sedang mencekal pergelangan Vanesha pun menoleh. Ia terkejut saat melihat Kevin sudah berdiri di ambang pintu sembari bersedekap. Tatapan mata Kevin begitu tajam dan menghunus ke arah Daniel.
Daniel menghembuskan napas pelan. Namun, justru cekalan tangannya semakin mengerat. Ia tersenyum sinis sembari membalas tatapan tajam Kevin. Daniel sama sekali tidak takut dengan kehadiran Kevin.
" Istrimu bersalah dan dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Jadi aku harap kamu jangan ikut campur, Vin!" Kata Daniel. Suaranya terdengar begitu sinis.
"Dia istriku, mana mungkin aku tidak ikut campur?"
"Kamu butuh bukti? Di sini ada Andi yang jelas - jelas telah di suruh oleh Vanesha untuk mencelakai Kiran. Lalu bukti apa lagi yang kamu inginkan?" sentak Daniel ia menghempaskan tangan Vanesha hingga tersungkur dan menabrak Kevin.
"Kamu percaya dengan pertanyaan orang gila seperti dia? Astaga..., Kamu memang benar - benar bodoh Daniel." ucap Kevin sambil menunjuk ke arah Andi.
"Apa maksudmu? Dia memang benar - benar menyuruhku untuk mencelakai wanita itu. Sialan! Kalian berdua memang benar - benar licik!" geram Andi. Ia mengepalkan tangannya kuat - kuat. sembari menatap tajam ke arah Vanesha dan juga Kevin.
Kevin menyeringai dan tangannya dengan singap menyentuh pinggang Vanesha. Kevin tentu tidak merasa takut dengan Andi. Ia bahkan menatap remeh ke arah Andi yang sudah terlihat begitu marah.
__ADS_1
"Mana buktinya? Jangan asal menuduh begitu atau kamu akan menyesal seumur hidup," balas Kevin dengan seringai kejam tercetak jelas di sudut bibirnya.
" Kau..." Andi menghentikkan ucapannya setelah melihat Daniel mengangkat tangan. Napasnya memburu seiring dengan rasa marah yang semakin membuncah di hatinya.
"Diam! Lebih baik kita lihat rekaman Cctv. Aku yakin betul Vanesha memang terlibat dalam masalah ini," kata Daniel. Ia berkacak pinggang dan menoleh ke arah Danu.
Danu menganggukan kepala. Setelah itu ia meminta kepada bawahannya untuk memperlihatkan rekaman Cctv.
Saat rekaman mulai terputar, Vanesha mencengkram kuat kedua lengan Kevin. Jantungnya berdetak kencang menahan gemuruh rasa takut di hatinya. Bahkan karena rasa takut yang begitu besar, keringat dingin pun mulai membasahi tangannya.
"Jangan takut begitu, Sayang! Aku sudah membereskan semuanya," bisik Kevin tepat di dekat telinga Kiran.
"B..Benarkah? tanya Vanesha. Ia menatap Kevin dengan pandangan tidak percaya.
"Tentu saja. Setelah kamu menghubungiku disini. Aku langsung kesini. Dan sudah menghapus semuanya jadi kamu tidak perlu khawatir," kata Kevin. Ia tersenyum santai sambil merangkul pundak Kiran.
Mendengar Ucapan Kevin, Vanesha sontak berbinar - binar. Senyum cerah pun kembali terukir di bibirnya. " Terima kasih Vin, Kamu memang paling bisa di andalkan," balas Vanesha sembari merangkul mesra pinggang Kevin.
"Hm, Lain kali berhati - hatilah jika ingin melakukan sesuatu. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi." ujar Kevin sambil mengecup puncak kepala Vanesha kemudian menatap kearah beberapa orang yang sedang memeriksa rekaman Cctv.
Kevin terkekeh sinis ketika melihat raut wajah Daniel dan juga Danu.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote.