
"Kamu baik - baik saja, Kak Darren?" tanya Daniel khawatir.
"Aku baik- baik saja, Niel." jawab Darren cepat. Setelahnya ia pun beranjak dari duduknya. Darren menatap Daniel dan Bastian, lalu berkata, " Aku ke kamar mandi dulu," ucap Darren tiba- tiba.
Melihat kepergian Darren, Bastian pun tidak tinggal diam. ia yakin betul jika Darren sedang memendam sesuatu. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengikuti langkah kaki Darren sampai ke kamar mandi.
"Kamu tunggu disini dulu ya, Niel. Om mau bicara sebentar dengan, Darren. Sesampainya di kamar mandi, Bastian terdiam saat melihat Darren bersandar di dinding sembari memejamkan matanya.
Bastian menghela napas pelan. Kemudian mendekati Darren.
"Sebenarnya, apa yang sedang kamu pikirkan, Darren? tidak seperti biasanya kamu bersikap seperti ini," kata Bastian yang sukses mengejutkan Darren.
Darren menoleh dan menatap sendu ke arah Bastian. Dari sorot matanya terlihat jelas, ada ribuan rasa lelah dan takut.
"Aku lelah, Om. Aku juga malu dengan Ayah dan Ibu," lirih Darren. Matanya memanas karena perasaan yang begitu campur aduk di hatinya.
"Malu kenapa? Bukankah semuanya baik - baik saja, Darren?" ucap Bastian bingung.
"Aku malu, Karena Om Bima melakukan semua itu mungkin karena keegoisanku, yang tak bisa
menerima perbuatan Kevin di masa lalu. Aku malu karena sudah menyakiti keluarga Ayah bahkan Istriku Kiran. Rasanya aku ingin pergi, tapi hal itu tidak mungkin,"
"Tidak perlu malu, Darren! Lagi pula Ayahmu dan juga Istrimu tak pernah mempermasalahkan hal itu, bukan?" ucap Bastian.
"Ayah dan Kiran memang tak pernah mempermasalahkan apapun, Om. Tapi keluarga Ayah yang lain, mereka sering berbicara hal yang tidak - tidak padaku." jujur Darren. Ia menunduk sembari mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Bastian begitu tercengang. Pasalnya baru kali ini, ia melihat Darren yang begitu rapuh. Bastian juga tidak menyangka karena Darren memendam tekanan batin yang begitu besar selama ini.
"Apa jadinya kalau Kevin benar - benar datang, Om? Apa yang harus aku lakukan untuk melindungi keluargaku" tanya Darren khawatir.
"Kamu jangan khawatir, Darren? Om dan yang lainnya akan berusaha melindungi kalian semua. Sekarang berhentilah memikirkan hal yang tidak pantas di pikirkan!" Perintah Bastian.
"Tapi aku benar - benar kalut setelah mendengar, jika Kevin bekerja sama dengan Niko, Om. Aku takut semuanya akan menjadi buruk."Balas Daniel.
"Darren..."
"Ini pasti semua karena kesalahanku, andai aku tidak ada, mungkin semuanya tidak akan jadi begini. Aku...."ucapan Darren terhenti karena Bastian menepuk pundaknya cukup keras.
"Jangan bodoh, Darren! Kamu tahu bagaimana perjuangan Kenzo hanya untuk membantumu? Dia mengalami penderitaan yang begitu besar hanya untuk kamu!" Tukas Bastian.
"Dengar ini baik - baik, Darren! Jangan merasa jika kamulah penyebab hal ini. Kamu itu tidak salah, yang salah itu Bima dan keluarganya." ujar Bastian.
Darren kembali menunduk. Rasa haru mulai menyusup di hatinya.Akan tetapi, selain rasa haru ia juga kini kembali merasa ketakutan.
Darren merasakan kecemasan yang cukup berlebihan.Ia takut keluarganya dan Ayahnya akan mengalami hal buruk. Apalagi posisi Bima tidaklah lemah seperti dulu.
"Selain merasa tertekan. Aku juga sangat takut, Om. Karena aku sangat yakin Kevin pasti akan mengusik Kiran ataupun Arka. Aku sangat takut jika tidak bisa melindungi mereka." ucap Darren.
"Kalau itu, kamu jangan khawatir, Darren! Karena Om dan Om Alex sudah memikirkan tentang masalah itu. Yang terpenting, saat ini kamu harus tetap berhati - hati," ucap Bastian berusaha menenangkan Darren
Mendengar ucapan Bastian, perlahan - lahan rasa tenang mulai muncul di hati Darren. Ia tersenyum tipis kemudian menganggukan kepala.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Om. Aku janji akan membalas semua," jawab Darren mulai bersemangat.
"Hm, sekarang kamu jagalah, Cindy! Jangan sampai dia melakukan sesuatu!" Perintah Bastian pada Darren.
"Ya." jawab Darren singkat
"Dan satu lagi, Darren?" balas Bastian.
"Jangan pernah menangis karena Bima! Bedebah gila itu tidak pantas di tangisi." ucap Bastian memperingatkan Darren untuk bangkit dan tak terpuruk akibat ulah dari keluarga Bima lagi.
"Aku tidak menangis, Om. aku...," ucapan Darren terpotong karena Bastian menyelanya.
"Tidak menangis? Aha, tapi sayangnya om sudah melihat air mata di ujung matamu," ucap Bastian sambil tersenyum kecil.
Darren membulatkan matanya. Ia lantas buru - buru mengusap kedua matanya. Melihat hal itu, Bastian pun langsung tertawa terbahak - bahak sambil meninggalkan Darren.
Seperginya Bastian, Darren mengepalkan tangannya. Ia tersenyum miring saat bayangan Kevin mulai menari - nari di matanya.
"Aku bersumpah, tidak akan mengampunimu, Vin!"
Bersambung..
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho
Jangan lupa untuk tekan tombol like, komen dan vote. Kalau berkenan tekan tombol like..like...like yang banyak, ya.
__ADS_1