Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Pertengkaran Daniel Dan Kiran


__ADS_3

Niko tidak langsung menjawab. Ia justru terkekeh sinis sembari menepuk pundak Bima.


"Jangan memasang wajah yang menyedihkan begitu, Bim! Kamu tahu, setiap masalah pasti memiliki penyelesaiannya." ujar Niko sok bijak.


"Tapi apa penyelesaiannya, Nik? Sial! Aku bisa gila karena hanya memikirkan masalah ini." tanya Bima.


"Kamu jangan khawatir, aku datang kesini membawa jawaban atas pertanyaan kamu itu."jawab Niko.


"Apa maksudmu?" tanya Bima sembari menatap Niko. Ia menaikan sebelah alisnya sambil menatap tajam ke arah pria yang ada di depannya tersebut.


Niko tersenyum miring. Ia menepuk kedua pundak Bima lalu berkata, "Sebelum aku mengatakannya kamu harus berjanji dulu padaku, Bim!"


"Janji apa?"


"Berjanjilah untuk setia menjadi pengikutku. Maka aku pastikan kamu akan hidup bahagia dan bergelimang harta."


"Oke, aku berjanji akan menjadi pengikutmu. Jadi apa yang sedang kamu rencanakan saat ini?"


Niko tidak langsung menjawab ia terkekeh sumbang lalu kembali menghadap ke arah depan.


"Tentu saja, rencana untuk membuat Kenzo takluk dan menyerahkan perusahaan Wijayautama ke tanganku,"


***


Hari ini, tepat satu minggu Darren dinyatakan koma oleh Dokter. Dan selama seminggu pula, Darren belum menunjukkan tanda - tanda sadarkan diri. Darren seolah - olah begitu nyaman dengan alam bawah sadarnya.


Segala cara telah ia lakukan oleh para Dokter, untuk membantu kessmbuhan Darren.Namun, tidak ada perubahan berarti yang di tunjukkan oleh Darren. Bahkan, jika tanpa peralatan medis, kemungkina nyawa Darren tidak dapat tertolong lagi.


"Mas..., apa kamu lebih nyaman di dunia mimpimu itu?" tanya Kiran sembari mengusap pipi Darren yang tampak pucat dan tirus. Tatapan mata Kiran begitu kosong, seolah tidak ada lagi semangat hidup di dalam hatinya.


"Apa menurutmu, aku harus melepaskanmu, Mas? Apa aku akan baik - baik saja jika kamu pergi?" tanya Kiran lagi. Hatinya meradang menahan perih yang sudah mengakar di hatinya.Kini, air mata Kiran pun seolah sudah mengering karena terlalu sering menangis.


Kiran menghembuskan napas lelah. Selain katena lelah fisik, ia juga lelah hati karena terus mengkhawatirkan Darren. Sesekali Kiran ingin sekali menenangkan pikirannya. Namun,ia tidak bisa melakukannya karena selalu teringat dengan Darren.


"Kalau kamu memang ingin pergi, a... aku rela, Mas," lirih Kiran lagi. Ia menunduk sembari menggenggam kuat tangan Darren.


Puk!


Kiran reflek menoleh, saat merasakan tepukan lembut di pundaknya. Kiran terkejut saat melihat Daniel sudah berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu masuk, Niel?" tanya Kiran setelah menyeka sudut matanya. Kiran tersenyum tipis saat beradu pandang dengan Daniel.


"Sejak tadi. Kamu melamun dan tidak mendengar bunyi pintu. Ngomong - ngomong apa yang kamu katakan barusan?" tanya Daniel balik. Ia menatap lekat kearah Kiran. Ada pancaran tidak suka dari sorot matanya yang membuat Kiran sedikit kebingungan.


"A.. aku tidak mengatakan apapun, Niel. Aku hanya..."


"Hanya apa? Apa sekarang kamu menginginkan Darren pergi?"


"Bukan begitu. Aku hanya kasihan melihat Darren seperti ini. Dia pasti sangat tersiksa," ujar Daniel berusaha mengalihkan pandangannya dari Daniel.


"Tapi bukan berarti kamu harus berbicara seperti itu, Ran! Kak Darren akan baik - baik saja. Dia tidak akan meninggalkan kita," ucap Daniel dengan berapi - api. Suaranya terdengar meninggi hingga membuat Kiran merasa cukup ketakutan


"M... maaf aku tidak bermaksud berbicara seperti itu, Niel. Maaf karena sudah membuatmu marah," kata Kiran.


Daniel tidak membalas ucapan Kiran. Jujur saja ia merasa cukup kecewa dengan Kiran. Daniel tahu, pasti Kiran sudah lelah dan menderita. Namun, entah mengapa Daniel tidak suka saat Kiran mengatakan kalau dia akan merelakan Kak Darren pergi.


"Sampai kapan pun, Kak Darren akan baik - baik saja. Tidak peduli seberapa lama ia akan terbaring di rumah sakit, aku tidak akan membiarkannya pergi!"


"Niel...."


"Kalau kamu sudah lelah menjaga Kak Daniel, pergilah! Cari kebahagiaanmu sendiri!" Sergah Daniel. Ia tersenyum sinis saat matanya tak sengaja beradu pandang dengan Kiran.


"Lalu kenapa kau berbicar seolah - olah sudah ikhlas melihat Kak Darren, ha? Katakan Kiran! Apa kau sudah muak melihat Kak Darren yang sudah tidak berdaya seperti ini?" Bentak Daniel.


"Aku tidak pernah Muak! Asal kamu tahu, Niel! Aku menderita melihat suamiku tidak sadarkan diri. Aku juga sangat tersiksa menahan segala rindu yang terus menyerangku."


"Omong kosong! Aku sangat yakin, kamu pasti sudah memiliki pengganti Kak Darren, bukan? Kami pasti su...."


Plak!


Satu buah tamparan yang cukup keras berhasil Kiran berikan kepada Daniel.Hati Kiran sangat kecewa mendengar ucapan Daniel yang seolah - olah merendahkan harga dirinya.


"Apa seburuk itu aku dimatamu, Niel? Apa menurutmu aku wanita murahan, ha?!" Rancau Kiran kini air matanya sudah kembali turun dan membasahi pipinya.


Daniel terdiam setelah mendengar ucapan Kiran. Hatinya mendadak merasa bersalah. Apalagi saat dirinya melihat tatapan kosong dari mata Kiran.


"Ran, aku tidak bermaksud berbicara seperti itu, aku hanya kecewa saja. Kamu berbicara seperti itu. Aku...." ucapan Daniel terhenti saat melihat Kiran mengangkat tangannya.


"Sudah cukup! Ucapanmu terlalu menyakitkan, Niel! Kamu membuatku seolah semakin tidak berdaya.," balas Kiran sembari menatap sendu ke arah Daniel.

__ADS_1


"Ran..."


Daniel belum selesai menyelesaikan ucapannya. Namun, Kiran sudah lebih dulu pergi tanpa mengucapkan apapun. Kiran sudah terlanjur kecewa dengan segala tuduhan yang di berikan oleh Daniel.


Kiran berjalan cepat menjauhi ruang rawat inap Darren. Ia ingin menenangkan dirinya dari peliknya masalah yang sedang ia hadapi.


Kiran terus berjalan, tanpa mempedulikan tatapan orang - orang. Langkahnya semakin lebar hingga kemudian...


Bruk!


Kiran menabrak tubuh seseorang hingga terjerembab di tanah. Namun, bukannya langsung berdiri tetapi Kiran justru memilih diam dan malah menangis.


"Loh Kiran? Kamu kenapa?"


Kiran mendongak, matanya semakin berkaca - berkaca saat melihat Arya yang kini telah berdiri di depannya. Rupanya Kiran menabrak Arya yang ingin menjenguk Darren.


"Mas...." panggil Kiran dengan suara yang lirih.


"Kamu kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan, Darren?" tanya Arya.


Kiran menggeleng, ia mencoba berdiri kemudjan langsung menghambur ke pelukan Arya. Tubuh Kiran bergetar hebat dan isak tangisnya pun semakin keras.


"Aku lelah, Mas. Aku sangat menderita dengan semua ini,"


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Ran? Kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Arya sembari melepaskan pelukannya. Ia menyentuh kedua pundak Kiran dan menatapnya intens.


"D... daniel memarahiku,"


Arya menaikan sebelah alisnya dan berkata, "Marah bagaimana maksudmu?"


"Dia..." Kiran menggeleng. Ia tak mampu melanjutkan ucapannya. Ia justru semakin menangis sembari menundukkan kepalanya.


Arya menghela napas pelan, melihat Kiran yang kembali menangis.


Setelahnya ia pun memeluk Kiran dan membawa menuju ke sebuah kursi yang terletak di bawah sebuah pohon.


Bersambung...


Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2