Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Ungkapan


__ADS_3

"Kalau kamu merindukanku kenapa kamu tidak pulang, hm? Aku hampir gila hanya karena kehilangan wanita bodoh sepertimu." balas Darren matanya berkaca - kaca ketika melihat senyuman Kiran.


"A...Aku takut. Aku takut kamu tidak akan mengharapkanku kembali, Tuan Suami. Apalagi aku mendengar kamu dan Shelvi sudah...." Ucapan Kiran terhenti ketika Darren menempelkan jari telunjuk di bibirnya.


Darren menggelengkan kepala pelan. Tatapan matanya berubah serius dan begitu dalam ketika beradu pandang dengan Kiran.


"Aku tidak pernah berhubungan dengan Shelvi.selama kamu pergi, Aku hanya sibuk mencari dan memikirkanmu." ujar Darren. Suaranya terdengar tegas di telinga Kiran.


"B...Benarkah? tapi bukankah kau membenciku,Tuan? Tapi..." mata Kiran membulat ia benar - benar terkejut ketika Darren memberikan serangan telak pada bibirnya.


Kiran hendak memberontak, tetapi justru Darren semakin menekan tengkuknya untuk memperdalam lumatannya. Darren memejamkan mata, menikmati setiap inci bibir Kiran yang selama ini ia begitu rindukan.


"Aku tidak mungkin datang kesini kalau masih membencimu, Ran" ujar Darren setelah ia menjauhkan wajahnya dari Kiran.


"Kalau begitu, berarti kamu mulai membuka hati untukku, Tuan Suami?" tanya Kiran jantungnya berdebar kencang, apalagi ketika melihat tatapan teduh yang Darren berikan padanya.


Mendengar pertanyaan Kiran. Darren terdiam beberapa saat. ia tersenyum manis kemudian menggelengkan kepala.


"Aku tidak hanya membuka hati untukmu, Ran. Tapi sekarang hatiku memang sudah menjadi milikmu" jawab Darren sambil merengkuh pinggang Kiran lagi.


"T...Tuan Suami...? Kamu..." Kiran menggigit bibirnya saat tak mampu meneruskan ucapannya. Luapan rasa bahagia di hati membuatnya kembali meneteskan air mata. Kiran membalas pelukan Darren. Bahkan, kali ini dia tidak ragu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Darren.

__ADS_1


Darren mengangguk sembari mengusap lembut rambut Kiran. Sama halnya dengan Kiran, hatinya merasa begitu bahagia sekaligus juga lega.


"Ya, aku juga mencintaimu, istriku" bisik Darren tepat di samping telinga Kiran.Suaranya yang sarat akan keseriusan membuat Kiran tak mampu berkata - kata


Tangan Kiran mengepal, ia mencengkram erat baju yang di gunakan oleh Darren. Harapan yang selama ini ia harapkan kini telah menjadi kenyataan. Ya...., cintanya terbalas.


"K..Kamu tidak berbohong kan, Tuan Suami? Kamu tidak sedang bercanda, Kan?" tanya Kiran dengan suara yang terdengar serak dan parau.


"Aku tidak pernah main - main dengan perasaan, Ran. Aku mencintaimu, dan sungguh! aku merasa begitu kehilangan saat kamu pergi," Jawab Darren. Tangannya masih setia mengusap lembut punggung Kiran.


"Kalau begitu terima kasih banyak, Karena kamu sudah membalas perasaanku, Tuan Suami. Aku bahagia sekali bahkan rasa - rasanya ini seperti mimpi." kata Kiran sembari melepaskan pelukkan Darren.


Bibir Kiran bergetar menahan tangis. Matanya semakin sembab setelah melihat air mata di pipi Darren. Kiran tersenyum begitu manis sembari menggenggam tangan Darren dan di letakkan di atas perutnya.


"Dia juga merindukanmu, Tuan Suami. Anak kita, T..Tumbuh dengan sehat," kata Kiran suaranya ter bata - bata.


Tatapan mata Darren beralih pada perut besar Kiran. Perasaan hangat dan menenangkan kembali ia dapatkan ketika mengusap lembut perut Kiran. Darren lalu berlutut di depan perut Kiran lalu menciumnya.


"P...Papa juga sangat merindukanmu."


Bahu Darren bergetar hebat. ia tidak mampu menahan rasa haru yang membuncah di hatinya. Darren benar - benar menangis, bahkan isak tangisnya pun mulai terdengar di telinga Kiran.

__ADS_1


" T...Tuan Suami, kenapa malah menangis?"


"Aku merasa telah gagal menjadi seorang Papa, Ran. Aku..."


"Jangan bicara seperti itu, Tuan Suami! Ayo berdiri! kamu sudah membuktikan semuanya. Kamu adalah Suami dan juga Papa yang baik untuk kami berdua," kata Kiran sambil mencoba menenangkan Darren.


"Tapi aku tidak ada di saat masa - masa sulit kalian. Aku bahkan merasa tidak pantas menyebut diriku sendiri seorang Papa," Sambung Darren.


Kiran tersenyum tipis. ia mengusap rambut Darren lembut lalu berkata, " Awalnya aku pikir juga begitu Tuan Suami, Tapi aku sadar, semua orang pasti mempunyai kesalahan."


"Ya, dan kesalahanku sangatlah besar padamu dan juga anak kita. Maaf ya, Setelah ini aku janji akan berusaha memberikan kebahagiaan untukmu dan juga anak kita."


Kiran mengganguk meski, dirinya merasa cukup bodoh karena selalu memaafkan Darren.Namun, kali ini ia benar - benar bahagia. Akhirnya kesetiaan yang selama ini ia jaga membuahkan hasil yang luar biasa.


"Aku harap kamu menepati janji, Tuan Suami," gumam Kiran sambil tersenyum manis menatap wajah tampan Darren.



Makasih sudah membaca. Nantikan terus kisah mereka Ya.........!


Jangan lupa, like komen dan Vote. Kalau berkenan silahkan tekan tombol like....like...like...like...like...like yang banyak yah...🤗

__ADS_1


__ADS_2