
Grep!
Ucapan Kiran terhenti saat Darren menariknya ke dalam sebuah pelukan. Darren mengusap lembut rambut Kiran, Seolah - olah penuh akan kasih sayang.
" Kau jangan berbicara Ran, aku tak akan membiarkanmu mati. karena masih banyak luka yang harus kamu rasakan." ucap Darren. ia memejamkan mata sejenak karena hatinya begitu terluka setelah ia menyelesaikan ucapannya.
"Sampai kapan Tuan suami? sampai kapan aku harus terluka karenamu?" ucap Kiran yang terdengar masih sedih.
Darren hanya diam, ia memilih tak menjawab dan lebih mengeratkan pelukannya pada Kiran, Karena ia sendiri mulai merasa lelah karena perasaannya yang tak menentu pada Kiran. Darren menghembuskan napas panjang. matanya terpejam ketika Kiran membalas pelukkannya. Setelah adegan yang mengharu biru tadi Darren memutuskan keluar kamar dan beberapa saat yang lalu Kiran pamit ingin ke dapur.
Saat telah sampai di ruang keluarga Darren begitu terkejut. ketika melihat seorang gadis yang duduk di samping om Bara. Darren mengernyitkan dahi dan tersenyum tipis.
"Darren? Apa kabar?" tanya gadis tersebut.
"Shelvi? kapan kamu pulang?" tanya balik Darren.
"Tadi aku kangen banget sama kamu, jadi aku ngajakin papih untuk main kesini. ngomong - ngomong kenapa kamu menjadi semakin tampan sekali?" tanya Shelvi sambil tersenyum lebar.
"Kamu juga sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik," ucap Darren sambil mengacak rambut Shelvi.
"Ah, masa sih?" tanya Shelvi ia terkekeh pelan dan tersipu malu. kemudian Shelvi langsung memeluk erat Darren bahkan Shelvi dengan berani mencium pipi Darren di hadapan Helena - Kenzo dan juga Bara.
Helena begitu kaget dan sedikit kesal. dengan tingkah Shelvi. ia reflek dan bangkit dari tempat duduknya serta menatap tajam ke arah Darren yang tidak menghindar saat Shelvi menciumnya.
"Darren! pergilah, panggil Ki.." belum selesai Helena berbicara. Tiba - tiba Kiran sudah terlebih dahulu muncul, sambil membawa nampan berisi sepiring kue dan makanan ringan lainnya.
__ADS_1
" Shel, lepaskan!" ucap Darren sambil mencoba melepaskan pelukan dari Shelvi. perasaannya tak enak ketika melihat Kiran yang sudah berkaca - kaca.
"Tidak, aku masih kangen banget sama kamu Darren?". ucap Shelvi dengan manja.
Helena hanya bisa menggelengkan kepalanyan pelan, sejak dulu Shelvi memang amat sangat manja dengan Darren.
Kiran, kenapa kamu yang mengantarkan makanan ke sini? bukankah kamu harus istirahat?" tanya Helena. jantungnya tiba - tiba berdetak lebih kencang saat melihat mata Kiran yang telah di liputi perasaan kecewa.
Kiran menggeleng pelan. Setelah meletakkan nampan di atas meja, Kiran pun kembali menatap Helena dan Kenzo. dan berkata " Bu, Pak, A..Aku pamit pulang yah?" Suaranya terdengar lirih tapi terdengar nelangsa bagi Helena.
Pulang? Pulang kemana Nak, ini kan rumah kamu?" ujar Helena matanya mulai ber kaca - kaca. ia tahu menantunya tersebut sudah tak mampu lagi bertahan dengan Darren.
"A..Aku mau pulang ke rumah ibu. Maaf aku sudah tidak sanggup lagi untuk berada disini. Karena hatiku sudah sangat lelah dengan semua ini." ucap Kiran sedih
"Tapi tidak ada yang meminta persetujuan darimu Tuan?" ucap Kiran tanpa menatap kearah Darren.
"Kiran, kamu pulangnya nanti aja yah? biar nanti Ayah yang akan mengantarmu." ucap Kenzo. ia menatap bersalah pada Kiran
"T..Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Terima Kasih untuk kebaikan Pak Kenzo dan Bu Helena selama ini. permisi" ujar Kiran, sambil meletakkan cincin nikahnya di atas meja.
" Zivanna Kirannia! kamu jangan macam - macam, selangkah saja kamu keluar dari rumah ini, kamu akan tahu akibatnya." ucap Darren emosi
Kiran hanya menggeleng pelan dan tersenyum tipis kemudian menatap kearah Darren dan berkata " Berbahagialah Tuan! Sekarang sudah tidak ada yang akan menggangumu. Sekarang tidak ada lagi wanita bodoh yang diam - diam mencintaimu. Aku sudah menyerah.." lirih Kiran. Suaranya mulai bergetar karena sedari tadi ia menahan tangisnya.
Setelah itu Kiran pun langsung berlalu pergi meninggalkan Darren yang hanya diam. karena sedari tadi Shelvi masih merangkul lengannya dengan kuat. " Wanita itu, kenapa sih, nggak jelas banget." gerutu Shelvi yang masih di dengar oleh Darren. Shelvi tidak suka karena Darren menahan Kiran tadi. Tepat setelah Kiran keluar dari rumah Kenzo. Hatinya begitu benar - benar merasa sakit karena tidak tahan melihat kemesraan Darren dan Shelvi.
__ADS_1
"Maafkan ibu Nak, Mungkin kamu tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang seorang Ayah" lirih Kiran sambil mengusap perutnya dengan lembut. Kiran menghadap kerumah Kenzo. Senyum sendu tetukir di bibirnya "Selamat Tinggal Tuan Suami, Kini ku sudah menyerah.." ucap Kiran dan mulai pergi meninggalkan kediaman Wijaya.
Sementara itu di dalam rumah tepatnya masih di ruang tamu, Helena sudah mendekat dan mencengkram erat baju Darren. "Darren Mamah mohon Nak, cepat kejar Kiran. Mamah tak ingin menantu Mamah pergi." kata Helena yang sudah menangis
"M...Ma..., A..Aku...." ucap Darren terhenti karena ia terlihat tiba - tiba begitu bingung. ia bahkan tak menyadari sedari tadi Kenzo menatapnya dengan penuh amarah.
"Sekarang cepat bawa istrimu kembali, Darren!" ucap Kenzo penuh emosi.
Darren langsung tersadar dari kebingungannya, dan langsung melepaskan tangan Shelvi dan berlari menuju keluar. Namun, sayangnya Darren sudah tidak menemukan siapapun. tidak ada jejak Kiran di depan teras rumah maupun di jalan depan rumah Kenzo.
"Zivanna Kirannia!!!" panggil Darren dengan nada yang tinggi, tapi hanya keheningan malam yang menyambutnya. Darren menghembuskan napas panjang. tangannya mulai mengepal kuat seiring dengan rasa marah yang kembali menguasai hatinya. dan berkata " Demi Tuhan, Zivanna Kirannia! Aku akan benar - benar membunuhmu kalau kamu tidak akan kembali!" ucap Darren. matanya menatap nanar kearah jalan yang lenggang dan hampa. dadanya mulai bergemuruh sesak ketika mengingat raut wajah Kiran yang penuh luka yang di tujukkan oleh Kiran tadi. Darren mengacak rambutnya kasar. ia merasa begitu frustasi dan begitu menyesal.
Tes!
Setetes air mata turun dan mulai membasahi pipi kanan Darren. "Sial! bukankah seharusnya aku merasa senang karena dia pergi tapi kenapa rasanya justru sangat menyakitkan seperti ini..?" ucap Darren frustasi. Darren berharap perasaan menyesal dan sesak di dalam dadanya bisa hilang. Namun, semuanya justru membuatnya semakin tak berdaya.
Merasa pencariannya disekitar jalanan rumahnya tidak membuahkan hasil. Darren pun memutuskan untuk kembali kedalam rumahnya. dia berjalan gontai ketika memasuki gedung rumahnya. Darren menggigit bibirnya sambil memikirkan langkah yang harus dia ambil.
***Terima kasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak typho.
Kira - kira Kiran berhasil di temukan oleh Darren atau keluarganya tidak yah? Atau justru Kiran tak akan pernah kembali lagi?
Nantikan terus kisah mereka yaa!
Jangn lupa Vote, Like dan Komen***.
__ADS_1