Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Takut Kehilangan.


__ADS_3

"Bagaimana bisa ini terjadi? Astaga padahal aku sudah cek Cctv di kamar mandi itu masih baik - baik saja," kata Danu. Ia benar - benar bingung sebab rekaman Cctv di sekitar kamar mandi tempat kejadian tersebut mati total.


"Kalau begini kita tidak akan bisa menunjukan buktinya, Nu. Kamu benar - benar sudah mengeceknya tadi?" tanya Daniel. Ia berkacak pinggang dan sesekali matanya melirik kearah Kevin. Daniel menggeram tertahan, kali ini ia mulai curiga pada Kevin yang tampak begitu santai.


"Aku tidak mungkin berbohong, Niel. Pagi tadi aku memang mengeceknya. Sialan! Pasti ada sesuatu yang telah terjadi" kata Danu. Ia meremas rambutnya kuat lalu menatap Daniel.


Daniel menghembuskan napas panjang. Ia tidak punya pilihan lain.


"Lihatlah tidak ada buktinya, Kan? Sekarang aku akan membawa Vanesha pergi," kata Kevin.


" Lalu bagaimana denganku? Mana uang yang telah kamu janjikan itu? Brengsek!" Andi kembali bersuara. Ia marah saat melihat Kevin dan Vanesha yang hendak pergi.


"Jaga ucapanmu! Pria miskin dan bodoh. Istriku tidak pernah menyuruhmu untuk melakukan hal yang seperti itu. Jadi jangan membuat berita yang tidak - tidak lagi!" ucap Kevin ketus. Ia menyeringai sambil tersenyum meremehkan ke arah Andi.


Andi terduduk lemas di sofa. Niat hati ingin mendapatkan kepuasaan dan juga uang yang berlimpah, Kini ia justru harus berhadapan dengan urusan hukum.


Setelah kepergian Kevin serta Vanesha. Suasana kembali hening. Hingga kemudian, Daniel beranjak dari duduknya lalu menghadap Danu.

__ADS_1


"Aku serahkan semuanya padamu, Danu. Bawa kasus ini kemeja hukum. Jangan sampai pria gila ini terbebas!" Kata Daniel. Ia melirik sinis ke arah Andi yang sedari tadi hanya diam dan menunduk.


"Kamu tenang saja," jawab Danu singkat.


Daniel menganggukan kepala. Ia bergegas menuju rumah sakit tempat Kiran di rawat.


"Kiran pasti akan baik - baik saja," gumam Daniel.


***


Suasana hening dan hampa begitu terasa di depan ruang operasi. Bahkan sesekali isak tangis dari seorang pria yang sedang duduk pun terdengar.Ya.., Pria itu adalah Darren. Sejak tiga puluh menit yang lalu, Ia tidak mampu menahan tangisnya sembari menunggu Kiran selesai di operasi. Darren sangat takut kehilangan seseorang yang sangat di cintainya.


Darren menatap nanar ke arah pintu ruang operasi. Dadanya bergemuruh menahan sesak yang tak kunjung memudar. Darrren lelah.


"Kak Darren bagaimana dengan keadaan Kiran?" tanya Daniel yang baru saja sampai ke rumah sakit. Ia mendekati kakaknya yang terlihat begitu kacau.


Darren menggelengkan kepala. Ia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Kiran maupun anaknya. " Aku tidak tahu, Niel. Tapi kata dokter semuanya benar - benar parah," ucap Darren.

__ADS_1


Daniel tertegun, Ia pun ikut duduk di samping Darren. "Kamu yang sabar ya, Kak! Jangan menangis seperti ini!" ujar Daniel sembari menepuk pundak Darren.


"Bagaimana aku tidak menangis, Niel? Istri dan anakku sedang berjuang mempertaruhkan nyawa. Tapi aku di sini tidak melakukan apapun," balas Darren. Tangisnya semakin tidak terbendung.


Mata Daniel memanas. Rasanya ia tidak tega melihat Kakanya yang begitu kacau dan tidak berdaya. Hingga tanpa sadar, Daniel pun mulai meneteskan air matanya.


"Kiran akan baik - baik saja, Kak Darren. Dia wanita yang sangat kuat. Dia...." Daniel tak mampu melanjutkan ucapannya. Ia menunduk dan bahunya bergetar karena menangis.


"Bagaimana kalau Kiran pergi, Niel? Apa yang harus aku lakukan? Aku pasti tidak sanggup lagi hidup tanpanya?" ujar Darren ia menyeka air matanya dengan kasar.


"Kiran, tidak mungkin pergi meninggalkan kita semua, Kak Darren. Percaya padaku ya!" kata Daniel. Ia berusaha menguatkan kakakanya.


"Tapi kata dokter kemungkinannya sangat kecil, Niel. Aku sang takut kehilangan Kiran, dan aku belum bisa membahagiakan Kiran. Aku... aku...," Darren menghentikkan ucapannya Ia memeluk Daniel erat sembari mengeluarkan keluh kesahnya.


Kedua kakak adik itu berpelukan erat. Tangis kepedihan terdengar jelas di depan ruang operasi. Setelah cukup lama Darren menangis. Akhirnya ia pun mulai tenang.


Nantikan terus kisah mereka ya....!

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote.


__ADS_2