Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Selamat Tinggal!


__ADS_3

Citra mencoba memberontak, tetapi saat melihat siapa yang menariknya, ia terdiam. Jantung Citra berdetak dengan kencang, menatap punggung tegap di depannya.


"T...Tolong lepaskan aku!"


"Mau sampai kapan, hm?"


"A.. Apa maksudmu? Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Citra sambil menatap Daniel. Seseorang yang baru saja menarik tangannya.


"Sampai kapan kamu akan berpura - pura sudah bertunangan, Citra?" Tanya Daniel.


"A...Aku tidak mengerti apa maksud dari ucapanmu?"


"Jangan berbohong lagi Citra! Aku tahu, kalau kamu belum bertunangan. Aku juga tahu kamu melakukan itu untuk menghindar dariku, bukan?"


"A...Aku tidak berbohong. Aku me...." ucapan Citra terhenti saat Daniel menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Citra menelan salivanya susah payah saat melihat Daniel demikian mendekatkan wajahnya.


"Berhentilah berbohong! Atau kalau tidak, aku tidak akan segan - segan 'Memakanmu' disini,"


"E..Eh, apa maksudmu?" ucap Citra bingung.


Citra tersentak kaget. Ia buru - buru berjalan mundur saat Daniel semakin mendekatinya. Citra mengerjapkan matanya beberapa kali saat Daniel menatap intens ke arahnya.


"Kamu hanya berpura - pura tunangan, bukan?" tanya Daniel sambil mengurung Citra dengan kedua tangannya. Daniel tersenyum miring ketika melihat Citra salah tingkah.


"T..Tidak. Aku memang sudah bertunangan. Sebulan lagi aku akan menikah dengan calon suamiku," jawab Citra suaranya terdengar tegas. Seolah - olah tidak ada keraguan di hatinya.


"Kamu yakin? Bukankah kamu sedang berbohong demi menghindariku?" tanya Daniel lagi tatapan matanya semakin tajam.


Citra menghembuskan napas panjang. Ia memejamkan mata sejenak untuk meredam perasaan gugup yang semakin menjadi - jadi. Setelah merasa lebih tenang ia menatap ke arah Daniel sembari tersenyum tipis.


"Memangnya kamu siapa sampai aku harus berbohong hanya demi bisa menghindar darimu? Apa menurutmu kamu sangat penting di hidupku?" tanya Citra.


Daniel tercengang mendengar pertanyaan yang keluar begitu saja dari bibir Citra. Daniel mengepal, tetapi sekuat mungkin ia mengendalikan dirinya.

__ADS_1


"Oh, jadi aku tidak penting untukmu?" Tanya Daniel sambil tersenyum miring. Matanya pun memincing sinis. Sehingga membuat Citra harus pandai mengendalikan rasa gugupnya.


Citra menatap lurus pada manik mata Daniel. Karens Citra merasa kali ini Daniel begitu berbeda.


Daniel yang biasanya penuh keceriaan dan jahil. Mendadak menjadi dingin dan serius. Meski begitu Daniel terlihat jauh lebih tampan menurutnya.


"Dari dulu aku hanya selalu menganggapmu sebagai atasan dan juga teman. Aku tidak pernah menganggamu begitu penting," ujar Citra. Suaranya terdengar begitu santai. Namun, efeknya sukses membuat Daniel merasa kehilangan rasa percaya diri.


"Teman? Lalu untuk apa kamu memberikan harapan untukku? Untuk apa kamu bersikap seolah - olah aku begitu spesial di hidupmu, hm?"


"Kapan aku pernah memberikan harapan untukmu? Bukankah sejak awal aku sudah memperingatkan kamu, agar tidak terbawa suasana,?" tanya Citra balik. Wajah yang tenang dan ucapannya yang begitu menohok. Sukses membuat Daniel merasa malu"


Daniel terkekeh hambar. Ia menjauhkan tubuhnya dari Citra. Setelah itu ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Daniel memaksakan diri untuk tersenyum sembari menatap Kiran.


"Jadi selama ini, aku yang terlalu berharap padamu, ya?"


"Ya, kamu laki - laki tapi terlalu cepat terbawa suasana. Jadi jangan salahkan aku atau pun mengejarku lagi!" Kata Citra tatapan matanya lurus, tetapi tidak mengarah pada Daniel.


Citra justru menatap hiasan dinding, yang terpajang di dinding belakang Daniel. Wajahnya yang semula tenang samar - samar mulai berubah.


Citra hanya terdiam. Kata demi kata yang terucap dari bibir dari Daniel membuatnya merasa sesak. Rasanya ingin sekali Citra mengatakan semua perasaannya pada Daniel.


Namun, Citra tidak bisa melakukannya. Ia terpaksa berbohong hanya untuk menjaga hati dan demi perasaan Daniel. Dirinya tidak ingin membuat Daniel semakin berharap lebih padanya. Terlebih lagi, saat ini dirinya sudah terikat dengan seseorang.


Ya...., Sejak dua minggu yang lalu ia resmi bertunangan dengan pria pilihan orang tuanya. Sejujurnya ia ingin menolak karena hatinya sudah terlanjur jatuh cinta dengan Daniel.


Namun, Citra tidak sampai hati untuk menolak permintaan sang Ayah yang sudah tua. Selain itu, ia tidak mungkin menolak sebab Ayahnya memiliki hutang yang begitu besar pada calon suaminya itu.


Terpaksa? Ya benar. Citra menerima calon suaminya demi melunasi sebuah hutang kedua orang tuanya.


Awalnya Citra ingin mengatakan masalahnya dengan Daniel. Namun hatinya terlalu malu, hingga terpaksa ia akhirnya memilih untuk berbohong.


"Seharusnya aku memang tidak jatuh cinta dengan wanita sepertimu?" ujar Daniel yang sukses membuyarkan lamunan Citra.

__ADS_1


"Aku tidak menyuruhmu untuk mencintaiku," balas Citra.


Napas Daniel semakin memburu. Selain karena marah ia juga kecewa dengan ucapan Citra.


"Pergilah! Pergi dari rumahku dan jangan pernah kau kembali lagi sini!" Bentak Daniel menatap tajam ke arah Citra.


"Tanpa kamu suruh pun aku akan pergi. Dan aku harap kamu tidak akan menganggu kehidupanku lagi,"


"Ya! aku tidak akan menganggu, apalagi untuk menemuimu lagi. Sudah cukup bagiku untuk mengemis cinta padamu," balas Daniel sinis.


"Baguslah kalau begitu. Mulai sekarang aku bisa hidup tenang tanpa gangguan pria baperan sepertimu,"


Daniel memejamkan matanya. Ucapan Citra benar - benar menyakiti hati dan juga harga dirinya. Ingin rasanya Daniel mengeluarkan semua kemarahannya di depan Citra. Namun, Daniel masih waras untuk tidak berbuat kasar pada perempuan.


"Selamat tinggal! Semoga pernikahanmu lancar," sebelum akhirnya ia berbalik pergi meninggalkan Citra.


Daniel berjalan cukup cepat. Dirinya merasa tidak sanggup jika harus berada di dekat Citra.


Sementara Citra matanya mulai berkaca - kaca. Jantungnya berdetak kencang hingga menimbulkan rasa sesak di dadanya.


"Selamat tinggal. Aku yakin kamu pasti akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku," ucap Citra sambil memandang kepergian Daniel yang mulai menjauh.


"Mau kemana, Niel?" tanya Kiran. Ia heran saat melihat Daniel tampak terburu - buru.


Daniel menghentikkan langkah kakinya. Ia menghembuskan napas pelan. Kemudian berbalik dan menatap ke arah Kiran yang sedang menggendong Arka.


"Aku ada janji mau bertemu dengan Arya. Kamu tidak apa - apa kalau aku tinggal sendiri, kan?" tanya Daniel. Ia tersenyum cerah, seolah - olah tidak terjadi hal buruk yang terjadi sebelumnya.


"Mau ngapain memang?" tanya Kiran yang sedikit penasaran.


"Biasalah, ada urusan penting. Kamu beneran tidak apa - apa kalau di tinggal, Kan." tanya Daniel lagi.


"Iya tidak apa - apa. Ngomong - ngomong kamu tidak ingin mengantar Citra pulang, Niel." tanya Kiran.

__ADS_1


"Dia mau pulang? Ah, Sayang sekali aku tidak bisa mengantarnya. Dari tadi si Arya sudah menyuruhku untuk datang," balas Daniel.


Jangan lupa like, komen, dan vote


__ADS_2