Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Luapan Hati Kiran Part 1


__ADS_3

Helena hanya terkekeh kemudian berkata, "Sini biar Arka sama Mama. Mama mau pamerin ke temen - temen Mama," ujar Helena.


"Tapi jangan sampai Mama jodoh - jodohin sama cucu temen Mama!"


"Haha.. kamu tenang saja. Ya sudah Mama pergi dulu ya."


Darren mengangguk. Setelah menyapa Daniel dan Arya, Helena pun bergegas pergi meninggalkan ketiga pria tampan tersebut.


"Mama kamu masih sangat cantik ya. Aura kecantikannya masih terpancar meski sudah tu..." ucapan Arya terhenti. Ia menelan salivanya susah payah ketika melihat tatapan intimindasi dari arah depan.


"Jaga pandangamu wahai anak muda! Jangan sampai saya patahkan tulang kepalamu!"


Darren dan Daniel tertawa geli melihat Kenzo yang menatap penuh intimindasi ke arah Arya. Keduanya meras begitu terhibur, apalagi ketika melihat wajah shock Arya.


"Buset. Ayah kalian wajahnya kalem. Tapi sekalinya ngomong berasanya sampe seumur hidup ya," ucap Arya sembari menatap lurus kearah Kenzo dan Helena yang kini suda berjalan menjauh.


"Jangankan kamu, Arya. Kita yang anaknya saja sering di ancam begitu kalau lagi dekat - dekat sama Mama," ujar Darren. Ia bersedekap lalu bersandar dinding.


"Ayahmu pencemburuan dan sekarang itu menurun ke kamu, Kak Darren," Arya dan Daniel terkekeh.


"Hm."


Ketiganya berbincang cukup lama. Mereka membahas banyak sekali hal. Hingga kemudian, tampak suami istri masuk ke rumah. Ketiganya saling berpandangan kemudian tersenyum tipis.


"Orang tua saya sudah datang, sekarang saatnya saya melamar Luna," gurau Arya untuk mencairkan suasana yang mendadak tegang.


"Brengsek!"


"Bodoh!"


"Hahaha, jangan tegang begitu sekarang kita hanya perlu menunggu Ki....."


Prang!


"A... Ayah?"

__ADS_1


Kiran menegang saat melihat sosok pria paruh baya yang cukup familiar di pikirannya. Bahkan ponsel yang di genggamnya pun jatuh hingga hancur berkeping - keping.


Tubuh Kiran limbung, karena kakinya terasa begitu lemas. Beruntung, Darren dengan sigap memegangi lengannya. Darren menatap khawatir ke arah Kiran, apalagi saat ia melihat pancaran emosi dari kedua manik mata Kiran.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Darren dengan suara yang ia buat selembut mungkin. Darren berharap, ia mampu meredakan amarah yang diam - diam merayap di hati Kiran.


Namun, Kiran justru tidak menjawab apapun. Ia hanya diam sembari menatap lurus ke arah Pandu dan juga Lesti. Napas Kiran memburu, tangannya mengepal kuat. Bagaikan sesorang yang tengah kesurupan, bibir Kiran mendesah sinis. Bahkan, Darren pun mampu mendengar gemeletuk gigi Kiran.


"Sayang kendalikan dirimu! Sekarang sedang ramai. Kamu jangan begini!" bisik Darren sambil merengkuh pinggang Kiran. Ia memeluknya erat sembari mengusap lembut punggungnya.


Sementara itu, orang - orang pun mulai menatap heran ke arahnya, Tidak terkecuali Pandu dan Lesti. Keduanya menatap intens pada wajah Kiran yang kini juga sudah menatapnya.


"Lepas, Mas!" Ujar Kiran. Suaranya mengalun rendah dan sarat akan emosi yang menggebu - gebu.


"Aku tidak akan melepaskan kamu. Aku mohon tenanglah dulu, Ran!" Balas Darren sambil mengeratkan pelukannya pada Kiran.


"Aku sangat marah, Mas! Aku sangat tidak suka melihatnya ada disini! Lihatlah! Dia bahkan tidak bisa mengenaliku. Dia justru asyik dengan istrinya itu!" Tukas Kiran ia mencoba mendorong tubuh Darren agar menjauh darinya.


"Kemarin kamu sudah berjanji padaku, kan? Kamu tidak akan marah dan mencoba mengikhlaskan semua. Ayolah, Sayang! Kamu pasti bisa." sambung Darren kali ini, ia mengecup pelipis Kiran.


"Ran....."


"Mas, aku mohon lepaskan aku. Biar aku mengatakan semuanya. Biarkan aku bertanya sesuatu padanya!" Sergah Kiran.


Para tamu undangan yang kebetulan sudah hadir pun terkejut. Mereka tidak menyangka jika Kiran akan berbicara yang cukup tinggi di depan Darren.


Melihat hal tersebut, Arya buru - buru mendekat. Arya menyentuh pundak Kiran kemudian tersenyum tipis.


"Jangan bertindak memalukan hanya karena rasa benci, Ran! Kalau kamu memang mengenali orang itu, datangi dia! Katakan dengan baik - baik, tidak perlu marah - marah!"


"Bagaimana aku tidak marah? Hidupku menderita karena ulahnya!" Ujar Kiran sambil menunjuk ke arah Pandu.


Oleh karena perbuatan Kiran tersebut, semua orang sontak menoleh ke arah Pandu. Begitu juga dengan Kenzo dan juga Helena. Keduanya tak mengerti mengapa Kiran menunjuk seseorang yang bahkan mereka sendiri tidak mengenalinya.


"Sebenarnya ini ada apa, Mas?" ujar Helena sambil menimang - nimang Arka yang mulai merengek karena tidak nyaman.

__ADS_1


"Saya juga tidak tahu, Helena. Tapi sepertinya ada yang di sembunyikan oleh Darren dan Daniel."


Helena menghembuskan napas pelan, setelah itu ia pun berpamitan kepada Kenzo untuk menidurkan Arka. Helena tidak ingin jika Arka merasa tidak nyaman dengan keadaan yang semakin tidak terkendali.


"Aku sudah mencoba untuk tidak membencinya, tapi rasanya sangat sulit, Mas! Aku tidak sanggup melihat wajahnya," lirih Kiran. Ia menunduk, bahunya bergetar hebat karena menangis.


Melihat Kiran yang semakin tertunduk dan menangis. Darren buru - buru memeluknya. Ia mengusap rambut Kiran sembari membisikkan kata - kata penenang.


Namun, sayangnya Kiran justru semakin memberontak. Ia mendorong tubuh Darren agar menjauh.


Darren menyugar rambutnya ke belakang. Ia memejamkan mata sejenak kemudian menatap ke arah Daniel, dengan kode dari matanya, Darren menyuruh Daniel untuk membawa tamu ke tempat lain.


Daniel menurut, dengan di bantu oleh Red Wolf, ia mengarahkan para tamu untuk pergi ke taman belakang kecuali Pandu dan Lesti. Untungnya di taman belakng sudah ada beberapa persiapan.


Setelah semuanya terkendali, Darren memilih berdiri di samping Kiran. Ia memutuskan untuk membiarkan Kiran dengan segala unek - uneknya.


"Katakan apapun yang ingin kamu katakan! Tapi ingat! Jangan marah - marah! Aku akan langsung membawamu pergi kalau kamu sampai hilang kendali."


Kiran tidak menjawab atau pun mengangguk. Ia justru berjalan gontai menuju ke arah Pandu. Wajahnyan yang begitu sendu dan pancaran mata yang sarat akan kemarahan, membuat Pandu pun mulai gugup.


Pandu menatap lekat wajah Kiran. Ia mengernyitkan dahi saat dirinya merasa seolah pernah bertemu dengan Kiran.


"Bagaimana, apa hidupmu sangat bahagia setelah meninggalkan Ibu?" tanya Kiran dengan tatapan mengintimidasi ke arah Pandu.


Pandu tertegun, kemudian berkata, " Siapa kamu? Dan kenapa kamu berbicara ngawur begitu?"


"Ngawur? Apa kamu tidak pernah merasa melakukan itu?" tanya Kiran lagi. Matanya memincing tajam, seolah tidak suka, saat melihat kehadiran Lesti di sisi sang Ayah.


Pandu semakin tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Kiran. Ia menghembuskan napas panjang kemudian beralih kembali menatap Arya. Pandu ingin meminta penjelasan, tetapi Arya justru enggan menatapnya.


"Sebenarnya ada apa ini? Siapa kamu sebenarnya?" tanya Pandu sambil menatap lekat wajah Kiran. Napas Pandu tercekat, jantungnya berdetak kencang saat beradu pandang dengan Kiran.


"Le..Lesti? Kamu... tunggu! Arya apa maksudnya ini?" tanya Pandu ia menatap tajam ke arah Arya.


"Bukankah Ayah ingin bertemu dengan anak mendiang Lesti? Wanita yang kini berdiri di hadapanmu adalah anakmu! Dia Kiran, putri sulungmu, Yah"

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote.


__ADS_2