Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Kecurigaan Arya


__ADS_3

"Jangan Main - main dengan Ivan, Om! Bukankah Om tahu sendiri? Dulu Ivan berkhianat kepadaku. Jadi...."


"Kamu tenang saja Darren hal itu tidak mungkin terjadi karena Om sudah memasang alat pengawasan di kakinya. Dan Ivan juga sudah berjanji akan setia"


"Tapi bagaimana kalau dia berkhianat, Om?"


"Maka taruhannya nyawa,"


Darren menghela napas panjang. Kalau Alex sudah berkata demikian. Maka ia pun tidak bisa mengubahnya. Darren berharap Ivan benar - benar setia kepada Alex.


"Kalau memang begitu, aku harap Ivan benar - benar berubah."


"Hm, ya sudah hanya itu yang ingin Om bicarakan padamu. Sekarang kamu bisa fokus mengurus Arka dan juga Kiran. Jangan memikirkan hal lain.


"Baik Om, sebenarnya ada satu hal yang ingin aku katakan padamu," kata Darren sambil menatap ragu kea arah Alex.


Darren merasa ragu apakah ia harus menceritakan ancaman Bima kepada Alex atau tidak.


"Apa?"


"Ah, bukan apa - apa. Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu. Aku harus kembali ke rumah sakit secepatnya," kata Darren akhirnya memilih diam dan tidak mengatakan apapun pada Alex.


"Ya sudah hati - hati di jalan."


Darren menganggukan kepala. Setelah itu ia pun bergegas memasuki mobil dan mengemudikannya.


***


"Ah, syukurlah karena kamu sudah kembali maka saya akan pergi," kata Arya setelah melihat kedatangan Darren.


"Hm, terima kasih banyak."


"Ya, ngomong - ngomong sebelum saya pergi. Boleh saya berbicara sesuatu padamu?"


"Katakan Saja!"


"Kamu tahu di mana Kiran di lahirkan?"


"Di sebuah desa di Kota T Kenapa?"


"Lalu apa kamu tahu siapa Ayahnya?" tanya Arya lagi wajahnya benar - benar serius sehingga membuat Darren melakukan hal yang sama dengannya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu menahu tentang siapa Ayah kandung Kiran.Tapi Kiran pernah bilang kalau Ayahnya pergi sejak dirinya berusia satu tahun dan Adiknya Kiran masih berada dalam kandungan."


"Kamu pernah mencoba Mencarinya, Darren?"


"Belum pernah. Aku..., Tunggu! Kenapa kamu bertanya - tanya tentang Ayahnya Kiran? Atau jangan - jangan..."


"Ya, saya mencurigai seseorang. Jadi bersediakah kamu membantu saya"


"Apa maksudmu? Dan siapa oran itu?"


"Saya merasa Ayah Kiran masih hidup. Oleh karena itu saya ingin melakukan sedikit penyelidikan. Kamu mengizinkan jika sewaktu - waktu saya bertemu lagi dengan Kiran."


"Ya, tapi siapa orang yang kamu maksud, Ar? Selama ini Kiran bahkan tak pernah menemukan keberadaan Ayahnya."


"Saya sedang mencurigai seseorang Darren. Dan entah kenapa saya sangat percaya jika orang itu adalah Ayah kandung Kiran."


"Siapa?"


"Saya curiga dia Ayah saya, Darren.Saya rasa wajahnya ada mirip - miripnya dengan Kiran," Kata Arya sambil menatap serius ke arah Darren.


Darren mengernyitkan dahi setelah mendengar ucapan Arya. Ia terkejut sekaligus tidak percaya apa yang di ucapkan oleh Arya.


Kini Darren justru mencurigai Arya. Ia curiga jika Arya terobsesi untuk mendapatkan Kiran.


"Saya tidak bercanda, Darren. Sejak pertama kali bertemu Kiran, saya sudah merasa terikat dengannya. Ya awalnya saya pikir saya tertarik dengan Kiran. Tapi setelah saya memperhatikan Kiran tadi, saya sadar kalau Kiran mirip dengan Ayah saya."


"Tapi bagaimana itu bisa terjadi, Ar? Lagi pula memangnya kamu sudah punya bukti?" tanya Darren.


"Belum, maka dari itu saya meminta izin padamu untuk menyelidikinya."


Darren menghembuskan napas panjang dan menyugar rambutnya ke belakang kemudian kembali menatap ke arah Arya. Darren bimbang, tetapi di sisi lain ia pun ingin mencari tahu mengenai keberadaan Ayah Kiran.


"Baiklah, tapi kalau sampai kamu hanya berbohong, maka aku tidak akan segan - segan menghajarmu."


"Kamu tidak perlu khawatir Darren. Saya bukan pria yang suka berbohong. Tapi jika nanti kita tidak bisa membuktikannya, saya harap kamu tidak marah.


"Hm, kenapa tidak melakukan tes DNA saja?Bukankah itu jauh lebih mudah, Arya?" tanya Darren sambil menatap Arya.


"Kamu pikir Ayah saya akan setuju begitu saja, Darren? Meski di lakukan secara diam - diam pun, saya yakin Ayah saya akan mengetahuinya. Dan dia pasti akan marah besar," jawab Arya. Ia menghembuskan napas pelan sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Apa ayahmu orang yang susah di mengerti, Ar?"

__ADS_1


"Ya kamu benar sekali. Dia sangat sulit di mengerti. Bahkan akhir - akhir ini dia mendesak saya untuk menikah," tukas Arya ia berdecak kesal saat teringat kembali dengan permintaan Pandu.


"Kalau begitu kenapa kamu tidak menikah? Aku lihat - lihat kamu memang sudah pantas untuk menikah?"


"Bukan itu masalahnya Darren. Kamu tahu? Ayah menyuruh saya untuk menikah dengan wanita yang sudah dia tentukan. Dan kamu tahu siapa dia?" tanya Arya. Sambil tersenyum miring menatap ke arah Darren.


Arya yakin Darren pasti akan sangat terkejut setelah mendengar ucapannya.


"Siapa?" tanya Darren dengan santai.


"Sepupumu!" jawab Arya. Ia terkekeh geli kemudian kembali duduk di kursi tunggu. Arya menyadarkan kepalanya pada dinding.


"Jangan gila kamu Arya. Apa Ayahmu menyuruhmu untuk menikahi Luna?" tanya Darren. Ia membelalakan matanya sembari menatap tidak percaya ke arah Arya.


"Ya begitulah. Ayah bilang dia ingin agar perusahaannya bisa bekerja sama dengan perusahaan Ayah kamu. Pemikiran orang tua memang susah di mengerti," ujar Arya.


"Jangan sekali - kali kamu mendekati Luna, Arya! Aku tidak akan membiarkanmu untuk menikahi Luna!" ucap Darren dengan tega. Tatapan matanya pun begitu nyalang saat beradu pandang dengan Arya.


"Memangnya kenapa? Bagaimana jika kami di pertemukan dan sepupumu itu jatuh cinta dengan saya?"


"Luna tidak mungkin mencintai pria tua sepertimu?" ucap Darren sedikit kesal


"Benarkah? kita lihat saja nanti. Ah, awalnya saya tidak tertarik dengan sepupumu. Tapi setelah kamu berkata seperti itu, saya jadi merasa tertantang," gurau Arya sembari terkekeh geli saat melihat Darren melotot.


"Apa kamu bilang? Brengsek! Awas saja kalau kau sampai mendekati Luna." ucap Darren mulai kesal dengan Arya


"Hm, baiklah sekarang sudah saatnya saya pergi. Saya akan segeramenghubungimu jika semuanya sudah jelas."


"Oke, aku harap kamu melakukan yang terbaik."


"Ya, dan ngomong - ngomong apa keluargamu tidak pulang dari luar negeri?" tanya Arya


"Untuk apa kau bertanya seperti itu?" tanya Darren sembari memincingkan matanya.


"Saya hanya bertanya saja. Jadi tidak ada yang pulang untuk menyambut Arka?" jawab Arya


Darren menghela napas panjang. Ia menyugar rambutnya lalu berkata, " Ayah sama Mamah dan Luna akan pulang minggu depan. Mereka akan membantu menyiapkan acara syukuran atas kelahiran Arka." ucap Darren.


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like komen dan vote.

__ADS_1


__ADS_2