
Pintu ruang rawat Darren kembali terbuka. Sehingga membuat Daniel pun menghentikkan ucapannya.
Daniel dan Kiran reflek menoleh. Keduanya sangat terkejut saat melihat Helena datang membawa Arka. Mendengar suara isak tangis Arka, Kiran buru - buru mendekat. Air matanya kembali luruh tepat setelah ia menggendong Putranya itu.
"Maafin Mama, Nak. Mama tidak bermaksud mengabaikan kamu," ujar Kiran di ciuminya pipi gembul Arka dengan penuh kasih sayang.
"Sepertinya Arka sangat merindukan kamu, Ran. Lihatlah! Dia langsung tediam saat du gendong kamu.
Kiran menganggukan kepala ia sendiri pun sangat merindukan Arka.
"Mama mencintaimu, Nak. Mulai hari ini kita tunggu Papa sama - sama ya. Kita jaga Papa berdua," ujar Kiran yang di balas celoteh lucu dari Arka.
Setelah puas memeluk Arka, kini Kiran membawa Arka mendekati Darren. Ia membaringkan Arka tepat di samping Darren. Tangan mungil Arka bergerak tak beraturan. Sesekali ia menyentuh lengan Darren.Arka kembali menangis setelah ia tidak mendapatkan respon apapun dari sang Papa.
"Papa baik - baika saja, Nak. Papa akan segera kembali dengan kita. Jangan menangis. Jangan membuat Mama semakin rapuh," lirih Kiran sembari mengenggam tangan mungil Arka.
Namun, tangisan Arka tidak kunjung berhenti. Bayi mungil itu seolah - olah sedang mengungkapkan rasa rindunya yang begitu besar kepada Darren.
"Mas, tidakkah kamu kasian denganku dan juga Arka? Cepatlah bangun kami sangat merindukannmu.
****
Sementara itu di kedaiaman Bima kini sedang terjadi kehebohan. Paslanya hari ini Bima mendapatkan kabar jika perusahaannya mengalami beberapa masalah
"Pa, semua kantor cabang juga ikut mengalami masalah.Bahkan para klien kita telah memutus kontrak kerja sama," ujar Kevin wajahnya terlihat gusar sembari menatap Bima yang sedang duduk di sofa.
__ADS_1
Kondisi Bima belum cukup membaik setelah mendapatakan pukulan dari Alex tempo hari. Di tambah lagi semua kabar buruk yang menimpa semua perusahaannya. Bima semakin frustasi.
"Sial, kalau begini caranya kita bisa bamgkrut, Vin. Astaga! Siapa yang berani bermain - main di belakangku!" Ujar Bima.
"Bukankah kita masih memiliki wedding organiser dan Butik milik Mama? Aku rasa kita tidak mungkin bangkrut, Pa" ujar Kevin.
"Kata siapa Vin. Butik dan Wedding Organiser Mama juga sedang mengalami masalah. Bahkan kini terancam gulung tikar," sahut Cindy yang baru saja datang. Wajahnya tampak kusut saat ia duduk dekat Bima.
"Apa? jadi semua usaha milik kita terancam bangkrut? Astaga, kenapa hal ini bisa terjadi? Siapa yang sudah berani melakukan ini?"
Cindy bersedekap sembari menatap jengkel ke arah Kevin dan juga Bima.
"Tentu saja pasti perbuatan Kenzo. Sial! Ini semua gara - gara kalian berdua. Kalau kalian tidak berbuat masalah, aku yakin semuanya tidak akan menjadi seperti ini.
"Tapi...?"
"Sudah tenang dulu jangan bertengkar, bukankah kita masih memiliki Niko?" tanya Kevin sembari menyeringai.
"Kami benar Niko pasti akan membantu kita keluar dari masalah ini. Lagi pula kita masih punya tabungan yang cukup banyak," balas Bima sambil tersenyum licik seolah tidak takut dengan segala konsekuensi yang akan ia dapatkan.
"Jadi....."
"Kita masih bisa membuat perhitungan kepada Kenzo!"
"Kita harus segera membicarakan hal ini dengan Niko. Aku dengar - dengar saat ini Darren sedang koma. Jadi ini waktu yang tepat melakukan sesuatu kepada mereka," ujar Kevin mengusulkan sebuah ide.
__ADS_1
Mendengar ucapan Kevin, Bima sontak terdiam. Pikirannya mendadak kalut saat memikirkan Darren. Entah mengapa hati kecilnya merasa khawatir dengan Darren.
"Kamu kenapa, Mas? Khawatir dengan kedaan Darren?" tanya Cindy yang mulai menyadari perubahan raut wajah Bima.
Bima tersentak kaget, ia reflek menoleh ke arah Cindy kemudian tersenyum sinis. Bima bersedekap lalu berkata, "Mana mungkin aku mengkhawatirkan dia, Cin. Bagiku Darren hanyalah sampah penganggu.
"Baguslah kalau begitu. Kamu memang tidak boleh mengkhawatirkan dia. Kalau sampai kamu mengkhawatirkan dia, maka aku tidak segan untuk meninggalkanmu, Mas!" Ancam Cindy sambil menatap tajam ke arah Bima.
"Hm, aku tahu. Lagi pula Darren tidak butuh rasa khawatir dariku," balas Bima menatap Cindy.
Hening antara Kevin dan juga Cindy tidak ada yang membalas ucapan Bima. Kedua memilih diam dan saling menatap satu sama lain.
Kevin menghembuskan napas panjang. Ia menyadarkan tubuhnya pada sandaran sofa lalu memejamkan mata. Meski sedari tadi ia terlihat biasa saja tetapi hatinya sunggug gundah.
Bagaimana tidak? Hanya dalam waktu satu perusahaan keluarganya yang cukup besar berhasil di hancurkan. Kevin khawatir semuanya tidak akan semakin tidak terkendali dan dirinya berubah bangkrut.
Bersambung...
Yuhuuu... ini agak selow dulu ya belum yang tegang lagi hehe. Kita bernafas sejenak sebelum kembali memasuki adegan yang tegang lagi hehehe
Nantikan terus kisah mereka ya!
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tekan tombol like, komen, vote dan hadiahnya.
Jangan lupa untuk selalu tekan tombol like, komen dan vote.
__ADS_1