Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Sebuah Keputusan


__ADS_3

"Ya aku sangat merindukannya. Aku ingin menemuinya,tetapi aku sangat takut. Aku takut jika kehadiranku tidak di harapkan olehnya," lirih Kiran, Air matanya mulai menetes membasahi pipinya.


"Kalau begitu,lupakan saja suamimu. Dia tidak pantas mendapatkan istri sebaik kamu, Ran. dan aku rasa suamimu tidak merasa kehilangan setelah kamu pergi." tanya Arya, ia menatap lekat wajah Kiran yang semakin murung setelah mendengar ucapannya.


"Tapi entah kenapa hatiku sangat percaya kalau dia akan mencariku," ujar Kiran


"Oh,Ya? kenapa kamu bisa percaya dengannya setelah apa yang terjadi?" tanya Arya, ia benar - benar merasa kagum sebab Kiran setia dan percaya kepada Darren.


"Karena aku mencintainya, Hanya dia satu - satunya pria yang akan menjadi Suamiku. balas Kiran matanya memancarkan kesungguhan yang begitu besar.


"Tapi bagaimana seandainya dia menikah lagi? ini sudah berbulan - bulan lamanya kamu pergi, Ran. bukankah lebih baik kau melupakannya?" tanya Arya lagi. ia merasa iba karena Kiran begitu polos dan sangat mempercayainya.


"Aku tidak peduli, meski dia menikah lagi. Bagiku, dia tetap menjadi suamiku."


"Kamu tidak berniat mencari pengganti, Ran? Maksudku, kamu masih muda dan Sangat cantik. Di luaran sana pasti banyak yang bersedia menikahimu."


Kiran terdiam, ia mengalihkan pandangannya dari Arya. ia menghembuskan napas panjang saat perasaannya mulai tak menentu.


"Aku pernah berfikir untuk mencoba mencintai pria lain, tapi hasilnya sia - sia ternyata aku tidak bisa jauh dari suamiku." lirih Kiran pilu.


Rasa rindunya semakin membuncah ruah. Rasa - rasanya Kiran ingin kembali dan memeluk Darren dengan begitu erat.


"Tapi kamu sudah mendengar sendiri, tentang berita mengenai suamimu, Kan? Dia hampir bertunangan dengan gadis lain. Kamu yakin mau menjadi istrinya Ran?"


"Mendengar ucapan Arya, Kiran merasa tertohok. batinnya kembali terluka saat mengingat Shelvi memeluk Darren dulu. Kiran memejamkan mata, ia ingin menyerah tapi di sisi lain, hatinya menyuruhnya untuk tetap bertahan.


"Entahlah tapi yang jelas. Aku tidak akan melepaskan suamiku kecuali dia yang melepaskan aku," jawab Kiran sembari menyunggingkan senyum manis.


Arya menganggukkan kepala. ia ikut tersenyum meski ada rasa kecewa yang diam - diam menghantui hatinya.


"Benar, kamu memang harus bertahan demi anakmu. Saya berdoa agar suamimu lekas sadar dan langsung mencarimu kesini."

__ADS_1


"Ya terima kasih banyak, Mas. Rasanya aku senang sekali bisa mengenalmu. Kamu sudah seperti Kakakku. penuh perhatian dan baik hati."


"Oh,ya? Arya terkekeh. tangan Arya terangkat lalu mengacak rambut Kiran.


"Ya aku juga merasa nyaman berada di dekatmu. Kau bukan seperti orang asing, padahal kita tidak memiliki ikatan apapun."


"Kamu benar, tapi aku harap kita memiliki sebuah ikatan," ujar Arya.


"Eh?"


"Ah, lupakan saja. Aku hanya bercanda?"


"Benar hanya bercanda? Atau...."


*******


Di tempat lain Daniel dan Darren masih berdebat. "Jangan bercanda dong Kak, kamu pikir mencari informasi itu mudah, hm? minimal berikan aku waktu, satu hari saja," ujar Daniel sambil bersedekap, sementara kedua matanya masih tertutup.


Daniel menghembuskan napas panjang. ia menyugar rambutnya kemudian menatap malas kearah Darren. " Kalau begitu beri aku waktu untuk istirahat sebentar, aku benar - benar butuh tidur meski hanya beberapa jam."


Darren berdecak kesal, ia beranjak dari duduknya kemudian menatap datar kaearah Daniel. Darren bersedekap dan berkata " Kalau begitu aku akan mencari orang lain yang bisa membantuku."


Daniel mengacak rambutnya frustasi. ia menggeram marah sekaligus kesal. dengan Kakaknya yang selalu tidak sabaran.


"Memangnya apa yang akan kamu lakukan sesudah bertemu dengan Kiran, hm?" tanya Daniel. ia tersenyum miring sembari menatap remeh kearah Darren.


Mendengar pertanyaan dari Daniel, Darren terdiam. Wajahnya yang semula memancarkan ambisi yang begitu besar, kini mendadak jadi muram. Darren terduduk di sofa, ia menghela napas pelan lalu memejamkan mata.


"Aku akan membawa Kiran kembali dan setelahnya aku tidak akan melepaskan dia lagi." jawab Darren tegas.


"Kamu yakin Kiran bersedia kembali denganmu, Kak? Kiran mungkin tidak berselingkuh. Tapi aku ragu dia mau kembali setelah apa yang kamu lakukan padanya." sambung Daniel ia terkekeh pelan kemudian meraih laptop yang terletak di atas meja.

__ADS_1


"Kenapa kamu berkata seperti itu? memangnya kamu tidak suka jika Kiran kembali kerumah ini, Niel?" tanya Darren tatapan matanya begitu tajam, seolah - olah ia tidak suka dengan perkataan Daniel.


"Tentu saja aku sangat senang Kak. Apalagi sebentar lagi Kiran akan melahirkan. tapi aku ragu, kalau dia mau kembali dengan mu. dia mungkin sudah terlalu banyak menderita Kak." ucap Daniel


Darren duduk termenung pikirannya melayang teringat dengan semua rasa sakit yang pernah ia berikan kepada Kiran. Darren menghela napas lelah. ia menyugar rambutnya ke belakang kemudian mengusap rambutnya dengan kasar. ucapan Daniel memang benar.


"Kamu benar Daniel, seharusnya aku tidak boleh terlalu banyak berharapa lebih darinya. mungkin saja sekarang Kiran sudah benar - benar melupakanku." lirih Darren. ia mencengkram bagian dada sebelah kirinya dengan erat. sakit itulah yang di rasakan Darren saat ini.


"Kiran berhak bahagia dengan pilihannya sendiri Kak Darren, begitu pula dengan mu. kalian berdua berhak bahagia sambung Daniel sambil menepuk pundak Darren.


"Tapi bagaimana kalau kebahagiaanku adalah Kiran, Niel? apa aku tidak akan bahagia jika Kiran benar - benar meninggalkan aku?"


Daniel tersenyum geli melihat wajah merana kakaknya. ia terkekeh kemudian menepuk kencang punggung Darren.


"Sial! wajahmu sungguh menjijikan Kak Darren. Ngomong - ngomong kapan kamu berubah menjadi pria lemah begini, hm? Haha, tidak biasanya kamu galau karena seorang wanita."


"Kamu hanya belum merasakannya saja Daniel! kehilangan seseorang yang benar - benar kita abaikan benar - benar berat. Akupun tidak menyangka kalau pada akhirnya aku akan bersikap seperti ini." ucap Darren.


" Ya, terus terang saja kak Darren, perubahanmu cukup drastis. dulu saat berpisah dengan Vanesha, kamu tidak seperti ini. kekuatan cinta ternyata memang luar biasa."


"Hm. tapi jika nanti Kiran memang tidak mau kembali, aku akan melepaskannya, Niel. Aku tidak akan memaksanya untuk tetap tinggal bersamaku, Karena aku tidak ingin membuatnya menderita jika hidup denganku, dan Aku akan membiarkannya untuk dia memilih jalan yang ia inginkan " gumam Darren ia tersenyum tipis ketika bayangan Kiran mulai menari - nari di pelupuk matanya. mendengar ucapan Darren, Daniel reflek menoleh. lagi - lagi mulutnya ternganga suaranya pun seoalah - seolah tercekat di tenggorokan.


Prok! Prok! Prok!


Daniel bertepuk tangan sambil menatap kagum ke arah Darren "Luar biasa! Mamah sama Ayah pasti akan pingsan kalau mereka mendengar perkataanmu, Kak Darren. kamu sudah berubah menjadi pria yang baik.


" Jangan lebay Daniel! aku tetap bukan pria yang baik. kalau pun mau aku bisa memaksa Kiran agar kembali denganku."


"Lalu kenapa kamu tidak melakukannya?"


"Karena aku tidak ingin membuatnya tertekan Daniel? lagi pula aku juga ingin menjadi pria sejati seperti apa katamu tempo hari" ucap Darren sambil terkekeh.

__ADS_1


Darren menatap Daniel sekilas kemudian menyandarkan tubuhnya pada sofa. Entah mengapa setelah berbicara panjang lembar kepada Adiknya. Hatinya perlahan - lahan jauh lebih tenang dari yang sebelumnya. Ya.., saling bertukar pikiran dengan saudara memang berdampak cukup besar bagi Darren.


__ADS_2