
Kiran menggelengkan kepala. Ia masih ingat betul saat Larasati menangis melihat televisi. Dulu, Bagas bilang ibunya menangis karena melihat Ayahnya bersama wanita lain.
"Ayah belum meninggal, aku yakin dia pasti sudah melupakan ibu setelah dia sukses."
"Kiran dengarkan Mama! Tolong jangan seperti ini, Nak!" Kata Helena. Bulir - bulir air mata mulai membasahi pipinya, saat ia melihat tatapan penuh amarah dari kedua manik mata Kiran.
Kiran tidak menjawab, mulutnya seolah terkunci. Namun, tatapan matanya begitu tajam ke arah foto usang di tangannya . Sekuat apapun Kiran mencoba baik - baik saja, tapi tetap saja hatinya tidak bisa berbohong. Ia amat marah saat melihat wajah sang Ayah.
"Sejahat apa pun dia tetap Ayah kamu, Ran. Jangan menyimpan kebencian yang hanya akan membuatmu menderita." tutur Helena.
Helena merasa sedih melihat sorot kemarahan dari wajah Kiran. Padahal, biasanya menantunya tidak pernah marah atau pun berwajah sinis seperti ini.
"Bagaimana mungkin aku tidak membencinya, Ma? Karena dia ibu harus bekerja keras untukku dan juga adikku Bagas. Bahkan Ibu sampai menyembunyikan penyakitnya dan meninggal," balas Kiran napasnya memburu seiring dengan gelombang marah di dadanya.
"Hei jangan berbicara seperti itu, Kiran! Ibumu sudah tiada karena sudah takdirnya. Jangan menyalahkan sesuatu yang kamu tidak ketahui alasannya!" Sambung Helena kali ini tatapannya begitu serius. Sebab, ia tidak ingin Kiran terjerumus pada lubang kebencian.
"Tapi..." Ucapan Kiran terhenti. Ia terdiam saat Helena menangkup kedua pipinya. Kiran tertegun, ia heran saat mendapat tatapan tajam dari Helena.
"Kamu wanita baik, Ran. Jadi jangan jadikan dirimu berubah menjadi jahat hanya karena hal ini, ingat! Sekuat apapun kamu membencinya, tidak ada yang berubah. Ibu dan Adikmu tidak akan kembali!"
Kiran terdiam sembari menatap lekat wajah Helena. Napasnya mulai beraturan begitu pula dengan hatinya yang sudah semakin tenang.
"M...Ma, Aku..."
"Mama tahu bagaimana rasanya berada di posisimu. Tapi ingatlah, Nak! Kebencian tidak akan merubah apapun. Justru karena kebencian, hidupmu akan menderita."
Kiran menghembuskan napas panjang, setelah mendengar ucapan Helena. Meski hatinya masih tak karuan, tetapi ia mencoba menuruti perkataan mertuanya.
"M..Maaf, Ma. Aku tidak bermaksud.
"Jangan meminta maaf sama Mama! Kamu itu tidak salah."
Kiran menganggukan kepala. Setelah itu ia pun berangsur memeluk Helena. Kiran memejamkan matanya. Hatinya perlahan mulai tenang saat merasakan usapan lembut tangan Helena di punggungnya.
__ADS_1
"Sekarang jangan menangis lagi! Jangan karena hal ini kamu membuang air mata."
"Iya Ma,"
"Ya sudah sekarang sana kembali ke kamarmu. Istirahatlah! Biar Mama sama Ayah yang menjaga Arka."
"Memangnya Mama tidak lelah? Mama kan baru sampai. Lebih baik Mama sama Ayah istirahat biar aku yang menjaga Arka."
"Tidak apa - apa. Kata Darren kamu masih dalam proses pemulihan, jadi harus banyak - banyak beristirahat."
Kiran yang memang tengah merasa lelah pun akhirnya mengangguk. Ia begitu bersyukur sebab mertuanya sangat baik dan tidak pernah menuntut apapun darinya.
"Terima kasih banyak ya, Mah. Aku beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Terima kasih juga karena Mamah dan Papah sudah menerimaku dengan ikhlas."
"Seharusnya Mama yang berterima kasih sama kamu, Ran. Karena kamu, sekarang Darren sudah berubah. Dia tidak lagi bersikap seperti dulu lagi."
Kiran tersenyum, setelah itu ia pun kembali merapikan beberapa barang yang berada dalam kotak. Kiran menghembuskan napas panjang, kali ini ia justru berharap agar tidak bertemu dengan Ayahnya.
Setelah berpamitan dengan Helena, Kiran pun menuju ke kamarnya sendiri. Kiran berjalan gontai menuju kamarnya. Tenaganya seolah terkuras habis setelah ia menangis beberapa saat yang lalu.
Sesampainya di kamar Kiran duduk di tepian ranjang. Ia menghembuskan napas panjang kemudian meletakkan kotak mendiang Ibunya ke atas nakas.
"Bu, aku rindu sekali denganmu." gumam Kiran. Matanya kembali memanas dan berkaca - kaca.
Kiran menunduk, bahunya bergetar pelan seiring isak tangisnya yang kembali terdengar. Rasanya Kiran tak kuasa menahan kesedihan yang begitu mendalam di hatinya. Bahkan, sudah mendengar nasehat dari Helena, ia tetap tidak bisa mengendalikan dirinya.
Ceklek!
Suara pintu kamar terbuka. Kiran yang masih menangis buru - buru mengusap air matanya. Kiran menghembuskan napas pelan lalu tersenyum dan menatap ke arah pintu.
"Loh, kok kamu sudah pulang, Mas? Ini kan masih siang?" ujar Kiran setelah ia melihat Darren memasuki kamar.
"Tadi kata Mama kamu menangis. Ada apa, hm?" tanya Darren tanpa menjawab pertanyaan Helena terlebih dahulu. Darren tampak khawatir, apalagi setelah ia melihat mata Kiran yang sembab.
__ADS_1
"A...Aku tidak menangis, Mas. Aku hanya..." Kiran menghentikkan ucapannya. Ia reflek diam saat Darren menatapnya intens dan penuh selidik.
"Mama tidak mungkin bohong, Ran. Lagi pula hanya dengan melihat wajahmu, aku pun tahu kalau kamu baru saja menangis." kata Darren. Ia melonggarkan dasinya lalu duduk di samping Kiran.
Kiran tidak mengatakan apapun. Ia justru menunduk dan menghindari tatapan Darren.
"Coba lihat sini!" Ujar Darren sembari memegang kedua bahu Kiran. Darren tersenyum manis. Ia mengangkat dagu Kiran agar lebih leluasa menatap wajah cantiknya.
"Mas, aku mau ke kamar mandi dulu. Dari tadi pagi aku belum mandi." ujar Kiran yang berusaha menghindar dari Darren.
"Aku tahu, kamu hanya ingin menghindariku, kan?" Darren tersenyum lembut. Setelahnya ia mengecup kedua pipi Kiran.
"M...Maaf. Aku tidak bermaksud menghindarimu, Mas? Aku hanya..."
"Tidak apa - apa, aku mengerti." ucap Darren memotong perkataan Kiran.
Kiran tersenyum tipis lalu mengangguk. Ia juga menyentuh tangan Darren yang tengah menangkup kedua pipinya. Hati Kiran menghangat, ia bahagia sebab di kelilingi oleh orang - orang yang begitu menyayanginya.
"Kalau ada apa - apa katakan saja! Jangan pernah memendamnya sendirian! Kalau kamu tidak mau bercerita padaku, kamu bisa menceritakannya pada Mama. Aku terluka saat kamu diam - diam menangis di belakangku, Ran." ujar Darren sembari menarik Kiran ke dalam pelukannya.
Bibir Kiran berkedut menahan tangis yang siap meluncur. Kiran membalas pelukkan Darren. Dan menyandarkan kepalanya.
"Maaf aku tidak bermaksud membuatmu terluka, Mas. Aku hanya tidak mau kamu semakin banyak pikiran karena aku," balas Kiran.
"Aku justru semakin kepikirana kalau kamu menangis diam - diam, Sayang. Aku merasa tidak becus menjadi seorang suami saat melihatmu," kata Darren lirih. Ia mengecup puncak kepala Kiran kemudian melepas pelukannya.
"Jangan bicara begitu, Mas! Kamu adalah suami yang baik untukku,"
"Benarkah? Kalau begitu berjanjilah untuk tidak menangis di belakangku lagi. Ceritakan semua yang kamu rasakan kepadaku!"
Terima kasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen dan vote.
__ADS_1