
Kini Kiran kembali tak sadarkan diri. sehingga membuat Darren pun semakin tidak karuan. ia meraung dan memanggil - memanggil nama Kiran.
Untungnya, tidak lama setelah itu, Darren sampai di rumah sakit. Tanpa menunggu lama ia bergegas membopong Kiran berlari ke dalam rumah sakit. dan berkata, " Suster! Dokter! Tolong istri saya!" Teriak Darren
A****nggap aja kaya gini ya cheu🤗
Sementara di tempat lain. Saat ini ruangan yang seharusnya di gunakan untuk sesi pemotretan, Justru mejadi tempat yang begitu mencengkam. Vanesha dan Andi tampak tertunduk lesu sembari duduk di sofa.
"Apa yang sudah kalian lakukan?" tanya Danu. Ia merasa begitu frustasi dengan apa yang baru saja terjadi.
"Mana aku tahu?" Jawab Vanesha ketus. Ia bersedekapa lalu menyilangkan kedua kakinya
"Jangan berbohong, Vanesha. Cepat katakan apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa Kiran bisa bersama dengan Andi?" tanya Danu lagi ia menggeram marah sembari menatap nyalang ke arah Vanesha.
"Aku benar - benar tidak tahu seharusnya kamu bertanya pada Andi dan juga Kiran."
"Kenapa begitu? Kamu yang sudah menyuruhku untuk menodai wanita itu!" Tukas Andi yang merasa tidak terima dengan ucapan Vanesha.
"Jangan mengada - ngada! Memang kamu punya buktinya?" tanya Vanesha. ia bersedekap sambil menyeringai ketika melihat raut wajah Andi.
"Kamu benar - benar keterlaluan! Padahal kamu sendiri yang memintaku untuk menodai dia. Kamu juga yang berjanji akan membayarku jika aku berhasil melakukan itu," kata Andi. Matanya melotot tajam dan penuh rasa akan marah yang begitu besar.
__ADS_1
Danu menyugar rambutnya. Ia merasa begitu frustasi menghadapi manusia yang begitu kurang ajar di depannya. Beruntungnya Danu sudah menghubungi Daniel agar segera menyelesaikan semuanya.
Untungnya Daniel sudah pulang dari luar kota. Sehingga, tepat setelah Danu mengabarinya ia langsung berangkat menuju ke studio milik Danu.
Brak!
Semua mata tertuju pada seseorang yang kini sudah berdiri di ambang pintu. Danu menghela napas lega. Ia senang sebab Daniel akhirnya sampai di tempat kerjanya.
"Siapa yang sudah melukai Kiran?!" tanya Daniel. Suaranya menggelegar marah dan tatapan matanya mengarah pada Vanesha dan juga Andi.
Melihat Andi yang hanya menunduk diam. Daniel semakin tersulut emosi. Ia mendekati Andi kemudian mencengkram kuat bajunya.
"Apa yang sudah kamu lakukan kepada Kiran?" tanya Daniel. Suaranya mengalun rendah dan penuh ancaman.
"Aku tidak melakukan apapun padanya, Aku hanya di suruh oleh wanita ini untuk menodainya," kata Andi sambil melirik ke arah Vanesha.
"A...Aku hanya di suruh," kata Andi. Ia menelan salivanya susah payah ketika melihat tatapan Daniel.
"Kenapa kamu mau menurutinya, brengsek? Astaga, sepertinya kamu memang pantas di musnahkan?" tukas Daniel tangannya mencengkaram kuat leher Andi.
Andi meronta, Napasnya mulai tersengal karena ulah Daniel. Setelah Daniel melepasakan cekalan tangannya, barulah ia bisa bernafas lega.
"Tapi aku berani bersumpah, aku belum melakukan apapun pada wanita itu. Aku hanya menamparnya dan menyentuhnya. L...Lalu aku tidak sengaja mendorongnya, itu saja." Kata Andi wajahnya menunjukkan keseriusan yang begitu besar.
__ADS_1
Andi memang belum sempat menodai Kiran. Saat ia ingin menyentuh Kiran, Ia justru tidak sengaja mendorong Kiran hingga Kiran terjatuh dan membentur tepi bak mandi.
"Brengsek! Tetap saja kamu bersalah!" bentak Daniel matanya ber api - api merasakan emosi yang menggebu - gebu.
"Baiklah aku memang bersalah, Lalu bagaimana dengan dia?" tanya Andi. sambil menunjuk ke arah Vanesha yang sedari tadi hanya diam.
"Kenapa denganku? Aku, kan, tidak ikut campur," kata Vanesha wajahnya masih terlihat begitu santai. Berbeda sekali dengan hatinya yang tengah was - was.
"Kamu yakin tidak ikut campur, Nesh?" tanya Daniel. Ia menyeringai.
"Tentu saja," jawab Vanesha cepat. Napasnya memburu, terlebih lagi ketika melihat seringai licik dari bibir Daniel.
"Benar begitu? Kamu lupa kalau seluruh ruangan gedung ini memiliki,cctv, Nesh?" tanya Danu sambil menyeringai.
Vanesha membulatkan matanya. Hanya karena marah dan rasa cemburunya kepada kiran. Ia melupakkan hal yang sangat penting. Ya........, Vanesha lupa jika ada banyak cctv di gedung milik Danu.
"A...Aku..."
"Tidak ada ampun untuk wanita sepertimu!" bentak Daniel. Ia mencengkram dagu Vanesha kuat.
"Niel, aku bisa menjelaskannya. Aku....."
"Jelaskan semuanya di kantor polisi nanti!"
__ADS_1
Nantikan Kisah selanjutnya ya...!
Jangan lupa like komen dan Vote.