
Setelah cukup lama berkelling di pusat perbelanjaan, Kiran mengajak Luna untuk beristirahat di sebuah kafe. Selain karena merasa lelah, tetapi Kiran juga semakin tak nyaman karena sejak tadi ada orang yang membututinya.
Kiran menghembuskan napas panjang. Ia memejamkan mata ketika sudah duduk di salah satu kursi di dalam kafe. Kiran sangat takut, tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
"Setelah ini, kita pulang ya, Lun? Sepertinya kita sudah cukup lama berkeliling." ucap Kiran yang kini tampak sibuk dengan ponselnya.
"Tapi ini masih siang, Kak. Yakin mau pulang? Mumpung di bolehin loh sama suami kamu," balas Luna yang meletakkan ponselnya di atas meja.
"Iya, aku mau pulang aja. Aku takut nanti kalau Arka udah sudah sampai rumah dan aku masih di luar. Tapi, kalau kamu masih mau jalan - jalan nggak pa - pa kok. Biar nanti aku pulang sendiri." kata Kiran. Ia tersenyum tipis lalu meminum segelas jus yang ia pesan.
"Beneran tidak apa, Kak. Sebenarnya setelah ini, aku ada janji untuk ketemu sama teman," ucap Luna yang merasa tak enak dengan Kiran.
"Iya, tidak apa - apa. Kamu temui saja teman kamu itu. Tapi, maaf ya, aku tidak bisa menemani kamu," jawab Kiran
Luna menganggukan kepala, setelah itu sudut bibirnya pun terangkat membentuk senyuman manis yang begitu menawan. Ya..., Luna memang memiliki semyuman yang begitu mempesona.Maka tak heran, jika Arya langsung jatuh cinta saat pertama kali melihatnya.
"Nanti Kak Kiran, pulangnya naik taksi atau mau sama supir? Kalau mau sama supir biar aku pesan taksi,"
__ADS_1
"Kalau aku pakai sopir gimana? Kamu nggak keberatan, kan?"
"Tentu saja tidak, Kak. Ya sudah, aku pergi dulu ya, Kak. Temanku sudah menunggu," kata Luna.Ia menyunggingkan senyum tipis dan beranjak dari duduknya.
Setelah kepergian Luna, Kiran pun memutuskan untuk langsung pulang. Setelah selesai membayar, ia bergegas menuju ke tempat parkir. Sepanjang jalan menuju ke tempat parkiran, Kiran tak henti - hentinya menatap ke arah belakang. Jantungnya berdetak begitu kencang, ia merasa seolah - olah ada begitu banyak bahaya yang sedang mengintainya.
Saat di sebuah lorong yang cukup sepi, langkah kaki Kiran terhenti. Napasnya semakin memburu saat ia melihat seseorang tersebut. Kiran mengusap dadanya pelan untuk menenangkan hatinya.
Setelah merasa cukup tenang, Kiran pun berniat melewati orang tersebut. Kiran menunduk dan bergegas pergi. Namun, tepat ketika berada di antara orang yang mencurigakan itu, langkahnya kembali terhenti. Pasalnya kini tangannya di cekal cukup kuat oleh orang tersebut.
"Siapa kamu? Jangan kurang ajar! Ia menghempaskan tangan seseorang yang ia yakini adalah seorang pria tersebut. Namun cekalan pria di depannya sangat kuat. Sehingga Kiran tidak mampu melepaskannya. Akan tetapi, Kiran tidak tinggal diam. Ia terus mencoba melepaskan diri.
"Kamu tidak bisa mengenali suami sendiri, hm?"
"Eh?" Kiran berhenti memberontak setelah mendengar suara pria di depannya.
"Ini aku, sayang. Kenapa kamu panik begitu?" tanya pria itu, yang tidak lain adalah Darren. Ia terkekeh geli sambil membuka topi serta kupluk hoodie yang ia pakai. Selain itu, Darren juga melepas kacamata hitam serta masker yang sedari melekat di wajah indahnya.
__ADS_1
"Mas, kamu keterlaluan sekali. Kamu benar - benar membuatku ketakutan," kata Kiran ia menghempaskan tangan Darren,kemudian berjalan menjauh.
"Aku hanya sedang bermain - bermain saja, Sayang. Aku pikir kamu bisa mengenaliku. Tapi ternyata tidak, ya?" Darren tertawa pelan kemudian mengikuti langkah kaki Kiran.
"Main - mainnya nggka lucu, Mas! Kamu tahu?Aku sudah ketakutan setengah mati karena ulah kamu," sungut Kiran. Ia menatap suka ke arah Kiran yang justru terlihat begitu santai.
"Maaf, Sayang. Aku kira kamu tidak akan takut."
"Sudahlah! Lain kali jangan melakukan itu lagi. Aku merasa tidak nyaman, Mas." Keluh Kiran. Ia menghembuskan napas pelan lalu kembali melanjutkan langkah kakiknya.
"Hm, iya deh,"
Hening...
Keduanya tidak saling berbicara. Kiran memih untuk diam untuk menetralkan perasaan takutnya. Sedangkan Darren? Ia tidak tahu harus mengatakan apa sebab ia tahu, jika saat ini Kiran sedang marah padanya.
Darren menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sejujurnya wajar saja jika Kiran marah.Perbuatannya kali ini cukup mengerikan. Namun, Darren hanya ingin bercanda tanpa bermaksud apa - apa.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk, like, komen, vote dan hadiahnya.