Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Kekecewaan Seorang Anak


__ADS_3

Pagi - pagi sekali, saat suasana rumah begitu sepi.Arya mengendap - endap ke kamar mereka. Arya berencana mengambil beberapa helai rambut Pandu untuk di gunakan sebagai sampel tes DNA dengan Kiran.


Namun, baru saja membuka pintu.Arya justru di kejutkan dengan kedatangan Pandu. Arya mengernyitkna dahi ketika melihat penampilan Pandu yang begitu kacau.


"Apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya Pandu pada Arya. Ia yang merasa sudah lelah dan semakin tertekan dengan kemunculan Pandu.


"Tidak ada apa - apa saya hanya salah masuk kamar." Kata Arya sekenanya.


"Jangan bohong kamu sudah terlalu tua untuk salah masuk kamar Arya."


"Saya memang salah masuk kamar," balas Arya lagi. Tatapan matanya semakin tajam, ia muak melihat wajah Pandu.


"Kamu pikir Ayah bisa di bohongi begitu saja, Arya?" Pandu menyeringai. Ia mendekati Arya sembari memasukkan kedua tangannya dalam saku celana.


Arya berdecak kesal. Rasanya ia ingin sekali mengatakan sesuatu kepada pandu. Namun, Arya takut jika Pandu tidak percaya dan justru akan menyakiti Kiran.


Oleh karena itu, Arya ingin mengumpulkan semua bukti sebelum nantinya ia serahkan kepada Pandu.


"Kamu ingin mencuri sesuatu? Atau kamu memiliki rencana buruk pada orang tuamu sendiri, hm?"


"Sial! Saya tidak pernah memikirkan hal sehina itu. Sudahlah! Rasanya saya semakin tidak berguna jika berbicara denganmu.


"Kamu baru sadar Arya, Kalau kamu itu memang tidak berguna. Ya, seharusanya saya setuju saat dulu Lesti memutuskan untuk mem..."


Pandu tertegun, ia buru - buru menghentikan ucapannya. Pandu mengusap wajahnya gusar. Rasa bersalah sekaligus marah tidak mampu ia sembunyikan saat menatap wajah Arya.

__ADS_1


"Apa yang kamu maksud?" tanya Arya suaranya mengalun rendah penuh penekanan.


"Bukan apa - apa. Sudahlah sana pergi ke kamarmu!"


Pandu berjalan melewati Arya. Ia menguap dan hendak memasuki kamar. Namun, belum sempat menutup pintu, Arya sudah menahannya.


"Apa lagi?" tanya Pandu wajahnya begitu masam dan sayu.


"Larasati Amelia, itu istrimu, bukan?"


Pandu tidak menjawab. Dia hanya menatap tajam ke arah Arya. Namun, Arya tidak merasa takut sama sekali. Ia justru menyeringai kemudian kembali berbicara.


"Apa kamu tidak tahu kalau dia hamil saat kau memutuskannya pergi?"


"Saya yakin, Ayah pasti mendengarnya. Apa Ayah tidak benar - benar tidak tahu, hm?" tanya Arya. Ia bersedekap sembari memincingkan matanya.


"Tidak mungkin dia hamil. Kalaupun begitu seharusnya dia juga mengatakan kepada Ayah. Jangan bicara omong kosong, Arya?!" jawab Pandu dengan emosi.


Mendengar ucapan Pandu, Arya menyeringai. Ia terkekeh pelan lalu bertepuk tangan pelan. Arya merasa memang sudah memojokkan Pandu hingga akhirnya semua semakin jelas.


"Sekarang Ayah sudah mengakuinya, bukan?" Larasati dan Kiran adalah anak dan istri yang Ayah tinggalkan di desa," kata Arya.


Pandu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia menghembuskan napas panjang lalu berkacak pinggang. Tatapan Pandu berubah, kini tidak ada lagi tatapan tajam atau sinis saat beradu pandang dengan Arya.


"Ingat! Jangan pernah mengatakan apapun pada ibumu! Diam dan anggap semua ini tidak pernah ada," tukas Pandu. Ia tidak mau mengambil resiko jika sampai Lesti tahu mengenai kebohongannya selama ini.

__ADS_1


"Apa? Diam?" Apa Ayah pikir saya tipe orang yang akan menurut? Cih! Tentu saja saya akan mengatakan semuanya kepada ibu."


"Ibumu akan bersedih jika sampai mengetahui semuanya, Arya.Dia pasti akan sangat terpukul dan yang paling parah, dia akan jatuh sakit."


"Ibu tidak akan mungkin jatuh sakit hanya karena mendengar berita buruk ini. Dia justru akan baik - baik saja setelah mengetahui kebohongan besar ini."


Pandu menggeram tertahan. Tangannya mengepal kuat di sisi kanan dan sisi kiri tubuhnya. Selain itu, napasnya pun mulai memburu seiring dengan rasa marah yang mulai muncul di hatinya.


"Diam atau Ayah akan membuat ibumu menderita?" tanya Pandu. Suaranya terdengar rendah tapi syarat akan tekanan.


"Apa maksud Ayah?" tanya Arya. Ia mengernyitkan dahi sembari menatap datar ke arah pria tua di depannya.


"Kamu tahu sendiri bukan? kalau Lesti sangat mencintai dan juga percaya dengan Ayah. Kalau kamu sampai berani mengatakan semuanya, maka Ayah tidak akan segan untuk menceraikannya,"


Arya membelalakan matanya. Lagi - lagi Pandu mengancamnya akan menceraikan Lesti. Namun, kali ini Arya sama sekali tidak peduli. Lesti saja tidak peduli dengannya, lalu untuk apa Arya peduli? Karena Arya sudah terlalu kecewa dengan sikap kedua orang tuanya. terlebih lagi sikap Ayahnya tersebut.


"Terserah Ayah! Sekarang aku tidak peduli dan takut dengan semua ancamanmu itu." jawab Pandu


"Arya, Apa kamu benar - benar tega melihat Lesti menderita," Tanya Pandu kaget karena mendengar jawaban dari Arya.


"Kenapa tidak? Dia juga sudah membuatku menderita," jawab Arya sembari tersenyum miring.


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, dan vote yah.

__ADS_1


__ADS_2