Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Kematian Bima


__ADS_3

Hai... hai para readerku Author kembali lagi nih hehehe. Yuk yang mau Up lebih banyak jangan pelit kasih likenya ya. Sajen vote dan hadiahnya. Komentar juga jangan lupa di perbanyak juga ya😁


Makaciw...


Happy Reading....🤗


Melihat hal itu, Kenzo langsung buru - buru keluar dan memanggil dokter yang memang sudah ia siapkan sejak berangkat. Kenzo sudah berjaga - jaga apabila dirinya terluka maka sudah ada dokter yang menolong. Sesampainya di ruangan, dokter tersebut langsung mengecek kondis Bima. Cukup lama dokter itu berkutat dengan peralatan medisnya. Setelah itu ia menatap ke arah Kenzo sembari menggelengkan kepalanya.


"Dia sudah tidak bisa di selamatkan Ken, Aku perkirakan sekitar dua menit yang lalu dia sudah meninggal dunia," kata dokter tersebut yang juga merupakan teman karib Kenzo.


"Apa?!"


"Sepertinya peluru dari tembakannya mengenai organ vital.


"Jadi dia benar - benar sudah meninggal dunia?" tanya Kenzo sekali lagi untuk memastikannya.


"Ya, ngomong - ngomong kamu yang melakukan ini atau....."


"Dia bunuh diri. Dia menembak dirinya sendiri. Kalau tidak percaya kita bisa melihat CCTV di kamar ini.


"Aku percaya padamu. Lebih baik sekarang kita serahkan ini semua kepada polisi,"


Kenzo menganggukan kepala. Jujur saja meski sangat membenci Bima. Akan tetapi ia tidak menyangka jika Bima akan mati dengan cara yang seperti ini.

__ADS_1


Kenzo mendekati Bima. Ia menatap wajah Bima yang kini sudah benar - benar pucat. Tidak bisa di pungkiri, meski sedikit tetapi Kenzo merasa cukup kehilangan.


"Saya harap kamu mendapatkan tempat yang layak di sisi - Nya, Bima. Beristirahatlah dengan tenang."


******


Teriakan penuh kesakitan menggema di seluruh ruangan. Jeritan dan ketakutan begitu mendominasi pada seorang pria, yang kini tengah duduk bersimpuh di lantai. Wajahnya yang semula penuh kesombongan kini mendadak berubah sendu.


"T.. tidak bukan aku yang membunuhnya. Aku tidak sengaja, d... dia mengkhianatiku. Jadi aku...."


"Kamu sudah membunuh Shelvi, Vin. Dan kamu bilang tidak sengaja,hm?" tanya Bara yang sudah berjongkok di depan Kevin. Tatapan matanya begitu tajam sehingga membuat Kevin ketakutan.


Kevin menggelengkan kepala. Ia menjambak rambutnya dengan kasar sembari terus bergumam. Memang sejak membunuh Shelvi, Kevin menjadi penakut dan mudah menjadi cemas.


"Brengsek! Kamu kemang tidak bisa di maafkan, Vin. Kamu harus mati di tanganku!" Raung Bara dengan amarah yang semakin membuncah di hatinya.


Tangan Bara mencengkram erat kedua bahu Kevin. Ia tidak peduli meski Kevin merintih kesakitan.


"Lepaskan aku!" Sergah Kevin. Ia mendorong tubuh Bara agar menjauh darinya. Alih - alih menjauh, Bara justru berdiri. Tepat setelah ia berdiri, Bara mendorong wajah Kevin dengan kakinya.


Alhasil Kevin terkapar tidak berdaya. Apalagi wajahnya kini sudah babak belur setelah perkelahiannya dengan Bara beberapa saat yang lalu.


"Seberapa kuat memberontak. Aku tidak akan pernah memaafkan kamu, Vin! Aku tidak akan pernah membiarkan pembunuh sepertimu hidup dengan tenang," kata Bara ia bersedekap, sementara kakinya berada di atas perut Kevin.

__ADS_1


Bara menyeringai, rasanya begitu puas menyaksikan Kevin yang sedang sekarat. Bara ingin sekali menghabisi Kevin. Namun, ia teringat kembali dengan Diah.


Siapa yang akan menemani Diah jika dirinya masuk dalam penjara? Begitulah pikir Bara. Oleh karena itu, ia pun hanya ingin berniat bermain - main dengan Kevin.


"Ya paling tidak aku harus mematahkan kaki atau tangannya." batin Bara.


Melihat seringai kejam di bibir Bara.Tubuh Kevin mulai menggigil. Keberaniannya beberapa saat yang lalu seolah - olah lenyap di telan rasa takut.


"L... Lepaskan aku. Aku mohon. Aku tidak sengaja membunuh anakmu. Aku hanya... argghh!" Kevin menghentikkan ucapannya dan menjerit ketika kaki Bara menekan kuat perutnya.


"Kamu tidak akan pernah lepas dariku, Vin. Selamanya kamu akan menderita. Atau kalau perlu, akan aku buat hari - harimu penuh bayang - bayangan rasa bersalah dan ketakutan," tukas Bara dengan suara yang begitu sinis.


"Tidak, janngan lakukan itu. Aku tidak bersalah. Yang bersalah lebih dahulu itu, Shelvi! Dia..." lagi - lagi ucap Kevin terhenti. Kali ini Bara berjongkok dan memegang kuat rahangnya.


"Aku tahu dia bersalah. Tapi bukan berarti kamu bisa membunuhnya, Vin. Apa kamu tahu seberapa hancur perasaanku? Aku hampir gila karena kematian anakku, Shelvi!" Ujar Bara. Napasnya memburu. Rasa bencinya pada Kevin semakin meluap.


Kevin tidak menjawab, ia memilih menormalkan detak jantungnya yang memburu. Tatapan mata Kevin kini beradu dengan Bara. Keduanya sama - sama marah dan enggan untuk memalingkan wajah.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk selalu like komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2