
"Saya tidak mau! sudah cukup selama ini saya selalu menjadi bonekamu. Sekarang biarkan saya hidup tenang dengan keinginan saya sendiri!" balas Arya.
"Kamu yakin dengan keputusanmu itu, Arya? Kalau begitu kamu rela melihat ibumu menderita,hm? tanya Pandu sembari menyeringai.
Arya menggeram tertahan. Sejak dulu dan hingga saat ini, Pandu tidak pernah kalah untuk membujuknya. Arya selalu saja tidak berdaya jika sudah menyangkut tentang sang ibu. Meskipun Arya tahu, ibunya tidak akan pernah peduli dengan apa yang ia korbankan.
"Baiklah, Apa yang harus saya lakukan?"tanya Arya. Akhirnya ia menyerah. lagi - lagi ia memilih menjadi boneka hidup dari ayahnya sendiri.
"Saya dengar - dengar Kenzo Wijaya memiliki Keponakan yang akan segera datang ke indonesia jadi dekati dia kalau perlu nikahi dia secepatnya."
"Jangan gila, Yah! Saya tidak mengenalnya. jadi mana mungkin Saya bisa....."
"Gunakanlah otakmu untuk berpikir Arya! kamu tampan dan memiliki segalanya. kamu pikir wanita mana yang akan menolak jika kamu mengajak menikah?"
"Arghhh! apa tidak ada cara lain selain itu?" jawab Arya
"Tidak ada. Saya tidak mau tahu, secepatnya saya menginginkan kabar gembira darimu," balas Pandu
'Brengsek! Apa dia pikir menikah itu gampang? Astaga, apalagi saya tidak kenal sama sekali dengan keponakan Kenzo Wijaya itu' Batin Arya. ia benar - benar frustasi menghadapi Pandu yang terlalu maniak dengan kekayaan.
"Tapi tunggu, bukankah suami Kiran itu putra pertama dari Kenzo Wijaya? Astaga saya baru sadar. Kalau begitu saya pikir ini akan sedikit mudah," gumam Arya. sembari tersenyum miring.
******
"Ran....., menurutmu dia perempuan atau laki - laki? tanya Darren. Saat ini ia dan Kiran sedang berada di dalam kamar. keduanya berbaring di atas ranjang sembari berhadapan.
"Aku juga tidak tahu. Aku juga belum mengeceknya." jawab Kiran sekenanya. Matanya terlihat sayu karena sejatinya ia sudah menahan kantuk.
__ADS_1
"Kalau begitu, besok setelah kita kembali, kita ke rumah sakit ya," sambung Darren. ia tersenyum begitu manis sembari mengusap - usap perutnya Kiran.
"Hmmm, apa kamu sudah menyiapkan nama untuknya, Tuan Suami"
"Belum, Aku tidak tahu harus memberikan nama apa. Bagaimana jika mengambil nama - nama langit?" tanya Darren.
"Planet maksudmu? Ah, aku tidak mau." jawab Kiran cepat.
Darren berdehem! setelah itu dia pun berbalik memunggungi Kiran. jujur saja Darren sedikit kecewa.
Kiran pun mengernyitkan dahi karena merasa heran dengan sikap Darren yang tiba - tiba berubah. Namun, setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Kiran mengerti.
"Rupanya dia merajuk," gumam Kiran. suaranya lirih tapi masih bisa di dengar oleh Darren dengan jelas.
Kiran mencoba memanggil Darren beberapa kali. Namun, sayangnya Darren tidak menoleh. pria itu justru pura - pura tidur. Akhirnya, Kiran memutuskan untuk memberikan pelajaran sedikit kepada Darren.
"Tuan Suami, Apakah kau marah padaku?" tanya Kiran tepat di telinga Darren. Suaranya ia buat se seksi mungkin.
"Lepaskan tanganmu dariku, Ran!" kata Darren. ia mencekal pergelangan tangan Kiran.
"Tidak akan. sebelum Tuan Suami menatapku," balas Kiran tangannya justru semakin bergerak leluasa. Bahkan kini Kiran mulai berani menyentuh bagian perut dan juga dada bidang Darren dari belakang.
Darren menggeram tertahan. ia memejamkan mata ketika sengatan penuh kenikmatan mulai berkumpul di satu titik pada tubuhnya.
"Lepaskan sekarang atau kamu akan menyesal, Ran!" ujar Darren suaranya berubah parau karena siraman gairah yang membakar jiwanya.
"Aku tidak mungkin, aaa.....!" Kiran menjerit, jantungnya berdetak dengan kencang karena terkejut ketika Darren berbalik dan mendorongnya pelan.
__ADS_1
"Masih berani bermain - main denganku, hm? tanya Darren ia tersenyum nakal sembari mendekatkan wajahnya pada Kiran.
"T..Tadi aku hanya bercanda Tuan Suami. S..Sekarang kamu tidak marah lagi, kan? Hehe, ayo lebih baik kita tidur!" ajak Kiran dengan suara terbata - bata.
"Tidur? Oh tidak bisa begitu, Ran. Kamu harus menidurkan dulu 'adik Kecilku' ini. setelah itu kamu boleh tidur," bisik Darren.
"T..Tapi aku be..." Kiran menghentikkan ucapannya ia terdiam ketika Darren menempelkan jari telunjuk pada bibirnya.
"Aku hanya bercanda, sayang. Sekarang tidurlah! besok pagi kita harus bangun lebih awal untuk membereskan barang - barangmu." kata Darren ia mengecup kening Kiran lembut.
Kiran menghembuskan napas panjang. ia tersenyum manis dan hantinya pun merasa begitu lega.
"Tuan Suami, juga tidur ya," kata Kiran sembari berbaring disamping Darren.
"Ya, Tentu saja."
Setelahnya hening, keduanya tidak ada yang berbicara meski belum ada yang sama - sama terlelap. Cukup lama terdiam, perlahan - lahan Kiran menggenggam lembut tangan Darren.
"T..Tuan Suami, bolehkah aku memelukmu?" tanya Kiran suaranya terdengar lirih, tapi masih bisa di dengar jelas oleh Darren.
"Kamu tidak perlu meminta izin begitu, Ran. Sekarang aku adalah milikmu. Jadi kamu bebas untuk memelukku kapan saja," jawab Darren. ia berbaring menyamping kemudian merengkuh tubuh Kiran.
Kiran menganggukan kepala. ia lalu menyandarkan kepalanya pada dada bidang Darren. Setelah merasa cukup nyaman, Akhirnya Kiran pun memejamkan matanya.
Darren tersenyum lembut. Namun, justru matanya menatap sendu ke arah Kiran. Darren mengecup puncak kepala Kiran kemudian berkata, "Bertahanlah di sisiku meski nantinya akan ada banyak hal yang mungkin akan menyakitimu, I Love You, Zivanna Kirannia."
Lalu apa yang di maksud oleh Darren tentang 'Menyakitimu' ?
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa like, komen dan vote. Aku tunggu komentarnya yaahhhh hehehe.