
"Main, Main di hotel mana, hm?" Bara tersenyum sinis. Rasa sayang yang sejak dulu ia berikan kepada Shelvi, perlahan - lahan memudar terganti dengan rasa penuh kecewa.
Shelvi membulatkan matanya. Jantungnya mendadak berdetak kencang setelah mendengar ucapan Bara. Seperti seorang maling yang kepergok mencuri sesuatu, Shelvi diam dan tak berkutik. Rasa takut perlahan - lahan mulai memasuki hatinya.
"Papi ngomong apa sih? Nggak usah menuduh yang tidak - tidak. Aku cuma....."
"Cuma apa Shelvi Aurellia? Apa kamu pikir papi bodoh,ha?" tanya Bara. ia menarik pergelangan tangan Shelvi kemudian menyingkap rambut panjang sang putri.
Bara memejamkan mata. Hatinya terluka ketika melihat beberapa bercak merah yang ada di leher sang putri. Kali ini, Bara benar - benar merasa gagal menjadi seorang Ayah yang baik.
"Pi, Aku......"
Plak.
Suara tamparan menggema di ruang makan. Bara yang kalap tidak mampu menahan diri untuk tidak menampar Shelvi. " Laki - laki mana yang kamu ajak bermain di hotel?"
"Pi, aku tidak...."
"Jangan bohong lagi, Shelvi! Apa kamu ingin Papi malu, ha? Ya Tuhan......., Papi mati - matian menyekolahkan dan membiayai semua kebutuhan kamu. Tapi apa balasannya? Tega sekali kamu mencoreng wajah Papi," ujar Bara. ia menggelengkan kepala pelan sembari berjalan mundur lalu bersandar di dinding. Bara lelah.
Tanpa Bara sadari, perlahan - lahan air matanya luruh membasahi pipi. Selain marah dengan Shelvi, ia juga kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak mampu melindungi Shelvi dari hal buruk.
"Pi......."
"Mulai sekarang Papi tidak akan melarang atau pun mengurusi kehidupanmu. Dengar ini baik - baik Shelvi! Jangan sekali - kali kamu meminta apapun dari Papi lagi."
Shelvi membelalakkan matanya. Karena tengah malam di buat terkejut dengan pernyataan Bara yang cukup menggores hatinya. Namun, bukan Shelvi namanya jika ia tak mampu membalas ucapan Bara.
"Papi tega bicara seperti itu, denganku? Kalau begitu baiklah. Mulai sekarang aku anggap jika aku ini adalah seorang yatim piatu. Aku tidak akan meminta apapun lagi darimu maupun Mami," balas Shelvi sambil tersenyum sinis.
"Papi benar - benar sangat kecewa padamu, Shel"
"Papi pikir aku tidak kecewa? Cih! Kalau boleh memilih aku lebih memilih bersama Om Bima dan Tante Cindy yang menjadi orang tuaku. Mereka baik tidak seperti Papi dan Mami!"
"Shelvi! Kamu...."
"Cukup Pi! Aku sudah muak berada di rumah ini. Mulai hari ini aku akan pergi. Aku tidak sudi mengijakkan kakiku lagi disini," tukas Shelvi.
__ADS_1
Deg!
Jantung Bara seolah terlepas dari rongga dadanya. Air mata reflek turun dan membasahi pipinya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Bara tak mampu menahan diri. ia menangis sembari menatap kepergian Shelvi.
"Entah apa yang akan kamu alami nantinya, Shel. Papi harap kamu tidak pernah menyesal,"
*****
Sementara di sisi lain saat ini Kiran sedang berbaring dengan perasaan penuh gelisah. ia menatap langit - langit kamar sembari merasakan pegal di punggung dan juga pinggangnya.
Berakali - kali Kiran pindah posisi, tetapi hasilnya nihil. Malah, rasa pegalnya semakin menjadi - jadi.
"Kamu kenapa sih, Ran? Aku lihat dari tadi kok, kamu bergerak terus gitu," kata Darren yang baru saja keluar dari kamar mandi. Darren menatap Kiran sembari mengeringkan rambutnya yang basah karena habis keramas.
"Rasanya nggak nyaman banget, Mas? punggungku rasanya pegal," jawab Kiran sambil beranjak duduk. Setelah itu, ia pun berjalan menuju lemari untuk mengambilkan baju Darren.
"Mau aku pijat lagi? Atau perlu Aku panggilkan dokter kesini?" tanya Darren ia mendekati Kiran yang tengah memilih pakaiannya.
"Nggak usah kamu pasti lelah. Aku juga nggak perlu ke dokter," kata Kiran ia tersenyum manis sembari menyerahkan satu set pakaian untuk Darren.
"Tapi wajahmu kelihatan pucat gitu, Ran. Kamu yakin nggak mau aku panggilkan dokter, hmm?" tanya Darren lagi. ia semakin mendekati Kiran sehingga tubuh polosnya yang hanya tertutup dari pinggang sampai lutut, terpampang nyata.
'Ya Tuhan, Tidak bertemu dengannya beberapa bulan. Kenapa suamiku justru semakin menggoda? Apa aku boleh menyentunya sekarang,' batin Kiran rasanya ia begitu gemas dan ingin sekali memakan 'Roti Sobek' Darren.
"Ran? kok malah ngelamun?" Darren melambaikan tangannya di depan Kiran. Darren merasa heran karena Kiran tiba - tiba diam sembari menatap lapar ke arah tubuhnya.
"E...Eh aku nggak ngelamun, Mas. Cuaca semakin dingin, cepatlah pakai baju," balas Kiran. Akhirnya ia menyerah Karena tidak memiliki banyak keberanian untuk menyentuh Darren. Sembari menunggu Darren berpakaian. Kiran duduk di tepi ranjang sembari membaca sebuah novel. Namun, sayangnya ia tidak bisa fokus karena terbayang - terbayang tubuh Darren.
"Sepertinya Aku sudah gila. Astaga, tahan Kiran," gumam Kiran sembari memejamkan matanya.
"Ran, malam ini aku mau keluar sebentar boleh, kan?" tanya Darren duduk di samping Kiran.
"Mau kemana, Mas?"
"Mau bertemu teman sebentar. Aku janji tidak akan lama. Lagi pula aku hanya ingin menyelesaikkan sesuatu saja," jawab Darren. Tangannya terangkat lalu mengusap - usap perut Kiran.
"Kalau aku bilang nggak boleh pergi gimana?"
__ADS_1
"Nggak boleh? Kalau begitu aku tidak akan pergi,"
"Kalau begitu jangan pergi. Temani aku dulu yah. R...Rasanya aku masih merindukanmu," ujar Kiran sembari menyandarkan kepalanya pada pundak Darren.
Kiran tersenyum lembut. Matanya terpejam sedangkan tangannya mulai bergerak nakal menyentuh perut Darren dari luar baju.
"Jangan menyentuhnya begitu, Sayang! Nanti ada yang bangun," kata Darren. ia mendesis geli ketika tangan Kiran mengelus perutnya.
"Memangnya siapa yang bangun, Mas? Aku suka sama perut kamu ini," balas Kiran. Alih - alih berhenti, Kiran justru menyingkap baju Darren hingga sebatas dada.
Mata Kiran berbinar - binar melihat perut Sixpack Darren. Sedangkan Darren? ia menelan salivanya susah payah ketika merasakan tangan Kiran semakin menari - nari di perutnya.
"Sayang jangan mancing - mancing," bisik Darren. Rasa - rasanya ia tidak kuat menahan serangan Kiran yang begitu tiba - tiba.
"Aku tidak mancing - mancing, Mas. Aku, kan hanya ingin mengusap perutmu. itu saja."
Cukup sudah Darren sudah tidak mampu menahan rasa panas di sekujur tubuhnya. Darren mencekal pergelangan tangan Kiran dan menatapnya lekat.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan yang sempat tertunda tadi? Aku pikir kamu juga menginginkannya, kata Darren,"
Tanpa menunggu jawaban dari Kiran, Darren menekan tengkuk Kiran kemudian ******* bibirnya dengan lembut. Darren menggeram tertahan, rasanya ia tidak mampu menahan dirinya lebih lama lagi.
Kiran pun tidak tinggal diam. ia membalas ******* bibir Darren dengan tak kalah panasnya.
Setelah merasa cukup puas, Darren menjauhkan wajahnya. Kini, tangannya beralih pada baju tidur yang di kenakan oleh Kiran.
Mata Darren semakin menggelap ketika melihat sesuatu yang tersembunyi di balik baju Kiran. "Boleh aku melakukannya sekarang, Ran?" bisik Darren dengan tangan yang sudah memilin puncak Kiran yang sudah tegang.
Kiran menganggukan kepala. " Lakukanlah, Mas,"
Setelah mendapatkan izin dari Kiran. Darren semakin tidak mampu menahan diri. ia melepaskan satu persatu - satu pakaian yang masih terpasang di tubuh Kiran."
"Aku sangat mencintaimu, Zivanna Kirannia," bisik Darren sambil meraup kembali bibir Kiran dengan panas dan mesra.
"Aku juga mencintaimu, Mas," balas Kiran lirih.
Di Skip dulu yaaaa hehe~
__ADS_1
Jangan lupa, like komen dan vote. Di tunggu komentarnya Ya...Ya..Ya!!!