Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Tawaran Bima


__ADS_3

"Om jangan membuat masalah disini!" Darren kembali menatap Bima. Ia terlanjur muak dengan Bima dan keluarganya.


"Harus berapa kali Om katakan, Darren? Om dan Kevin kesini hanya ingin menjenguk istri dan juga anakmu. Selain itu saya juga ingin berbicara serius denganmu," ujar Bima. Ia menghela napas pelan lalu duduk di sebuah kursi.


Darren dan Daniel menatap waspada ke arah Kevin dan juga Bima. Keduanya takut jika sewaktu - waktu Kevin dan Ayahnya akan melakukan tindakan jahat.


"Kalau begitu cepat bicara dan segera pergi dari sini!" perintah Darren. Ia mendekati Bima sembari menatap tajam kearahnya.


Bima dan Kevin tersenyum miring mereka berdua menatap ke arah Daniel. "Papahku tidak bisa berbicara di depan orang asing. Jadi suruh dia keluar dari sini," ucap Kevin. sambil memandang remeh ke arah Daniel.


"Tidak bisa begitu! Kalian pasti ingin berbuat macam - macam pada Kiran dan juga Kak Darren, kan?" tuding Daniel. Matanya berkilat penuh amarah karena di sebut sebagai orang asing.


"Jangan memfitnah! Cepat keluar atau aku tidak akan pergi dari ruangan ini," balas Bima. Ia menatap jengkel ke arah Daniel.


"Aku tidak a....." ucapan Daniel terhenti saat Darren menatapnya. Daniel menghembuskan napas pelan saat melihat Kakaknya menggeleng perlahan.


"Kamu tunggu disini, Niel. Awasi Kiran dan juga Arka. Biar aku yang akan keluar," ucap Darren sambil menatap malas ke arah Kevin dan berkata, "Dan Kau Kevin jagan menatap istriku dengan penuh nafsu seperti itu. Lebih baik kau juga keluar dari ruang rawat Kiran!"


"Keputusan yang bagus. Kalau begitu ayo! Om dan juga Kevin sudah muak berada di ruangan yang sama dengan orang asing itu!" ucap Bima memandang ke arah Daniel.


"Siapa yang kau sebut dengan orang asing, ha?! Brengsek! Kalau bukan karena pertolongan orang tuaku, hidupmu pasti masih menderita!" sentak Daniel. Emosinya meluap saat di sebut orang asing oleh Kevin dan Bima.


"Oh ya? Apa menurutmu begitu, hm? Kalau begitu baiklah, besok katakan kepada kedua orang tuamu. Aku akan membayar semua bantuan yang pernah mereka berikan padaku," balas Bima dengan angkuh. Ia bersedekap kemudian berjalan santai meninggalkan ruang rawat inap Kiran.


Setelah Bima dan Kevin tidak terlihat. Daniel bergegas mendekati Darren. Tatapan matanya begitu serius saat beradu pandang dengan Darren.


"Kamu yakin ingin berbicara dengannya, Kak Darren? Aku ragu mereka datang kesini untuk menjenguk Kiran," kata Daniel.


"Tidak ada salahnya aku berbicara dengannya, Kan? Siapa tahu mereka ingin meminta maaf," balas Darren ia menepuk pundak Daniel pelan.


"Tapi, Kak Darren....."

__ADS_1


"Sudahlah, kamu jangan memikirkan hal yang tidak - tidak. Sekarang aku pergi dulu. Kamu jaga Kiran dan juga Arka. Kalau ada apa - apa segera hubungi aku!"


Daniel tidak punya pilihan selain membiarkan Darren berlalu pergi. Ia menghembuskan napas panjang dan berharap agar Kevin dan Ayahnya tidak melakukan hal buruk kepada Darren.


Melihat Daniel menganggukan kepala, Darren tersenyum tipis. Setelah itu, ia pun berniat pergi meninggalkan ruang rawat inap Kiran. Namun, langkahnya terhenti saat ia merasakan ada seseorang yang mencekal pergelangan tangannya. Darren menoleh, ia tersenyum tipis saat melihat Kiran yang tengah menahannya.


"Apa yang dikatakan Daniel benar, Mas. Aku tahu dia orang tua sahabatmu. Tapi aku takut dia akan berbuat bu...." ucapan Kiran terputus. Ia tersentak kaget ketika Darren tiba - tiba memeluknya.


"Jangan mengkhawatirkan apapun, Ran. Semua akan baik - baik saja. Lebih baik sekarang kamu istirahat saja ya." ujar Darren. Ia mengecup puncak kepala Kiran dengan penuh kasih sayang.


"Tapi, Mas. aku mengkhawatirkan kamu. Bagaimana kalau ternyata mereka sudah menyiapkan jebakan?" tanya Kiran sambil mendongak dan menatap wajah Darren.


"Kamu terlalu banyak menonton sinetron. Sudah ya, aku keluar sebentar. Aku janji tidak akan lama," kata Darren. Ia mengecup dahi Kiran singkat kemudian melepas pelukannya.


Kiran tersenyum masam. Padahal ia masih merindukan pelukkan hangat Darren. Namun, Darren justru meninggalkannya.


"Huft! Aku harap tidak ada hal buruk yang akan menimpa keluargaku lagi,"


Kiran duduk kembali di brankar. Tatapan matanya beralih pada Arka yang tampak menggeliat. Kiran terkekeh lalu mendekati Arka.


"Ran, Katanya Arya akan datang? menjengukmu," ujar Daniel setelah beberapa saat ia diam sembari menatap Kiran yang sedang menimang Arka.


"Oh ya? Dia pasti senang melihat Arka. Ngomong - ngomong kapan dia akan sampai?"


"Mungkin satu atau dua hari lagi. Tapi aku rasa Kak Darren tidak akan mengizinkannya untuk bertemu denganmu, Ran" ujar Daniel.


"Kakakmu memang sangat pencemburu, Niel. Dia memang menjengkelkan," balas Kiran.


"Tapi kamu mencintainya, Kan?" tanya Daniel sambil menaik turunkan alisnya.


Kiran tersipu malu. Ia mengalihkan pandanganya dari Daniel.

__ADS_1


"T..Tentu saja aku sangat mencintainya," balas Kiran.


****


"Ada apa?" tanya Darren saat sedang berhadapan dengan Bima. Dan tak melihat kehadiran Kevin.


Bima tak kunjung menjawab. Ia justru menatap sekeliling taman rumah sakit yang cukup ramai meski matahari bersinar cukup terik. Bima menghela napas pelan. Karena Kevin sudah di pastikan tidak berada di taman dan sudah pulang ke rumah sesuai perintahnya. Setelahnya ia pun duduk di sebuah kursi.


"Sama seperti Kenzo, ternyata kamu juga tidak suka berbasa - basi ya?"


"Katakan saja Om! Sebenarnya ada apa?" tanya Darren. Ia bersedekap sembari bersandar di sebuah pohon.


"Om ingin menawarkan sesuatu padamu. Dan Om harap kamu mau," ucap Bima. Kini wajahnya tampak begitu serius.


"Menawarkan apa? Cepatlah! Jangan berbasa - basi begitu! Aku tidak punya waktu untuk meladeni Om Bima terlalu lama," balas Darren ia berdecak kesal sembari mrnatap tajam ke arah Bima.


"Menawarkan sesuatu yang sangat menguntungkan untukmu,"


"Hm, katakan sekarang atau tidak sama sekali?" tanya Darren. Ia merasa muak karena Bima terus meng ulur - ulur terus ucapannya.


"Baiklah - baiklah, tapi sebelum itu duduklah! Rasanya tidak enak kalau kamu terus berdiri begitu," Kata Bima sambil menepuk bagian kursi kosong di sebelahnya.


Darren menurut, Ia duduk sambil menatap tajam ke arah depan.


"Jadi tawaran apa yang ingin Om Bima berikan untukku?"


"Lepaskan Kevin!" ujar Bima setelah cukup lama ia terdiam.


"Melepaskan? Apa maksudmu, Om? Aku bahkan tidak melakukan apapun pada Kevin tadi. Jadi apa....."


"Jangan berpura - pura tidak tahu, Darren! Om tahu kamu pasti sudah menyuruh Alex untuk segera membereskan Kevin"

__ADS_1


Kali ini Darren terdiam. Apa yang dikatakan oleh Bima memang benar adanya. Ia sudah menyuruh Om Alex untuk segera memberikan pelajaran kepada Kevin. Namun, dirinya tidak menyangka jika Bima akan dengan cepat mengetahuinya.


Jangan lupa like, komen vote dan hadiahnya...


__ADS_2