
Darren menggembuskan napas panjang. ia bersedekap sembari menatap ke arah Kiran yang sedang menyisir rambutnya. Tatapan mata Darren semakin intens ketika kiran tidak menghiraukan panggilannya.
"Ran, Tolong jangan mendiamkan aku seperti ini," ujar Darren. ia berdiri di samping Kiran kemudian berdiri di sampingnya. Darren mengangkat tangan ia hendak mengusap rambut Kiran. Namun, sebelum itu terjadi, Kiran sudah terlebih dahulu menghempaskan tangannya.
"Tidak ada yang mendiamkan kamu, mungkin kamu saja yang merasa begitu," balas Kiran ia beranjak dari duduknya dan menuju ke arah ranjang.
Kiran duduk di ranjang sembari melipat beberapa pakaiannya yang sudah di setrika rapi.
"Tapi dari tadi kamu tidak mau melihatku, Ran. Kamu marah karena aku mengajak Shelvi datang kesini, hm?" tanya Darren lagi. ia duduk di samping Kiran. Tangannya terulur membelai perut Kiran.
"Memangnya aku punya hak untuk membuatmu marah, Mas? Bukankah aku tidak boleh membantah atau pun melarang semua hal yang kamu lakukan?" Kiran tersenyum simpul. Setelahnya ia kembali fokus menata bajunya.
Darren tertegun mendengar ucapan Kiran. Hatinya berdesir menahan rasa yang tidak nyaman yang tiba - tiba menelisik hatinya. Darren tersindir dan mendadak teringat dengan surat perjanjian.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Ayolah, Ran! Kita bisa menyelesaikan ini baik - baik. Kalau kamu tidak suka Shelvi, katakan saja langsung padaku. Tapi jangan begini," balas Darren ia mengenggam tangan Kiran erat. Matanya pun menatap lekat pada kedua manik mata Kiran.
"Semuanya benar, kan? Aku memang tidak boleh ikut campur dengan semua urusanmu. Sejak awal aku hanya seorang pembantu, kan?" Kiran tersenyum sendu. Matanya memerah karena rasa sesak yang tertahankan di hatinya.
"Kiran! Beberapa kali lagi aku harus mengatakan padamu, hm? Kamu itu istriku. Aku sangat mencintaimu, Ran," ujar Darren wajahnya terlihat frustasi setelah mendengar ucapan Kiran.
"Istri apa maksudmu, Mas? Istri yang tidak kau anggap, begitu? Hah, seharusnya aku tidak boleh terlena dengan semua janjimu itu," ucap Kiran. matanya memincing, dan raut ke kekecewaan tercetak jelas dari pancaran matanya.
Darren mengacak rambutnya. ia merasa bingung dengan sikap Kiran yang tiba - tiba berubah padanya. Darren menghembuskan napas panjang. Setelah itu, ia menyentuh pundak Kiran erat.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu, hm? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas hal yang membuat kita bertengakar? Lalu kenapa? Ah, apa karena Shelvi kamu menjadi seperti ini, Ran?"
__ADS_1
Kiran tidak menjawab dan memilih menjauh dari Darren dan menata pakaiannya ke dalam lemari. Hati Kiran terlanjur kecewa karena Darren tidak membicarakan masalah Shelvi kepadanya. Kiran merasa, dirinya tak terlalu di anggap penting oleh Darren. Bahkan, saat mengambil keputusan besar seperti ini pun, Darren tidak membicarakan dengannya sama sekali.
"Kiran...., Ayolah kamu sudah dewasa kan? Seharusnya kamu paham, Shelvi sedang butuh bantuan kita. Aku tidak mungkin membiarkan dia hidup di jalanan," kata Darren tatapan matanya lurus mengarah ke arah Kiran yang sedang menghadap ke arah lemari.
"Aku tidak pernah melarangmu untuk menolong siapapun. Hanya saja tindakan mu kali ini membuatku kecewa," kata Kiran tanpa menatap ke arah Darren. ia tengah menyembunyikan air matanya yang diam - diam sudah membasahi pipinya.
"Kecewa bagaimana maksudmu? Apa jangan - jangan kamu tidak setuju jika Shelvi berada di dalam rumah ini?" tanya Darren sambil memincingkan mata sambil menatap penuh selidik ke arah Kiran.
"Kalau memang iya kenapa, Mas? Kamu keberatan? Aku memang tidak suka melihatnya di rumah ini. Aku tidak suka melihatmu tersenyum untuknya," Kata Kiran sambil berbalik. Kali ini ia tidak peduli meski Darren melihat air matanya.
Suara Kiran sedikit meninggi. Rasa kecewanya sudah terlalu besar kepada Darren.
Mendengar ucapan Kiran. Darren justru terkekeh pelan. ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. setelahnya Darren berjalan menghampiri Kiran.
"Jadi, Kamu mendiamkan aku karena cemburu, Ran? Astaga, kamu lucu se...."
"Ran, Kamu...."
"Aku mungkin tidak akan semarah ini kalau kamu bicara denganku terlebih dahulu, Mas. Kamu itu benar - benar keterlaluan," lirih Kiran sambil menundukkan kepalanya.
Darren terdiam menahan rasa marah yang tiba - tiba muncul di hatinya. Namun, karena tidak ingin membuat Kiran semakin jengkel, Darren berusaha mati - matian untuk menahannya.
"Dengarkan aku dulu, Ran! Biarkan aku berbicara sesuatu padamu," ucap Darren sembari menangkup kedua pipi Kiran. Darren tersenyum lembut lalu mengusap lembut air mata Kiran.
Kiran tidak membalas. ia lebih memilih diam sambil mengalihkan pandangannya pada Darren
__ADS_1
"Sebelumnya aku juga tidak tahu kalau akhirnya akan begini. Tadi temanku hanya bilang ada sesuatu yang cukup penting. Sungguh, aku tidak ingin menghancurkan kepercayaan yang kamu berikan,"
"Tapi seharusnya kamu tidak boleh bertindak gegabah, Mas. Bagaimana kalau Shelvi memiliki recana buruk? Bagaimana kalau dia mau merebutmu dariku?" tanya Kiran isak tangisnya kembali terdengar.
"Jangan berpikiran buruk seperti itu, Ran! Shelvi tidak akan mungkin melakukan hal - hal seperti itu. Lagi pula dia sudah meminta maaf padamu, kan?
"Apa kamu pikir dia tulus meminta maaf, Mas? Melihat matanya saja aku tahu jika dia telah menyembunyikan sesuatu," sergah Kiran. Kali ini ia menatap penuh kecewa ke arah Darren.
"Astaga...., Bukankah tadi kamu sudah memaafkan Shelvi, Ran? Lalu kenapa sekarang kamu..."
"Kenapa? Kamu terkejut melihat ku seperti ini, Mas?" tanya Kiran lagi. ia menyingkirkan tangan Darren dari pipinya.
"Aku pikir kamu wanita baik yang tulus memaafkan orang lain, Ran. Tapi ternyata kamu sudah mendendam, Ya?" Darren terkekeh pelan, Raut wajahnya berubah datar ketika beradu pandang dengan Kiran.
"Aku juga punya hati, Mas! Aku tidak suka dengan Shelvi. Aku juga tidak suka melihatmu begitu peduli dengannya. A...Aku.." Kiran menghentikkan ucapannya. ia menggeleng pelan sembari menutup wajahnya dengan tangan.
"Belajarlah untuk dewasa, Ran! Jangan hanya karena cemburu kamu membenci seseorang! Shelvi sudah meminta maaf padamu, Kan? Jadi dia tidak mungkin berbuat buruk kepada kita," ujar Darren.
"Oh ya! Kalau begitu baiklah. Terserah apa katamu saja, Mas. Aku sudah cukup lelah dengan semua ini. Sekarang lakukan apa saja yang kamu inginkan," kata Kiran sambil tersenyum penuh luka.
Deg!
Jantung Darren seolah berhenti berdetak setelah mendengar ucapan Kiran. Darren menggeleng pelan, ia sungguh tidak suka mendengar ucapan Kiran yang seolah - olah tidak mau peduli padanya.
"Sekarang kamu bebas mau melakukan apa saja. Begitu juga denganku. Tidak usah saling ikut campur," kata Kiran.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote.