Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Hampir Bertemu


__ADS_3

Darren tersenyum tipis.sepanjang perjalanan jantungnya terus berdetak kencang. Rasanya Darren sudah tidak sabar ingin ingin bertemu dengan sang pujaan hati.


"Tunggu aku, Ran! setelah ini aku janji akan memberikan kebahagiaan untukmu" lirih Darren.


Sesampainya di bandara, Darren tak mampu menyembunyikan debaran di hatinya. ia tidak sabar ingin segera menaiki pesawat dan datang ke tempat Kiran.


"Tunggu papa datang, Nak!"


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Akhirnya Darren dan Daniel sampai di sebuah kota yang mereka yakini menjadi tempat tinggal Kiran.


"Sepertinya kita terlalu gegabah Darren. Sekarang kita mau mencari kemana? Astaga, ini kota yang sangat besar" ujar Daniel. ia menyugar rambutnya ke belakang sambil menatap sekeliling bandara yang tampak ramai.


Sama halnya dengan Daniel, Darren pun tidak tahu harus mencari Kiran kemana. Namun, di tengah - tengah rasa bingungnya. Darren mendapatkan sebuah ide yang cukup membantu mereka.


"Kamu ingat ada Restoran mamah di kota ini kan? sekarang kita kesana. Ya itung - itung kita memantau karyawan disana," ujar Darren.


"Honey Sweet? tapi di daerah mana? Astaga, kenapa mamah membangun Restoran di sini sih?" ujar Daniel. ia merasa benar - benar gusar. Apalagi sedari tadi ia mengantuk dan juga lapar.


"Nggak usah norak, Niel! Aku yakin banyak yang mengenal Honey Sweet Resto," sambung Darren.


Setelahnya, merekapun memesan atau lebih tepatnya membeli sebuah mobil sebagai sarana untuk mencari keberadaan Kiran. Selesai denga urusan permobilan, Darren dan Daniel bergegas mencari tahu di mana letak cabang Restoran yang didirikan oleh Mamahnya. Sepanjang perjalanan keduanya selalu memperhatikan jalanan yang cukup ramai.


"Apa menurutmu Kiran benar - benar berada di kota ini, Niel? tanya Darren untuk mengurangi rasa cemas yang diam - diam ia rasakan.


"Sebenarnya aku juga tidak yakin, Kak Darren. tapi apa salahnya mencoba iya, kan? kalaupun tidak ada, kita bisa mencobanya di lain tempat" jawab Daniel sambil fokus mengemudi. ia tersenyum tipis menenangkan Kakaknya yang sedari tadi berwajah muram.


"Kamu benar, entah kenapa hatiku begitu yakin jika Kiran berada kota ini," kata Darren pelan dan bersandar pada kaca jendela mobil. Darren memejamkan mata perasaannya berubah menjadi campur aduk. apalagi ketika tatapan matanya tertuju pada cincin pernikahan Kiran.


Setelah perjalanan yang cukup jauh dan sedikit melelahkan Akhirnya Darren dan Daniel sampai di depan restoran besar yang bertuliskan nama HONEY SWEET.


"Wow aku tidak menyangka ternyata Restoran mama disini ramai juga" kata Daniel ia tersenyum kagum ketika mentap bangunan di depannya.


"Ngga usah malu - maluin Niel!" kata Darren sambil menarik tangan Daniel untuk segera memasuki restoran.


Sesampainya di dalam, lagi - lagi Daniel di kejutkan dengan desain interior yang terlihat klasik dan juga elegan. Daniel menatap ke sekeliling restoran, sesekali matanya mengedip nakal ke arah gadis cantik yang menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Bisakah kamu menghentikan kebiasaan burukmu itu, Niel? Aku muak melihatmu menggoda gadis asing begitu," ujar Darren. ia mendengus malas lalu memutuskan duduk di kursi yang terletak di pojok ruangan.


"Ini namanya mengagumi cipataan Tuhan, Kak. mereka sangat cantik jadi sayang jika di lewatkan begitu saja," ujar Daniel sambil terkekeh geli.


"Terserah kau saja" ucap Darren malas dan bersedekap, hingga tak lama kemudian seorang pelayan restoran datang membawakan buku menu.


"Silahkan Mas, mau pesan apa?" tanya pelayan tersebut yang memiliki name tag Shela.


"Kopi hitam dan makanan yang paling di minati disini," kata Darren tanpa menatap Shela. ia memilih sibuk memainkan ponselnya.


Berbeda dengan Darren yang memilih diam dan tidak banyak bertingkah Daniel justru menggoda Shela. ia mengedipkan sebelah matanya lalu menggengam lembut tangan Shela.


"Panggilkan managermu kesini, aku ingin berbicara dengannya," ucap Daniel


"Jangan mencari gara - gara disini,Niel!" ucap Darren sambil menatap penuh peringatan ke arah Daniel. Tatapan matanya begitu tajam. Bahkan Shela yang baru melihatnya pun mendadak takut.


"Kenapa sih, Kak Darren? Sudahlah cepat panggilkan managermu kesini! Atau kalau tidak...." Daniel sengaja menghentikan ucapannya. ia menyeringai sembari menatap nyalang ke arah Shela.


Sementara dari kejauhan, Citra yang sedang sibuk melayani pelanggan pun terkejut. ia berdecak kesal ketika melihat seorang pembeli bertindak semena - mena pada pelayan sepertinya.


"Jaga sikap Anda, Tuan! Kalau Anda tidak berniat membeli sesuatu disini, Anda bisa keluar sekarang" ujar Citra yang baru menghampiria Daniel dan juga Darren.


"Wow siapa kamu?" ia menatap penuh minat ke arah Citra.


"Anda tidak perlu tahu tentang saya, yang jelas jangan membuat keributan disini!" ujar Citra. ia berkacak pinggang sambil menatap Daniel yang menurutnya sangat menyebalkan.


"Bisakah kalian berdua berdiam? Aku kesini untuk makan, bukan untuk mendengar ocehan tak bermutu." ucap Darren sambil membuka masker dan topinya.


Melihat wajah Darren, Sontak Citra membelalakkan matanya. ia merasa begitu terkejut sekaligus bingung. Bahkan tanpa sadar mulut Citra menganga saking terkejutnya. melihat sosok Darren yang berada tepat di depannya.


"Tutup Mulutmu! Sial, sepertinya kamu tidak pernah melihat pria tampan ya" geram Daniel. ia bergidik ngeri melihat wajah Kiran.


Citra tidak membalas ucapan Daniel. ia justru berjalan mendekati Darren. " S...Suaminya Mbak Kiran ?" tanya Citra sedikit guggup.


Mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Citra. Darren yang sedari tadi sibuk memainkan ponsel reflek mendongak dan menoleh. Darren mengernyitkan dahi kemudian bertanya. "Darimana kau tahu tentang Kiran?"

__ADS_1


"A..Aku yang mengirimkan pesan melalui instagram padamu," jawab Citra gugup


"Oh.., CitraSquad?" tanya Darren untuk memastikannya.


"Ya. Syukurlah aku bertemu denganmu sekarang ada banyak hal yang ingin aku katakan kepadamu tentang Kiran," ucap Citra wajahnya begitu serius sehingga membuat Daniel pun ikut mendengarkan dengan seksama.


"Jadi dimana Kiran sekarang? kamu tahu alamat rumahnya, kan? tanya Darren. matanya berbinar, harapan yang semula meredup kini kembali bersinar terang.


"Tentu saja saat ini Kiran sedang berada di....."


****


Hari ini, Arya berniat membantu Kiran membereskan beberapa pekerjaan rumah. Hari sudah cukup siang ketika Arya datang sembari membawa sebuah buket bunga untuk Kiran.


"Seharusanya, kamu tidak perlu repot - repot begini, Mas. Tidak enak kalau di lihat orang. Takutnya mereka mengira kita memiliki hubungan." ujar Kiran sambil meletakkan buket bunga itu di atas meja.


"Loh tetanggamu memang mengira kita memiliki hubungan, Ran. Bahkan kemarin saya mendengar kalau mereka mengatakan jika saya Suamimu," ujar Arya sambil terkekeh geli.


"Benarkah?"


"Tentu saja. Mereka pikir saya adalah Suamimu yang baru saja pulang dari tempat yang jauh," jawab Arya.


Tanpa menunggu di persilahkan, Arya duduk di sofa. ia memandang Kiran yang tengah menyisir rambut sambil bercermin di kaca lemari yang ada di ruang tamu.


"Ada - Ada saja, lebih baik kita tidak usah sering bertemu Mas, Aku tidak mau kalau kamu sampai di gosipkan dekat denganku," ucap Kiran.


"Memangnya kenapa? saya tidak masalah meski banyak yang mengira begitu."


"Tapi aku tidak suka,Mas. Aku ini masih wanita beristri. Lagi pula aku hanya menganggapmu sebagai seorang Kakak." kata Kiran sambil menatap Arya.


Arya menganggukan kepalnya." Baiklah, Ayo sekarang saya bantu membersihkan halaman rumahmu. Sepertinya ada beberapa pot yang sudah rusak." kata Arya sambil beranjak dari duduknya.


Arya berjalan keluar Rumah di ikuti oleh Kiran. Keduanya lantas membersihkan rerumputan yang sudah tumbuh memanjang. sesekali Arya menggoda Kiran hingga akhirnya mereka pun tertawa. Sekilas, mereka terlihat seperti pasangan suami istri yang sedang bahagia.


Hingga tanpa mereka sadari. Dua orang pria diam - diam meperhatikan mereka dari kejauhan. Pancaran matanya penuh luka terlihat jelas dari salah satu diantara mereka.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote.


__ADS_2